Sam Goodman Bidik Sejarah Tinju Australia di Tokyo, Tantang Nishida
Baca dalam 60 detik
- Sam Goodman akan menghadapi Ryosuke Nishida untuk sabuk interim IBF kelas super bantam di Toyota Arena Tokyo, Minggu (8/9).
- Kemenangan akan menempatkan Goodman sejajar dengan Lionel Rose dan Johnny Famechon sebagai petinju Australia yang meraih gelar dunia di Jepang.
- Duel ini menjadi ujian mental bagi kedua petinju, dengan Nishida berambisi menjadi juara dunia di dua divisi berbeda di depan pendukung sendiri.

Petinju Australia Sam Goodman (22-1, 8 KO) akan menghadapi mantan juara dunia IBF kelas bantam Ryosuke Nishida (11-1, 2 KO) dalam perebutan sabuk interim IBF kelas super bantam di Toyota Arena, Tokyo, Minggu (8/9). Goodman, yang menempati peringkat kedua IBF, bertekad melupakan masa lalu dan menorehkan namanya dalam sejarah tinju Australia.
Laga ini menjadi bagian dari kartu Prime Video Boxing 16 yang juga menampilkan duel ulang perebutan gelar dunia WBC kelas bantam antara Takuma Inoue dan Tenshin Nasukawa. Bagi Goodman, kemenangan tidak hanya berarti sabuk juara, tetapi juga menempatkannya sejajar dengan legenda tinju Australia yang pernah berjaya di Jepang, seperti Lionel Rose (1968), Johnny Famechon (1970), dan Andrew Moloney.
"Saya sadar betul akan sejarah dan para petinju yang telah lebih dulu sukses di sini," ujar Goodman. "Saya ingin meniru apa yang mereka capai dan menjadi juara dunia."
Perjalanan Goodman menuju Tokyo tidak mulus. Dua luka sayat saat sparring memaksanya mundur dari dua jadwal melawan juara undisputed Naoya Inoue, sebelum kalah angka dari Nick Ball dalam perebutan gelar WBA kelas bulu tahun lalu. "Saya tidak terlalu fokus pada masa lalu. Semua naik turun itu telah membentuk saya menjadi petinju seperti sekarang. Menjadi juara dunia adalah impian lama saya dan tim. Saya yakin akan menang," tegasnya.
Goodman mengakui kehebatan lawannya, tetapi percaya diri. "Dia kidal yang licik, pukulan belakangnya bagus, dan dia petinju yang baik. Tapi saya yakin ini pertarungan yang menguntungkan saya. Saya tidak masalah dengan petinju kidal, persiapan saya sangat matang, dan saya punya lebih dari cukup untuk mengalahkannya," ujarnya.
Nishida, yang kehilangan gelar IBF kelas bantam kepada Junto Nakatani sebelum naik kelas, mengejar gelar dunia di dua divisi di hadapan pendukung sendiri. "Saya akan menang secara meyakinkan agar bisa menjadi juara dunia di dua kelas berat," kata Nishida. "Dia bagus dalam mengumpulkan poin, itu yang membuatnya sulit. Saya rasa saya tidak bisa dengan mudah mengendalikan tempo. Dia petinju yang kuat secara mental dan maju di ronde-ronde akhir, jadi bahkan jika saya memulai dengan baik, dia akan terus menekan. Saya harus memenangkan pertarungan mental itu."
Ketua Muto Promotions, Takashi Edagawa, yang datang dari Osaka melewati topan untuk menyaksikan sesi latihan terbuka Goodman, memberikan penilaian menarik. "Dagunya sepanjang Antonio Inoki. Tapi sepertinya dagunya cukup kuat," kata Edagawa. "Dari cara dia memukul mitt, dia tampak menahan diri, dan pukulannya kurang bertenaga. Saya pikir Goodman akan maju untuk merebut sabuk, tapi saya berharap besar pada Nishida."
Bagi publik Indonesia, duel ini menawarkan pelajaran tentang mentalitas juara dan persiapan matang. Meski tidak melibatkan petinju Tanah Air, pertarungan di Tokyo ini menunjukkan bagaimana petinju dari negara tetangga seperti Australia dan Jepang terus mengasah kemampuan di panggung dunia. Indonesia sendiri tengah berupaya mengembangkan tinju profesional, dengan sejumlah petinju seperti Daud Yordan dan Ongen Saknosiwi yang pernah mencicipi gelar internasional. Keberhasilan Goodman atau Nishida bisa menjadi inspirasi bagi petinju Indonesia untuk menembus level dunia, terutama dalam hal kesiapan fisik dan mental menghadapi tekanan di kandang lawan.
Dengan sabuk interim IBF dipertaruhkan, pemenang laga ini akan membuka jalan menuju duel perebutan gelar penuh, kemungkinan melawan juara saat ini atau petinju peringkat atas lainnya. Goodman, yang pernah gagal di percobaan gelar dunia sebelumnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua. Sementara Nishida, yang naik kelas demi mengejar ambisi, ingin membuktikan bahwa kekalahannya dari Nakatani hanyalah sebuah kemunduran sementara. Pertanyaannya, akankah Goodman mengukir sejarah Australia di Tokyo, atau Nishida yang memaksa pendukung tuan rumah bersorak? Jawabannya akan terungkap di atas ring.



