Eks Pelatih PSM Beberkan Tiga Kunci Timnas Indonesia Tundukkan Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Raja Isa menilai Timnas Indonesia punya modal besar sebagai tuan rumah, tetapi beban psikologis lebih berat ketimbang Singapura.
- Pelatih asal Malaysia itu menyoroti kecerdasan Gavin Lee yang membawa Singapura ke semifinal Piala AFF 2026 dan lolos Piala Asia 2027.
- Tiga syarat utama: hindari overconfidence, disiplin lini belakang, dan taktik variatif John Herdman untuk mengantisipasi serangan balik.

Jelang laga perdana FIFA ASEAN Cup 2026 antara Timnas Indonesia dan Singapura di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (25/9/2026), eks pelatih PSM Makassar Raja Isa Raja Akram Shah menilai bahwa tekanan justru lebih berat bagi tuan rumah. Menurutnya, status sebagai tuan rumah dan kualitas pemain di atas kertas tidak otomatis menjamin kemenangan atas The Lions.
Raja Isa, yang telah malang-melintang selama 17 tahun di sepak bola Indonesia, mengingatkan bahwa Singapura di bawah asuhan Gavin Lee bukan lawan yang bisa diremehkan. Pelatih berusia 36 tahun itu sukses membawa Singapura melaju hingga semifinal Piala AFF 2026 dan lolos ke Piala Asia 2027, pencapaian yang mengejutkan banyak pengamat. "Gavin Lee adalah pelatih muda yang cerdas. Dia punya banyak taktik yang membuat performa Singapura luar biasa. Dia tipe pelatih tenang dan selalu berpikir cermat," ujar Raja Isa.
Mantan pelatih PSM itu lantas merinci tiga resep agar Indonesia mampu menggulung Singapura. Pertama, tim asuhan John Herdman tidak boleh terlalu percaya diri. "Dengan segala yang dimiliki, Timnas Indonesia tak boleh overconfidence karena sepak bola sangat kompleks. Status tuan rumah dengan materi pemain bagus tak jaminan jadi tim hebat," tegasnya. Ia mencontohkan pengalaman turnamen lain di mana keunggulan di atas kertas sering kali buyar di lapangan.
Kedua, Raja Isa menyoroti pentingnya disiplin dan taktik di lini belakang. Ia tidak mempersoalkan apakah Herdman memakai tiga atau empat bek, tetapi menekankan bahwa pemain belakang harus lugas dan cerdas membaca permainan, terutama dalam mengantisipasi serangan balik Singapura. "Kuncinya, disiplin dan main taktis. Bek Timnas Indonesia harus pintar membaca permainan. Saya kira John Herdman tahu itu karena pernah dijegal Singapura di Piala AFF lalu," tuturnya.
Ketiga, Herdman dituntut memiliki taktik jitu dengan variasi permainan yang belum diketahui lawan. "John Herdman harus melihat Gavin Lee sebagai ancaman. Kalau dia masih pakai sistem sebelumnya, saya kira itu tak sulit bagi Gavin Lee dan Singapura," ucap Raja Isa. Menurutnya, kejelian dan ketepatan strategi Herdman akan menjadi kunci keberhasilan Indonesia.
"Di tangan Gavin Lee, Singapura menuju era kebangkitan lagi. Dengan materi mayoritas dari liga domestik, dia mampu meraciknya menjadi tim hebat. Singapura bermain rapi, tenang, dan terencana baik." โ Raja Isa
Raja Isa juga menyebut faktor nonteknis yang membuat Singapura tangguh: aturan wajib militer yang diterapkan pemerintah. Menurutnya, disiplin dan spirit tinggi pemain Singapura, seperti Ilhan Fandi, tidak lepas dari pengaruh tersebut. "Pemain Singapura sportif. Mereka punya disiplin dan spirit tinggi. Ini pengaruh aturan wajib militer," imbuhnya.
Di sisi lain, Indonesia tengah berupaya memulihkan kepercayaan suporter setelah serangkaian hasil kurang memuaskan, termasuk pemecatan Shin Tae-yong, kegagalan ke Piala Dunia 2026, dan performa di Piala AFF 2026. Raja Isa menilai Herdman sedang membangun kembali kecintaan fans, dan dukungan suporter di SUGBK bisa menjadi kekuatan tambahan. "Saya yakin di pertandingan nanti suporter jadi kekuatan untuk mengalahkan Singapura," katanya.
Bagi publik Indonesia, laga ini bukan sekadar ajang pembuktian di level regional, tetapi juga momentum untuk mengembalikan gairah sepak bola nasional. Kemenangan atas Singapura akan menjadi sinyal positif bahwa Tim Garuda siap bersaing di pentas yang lebih tinggi. Sebaliknya, hasil buruk bisa memperdalam keraguan terhadap arah pembinaan timnas.
Dengan segala dinamika yang ada, pertanyaan besarnya: mampukah John Herdman meramu strategi yang tepat dan menghindari jebakan overconfidence, ataukah Gavin Lee kembali membuktikan bahwa ketenangan dan kecerdasan taktik mampu menundukkan keunggulan materi? Jawabannya akan terlihat di lapangan hijau SUGBK malam nanti.



