Auqib Nabi, Anak Guru dari Kashmir yang Menembus Timnas India
Baca dalam 60 detik
- Pemain serba bisa asal Baramulla, Auqib Nabi, menjadi kriket pertama dari Jammu dan Kashmir yang dipanggil ke skuad Test India.
- Perjalanan Auqib penuh rintangan, termasuk infrastruktur minim dan perjalanan 70 km untuk berlatih, namun kerja kerasnya membuahkan hasil.
- Pencapaian ini dipandang sebagai titik balik bagi kriket di wilayah konflik, membuka peluang bagi generasi muda setempat.

Auqib Nabi, pemain kriket berusia 29 tahun asal Jammu dan Kashmir, resmi masuk skuad India untuk seri Test melawan Sri Lanka yang dimulai 15 Agustus. Ia menggantikan Jasprit Bumrah yang cedera, sekaligus menjadi orang pertama dari wilayah tersebut yang mendapat panggilan Test. Bagi daerah yang selama ini terbelenggu konflik dan keterbatasan fasilitas, kabar ini disambut sebagai tonggak bersejarah.
Anak seorang guru sekolah di Baramulla ini harus menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer ke Srinagar hanya untuk berlatih di lapangan yang layak. Bahkan, saat mengikuti seleksi pertamanya, ia tak punya sepatu spikes. Meski demikian, dedikasinya tak pernah luntur. "Dia bangun subuh untuk ke gym, lalu berlatih sepanjang hari. Itu dilakukannya hampir setiap hari selama 10 tahun," ujar sepupunya, Bilal Ahmad Dar.
Ayah Auqib, Ghulam Nabi Dar, awalnya menginginkan anaknya menjadi dokter. Namun melihat kegigihan Auqib, ia akhirnya mendukung. "Sebagai orang tua dan guru, saya sadar tak boleh memaksanya. Saya mulai mendukung mimpinya," tuturnya. Perjuangan Auqib mulai menampakkan hasil pada 2020 saat debut di Ranji Trophy dengan lima wicket. Musim 2024-25 ia memetik 44 wicket, dan musim berikutnya 60 wicket dalam 10 pertandingan, mengantar Jammu dan Kashmir meraih gelar Ranji Trophy pertama setelah 67 tahun.
Kontrak IPL senilai 84 juta rupee (sekitar Rp16 miliar) dari Delhi Capitals menyusul, meski kesempatan bermainnya terbatas. Namun performa di kriket kelas merah sudah menarik perhatian selektor. Parvez Rasool, kapten lama Auqib dan kriket internasional pertama dari Kashmir, menilai pencapaian ini luar biasa. "Bermain Test adalah mimpi tertinggi. Melihat Auqib mewujudkannya, saya bangga. Ini mimpi kami semua yang akhirnya terwujud," katanya.
Konteks Indonesia: Kisah Auqib mengingatkan pada perjuangan atlet dari daerah terpencil di Indonesia, seperti Papua atau NTT, yang harus menembus sekat geografis dan keterbatasan sarana untuk bersinar di level nasional. Keberhasilan Auqib membuktikan bahwa bakat bisa muncul dari mana saja, asal ada kesempatan dan kerja keras. Bagi Indonesia, ini menjadi pelajaran penting tentang pemerataan pembinaan olahraga di seluruh wilayah, terutama di daerah yang selama ini kurang terperhatikan.
Rasool menambahkan, perjalanan Auqib tak hanya soal karier individu, tetapi juga simbol harapan bagi ribuan pemuda Kashmir. "Selama ini orang meragukan pemain dari daerah kami bisa menembus timnas. Auqib menjawabnya. Ini akan menginspirasi generasi baru untuk berani bermimpi," ujarnya. Wilayah yang baru memiliki dua stadion utama dengan fasilitas terbatas ini memang menghadapi tantangan besar, namun kisah Auqib membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan mutlak.
Kini, di kampung halamannya, Ghulam Nabi tak bisa lepas dari sambutan hangat warga. "Banyak yang memelukku dan berkata, 'Ini ayahnya Auqib'," katanya dengan bangga. Pertanyaannya, akankah kisah Auqib menjadi titik balik bagi pengembangan kriket di Kashmir, atau hanya secercah harapan di tengah keterbatasan yang masih membelenggu?



