Konsumsi Tomat Harian Terkait Penurunan Lemak Hati: Studi 6 Minggu pada Pasien MASLD
Baca dalam 60 detik
- Studi 6 minggu pada 79 orang dengan MASLD menunjukkan penurunan steatosis hepatis lebih besar pada kelompok yang makan tomat mentah dan saus tomat setiap hari dibanding kontrol.
- Para ahli mengingatkan hasil ini terbatas pada populasi tertentu dan tidak serta-merta mengubah tata laksana klinis, karena parameter lain seperti kekakuan hati dan profil lipid tidak membaik.
- Temuan ini membuka peluang riset lanjutan, namun penurunan berat badan 10% tetap menjadi intervensi paling kuat untuk perbaikan hati berlemak.

Kebiasaan mengonsumsi tomat setiap hari berpotensi menekan akumulasi lemak di hati bagi penderita penyakit hati metabolik (MASLD), demikian hasil uji klinis singkat yang dipublikasikan di jurnal Nutrients. Dalam percobaan yang melibatkan 79 orang dewasa, kelompok yang mendapat tambahan 200 gram tomat mentah dan 50 gram saus tomat per hari menunjukkan penurunan steatosis hepatis yang lebih nyata dibanding kelompok kontrol selama enam minggu.
MASLD sendiri merupakan payung diagnosis untuk beragam gangguan hati, dengan ciri utama penumpukan lemak berlebih di organ tersebut. Untuk ditegakkan, pasien juga harus memiliki minimal satu faktor risiko kardiometabolik, seperti obesitas atau hipertensi. Karena perubahan pola makan menjadi pilar utama penanganan, para peneliti mencoba menguji apakah satu jenis pangan yang lazim dalam diet Mediterania—tomat—bisa memberi efek protektif.
Dalam studi ini, partisipan dibagi menjadi dua kelompok: satu menjalani diet tanpa tomat, sementara lainnya menerima porsi tomat harian dari produsen yang sama. Seluruh responden diminta mempertahankan gaya hidup normalnya. Setelah enam minggu, penurunan lemak hati terjadi di kedua kelompok, tetapi lebih dalam pada kelompok intervensi. Namun, pengukuran lain seperti kekakuan hati, enzim hati, profil lipid, dan indeks massa tubuh tidak menunjukkan perbedaan signifikan antarkelompok.
Penulis studi menilai bahwa konsumsi tomat dapat mengurangi akumulasi lemak hati secara independen dari perubahan berat badan maupun lemak perut. Meski demikian, para ahli yang tidak terlibat mengingatkan agar hasil ini dibaca dengan hati-hati. Randa Abdelmasih, spesialis endokrinologi dan obesitas dari University of Texas Medical Branch, menyebut penurunan steatosis yang terjadi hanya moderat dan pada populasi yang sangat terseleksi—kebanyakan pasien di praktik klinis memiliki obesitas dengan BMI di atas 30, diabetes tipe 2, atau penyakit metabolik lanjut, sehingga generalisasi temuan ini terbatas.
Senada, Jonathan Jennings, internis bersertifikat dari Medical Offices of Manhattan, menyoroti kriteria inklusi yang hanya mensyaratkan satu faktor risiko kardiometabolik. Ia khawatir tidak semua faktor risiko memiliki bobot yang sama; diabetes tipe 2 misalnya lebih erat kaitannya dengan MASLD dibanding hipertensi, namun studi memperlakukan keduanya setara. Jennings juga mengingatkan bahwa perbaikan lemak hati tidak disertai perubahan bermakna pada kekakuan hati, skor fibrosis, enzim hati, resistensi insulin, penanda inflamasi, maupun komposisi tubuh—sehingga sulit menyimpulkan bahwa tomat mengubah perjalanan penyakit secara klinis.
Keterbatasan lain adalah durasi intervensi yang pendek dan desain eksploratif. Peneliti tidak mengukur kadar likopen dan karotenoid dalam darah, padahal senyawa tersebut diduga menjadi mediator efek tomat. Kombinasi tomat mentah dan saus juga menyulitkan identifikasi komponen mana yang bertanggung jawab. Karena itu, penulis menegaskan temuan ini bersifat hipotesis-generating dan butuh konfirmasi lewat riset jangka panjang dengan sampel lebih besar.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini menambah daftar manfaat sayuran yang murah dan mudah didapat. Tomat telah lama menjadi bagian dari masakan Nusantara, baik sebagai sambal, lalapan, maupun campuran sayur. Namun, para ahli mengingatkan agar tidak berlebihan menafsirkan hasil ini. Bagi penderita GERD, tomat dan produk olahannya justru dapat memicu asam lambung. Selain itu, banyak olahan tomat yang padat kalori dan berpotensi memperburuk resistensi insulin pada individu tertentu.
Abdelmasih menekankan bahwa intervensi diet harus dilihat dalam konteks penanganan penyakit metabolik secara menyeluruh. Bagi pasien obesitas, penurunan berat badan berkelanjutan sekitar 10% atau lebih masih menjadi intervensi dengan bukti terkuat untuk memperbaiki steatohepatitis dan fibrosis. “Tomat boleh menjadi bagian dari diet Mediterania yang sehat, tetapi jangan sampai mengalihkan perhatian dari terapi yang telah terbukti memberikan perbaikan bermakna pada luaran hati dan kardiometabolik,” ujarnya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah efek tomat akan bertahan dalam jangka panjang dan apakah manfaatnya dapat direplikasi pada populasi dengan spektrum penyakit yang lebih luas. Studi lanjutan dengan durasi lebih lama, kelompok partisipan yang lebih beragam, serta pengukuran biomarker spesifik akan menjadi kunci untuk menjawab apakah tomat layak dijadikan rekomendasi diet resmi bagi penderita MASLD di Indonesia.



