Banjir di Vietnam Utara Sapu Jembatan, 400 Rumah Terisolasi: Krisis Infrastruktur di Tengah Cuaca Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras menerjang Provinsi Nghe An, Vietnam, menyebabkan Sungai Nam Non meluap dan menghanyutkan jembatan sementara di Komune My Ly, memutus akses bagi lebih dari 400 rumah tangga.
- Peristiwa ini merupakan yang kedua kalinya dalam dua tahun; jembatan pengganti yang dibangun awal 2026 dengan dana 2 miliar VND ikut menjadi korban, menyoroti kerentanan infrastruktur darurat terhadap cuaca ekstrem.
- Otoritas setempat memberlakukan penjagaan ketat dan jalur alternatif yang jauh, sementara warga diimbau waspada; insiden ini menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menghadapi risiko hidrometeorologi.

Banjir bandang yang dipicu hujan deras di Provinsi Nghe An, Vietnam utara, kembali memutus akses warga. Sebuah jembatan sementara di Komune My Ly tersapu derasnya arus Sungai Nam Non pada 8 Agustus, membuat lebih dari 400 rumah tangga di tiga desa terisolasi dari pusat komune. Peristiwa ini bukan yang pertama; pada 2025, jembatan gantung di lokasi serupa juga pernah ambruk diterjang banjir.
Ketua Komite Rakyat Komune My Ly, Luong Van Bay, mengatakan hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir menyebabkan sungai meluap dengan arus sangat deras. Air yang turun dari hulu menghantam jembatan hingga akhirnya putus dan hanyut. Jembatan yang baru dibangun awal 2026 dengan anggaran lebih dari 2 miliar dong (sekitar Rp1,3 miliar) itu sejatinya merupakan pengganti jembatan gantung yang rusak tahun lalu. Pembangunannya digarap Dinas Konstruksi Nghe An untuk mempermudah mobilitas warga menuju pusat komune.
Kini, warga Desa Yen Hoa, Nhot Lot, dan Pieng Pen harus menempuh jalur memutar yang jauh lebih panjang melalui Jalan Nasional 16, melewati kawasan Pha Chieng, turun ke Desa Hoa Ly, lalu kembali lagi. Alternatif lain adalah menyeberang dengan perahu, namun opsi ini berisiko tinggi, terutama di tengah musim hujan yang masih berlanjut. Anak-anak sekolah pun terpaksa mengambil risiko tersebut untuk tetap bersekolah.
Menanggapi situasi ini, Komando Militer Komune My Ly bersama Pos Penjaga Perbatasan, polisi setempat, dan organisasi terkait telah mendirikan pos pemeriksaan di sekitar lokasi jembatan. Rambu peringatan dipasang dan petugas disiagakan untuk mengantisipasi warga yang nekat melintas. Langkah serupa juga dilakukan di Komune Muong Tip, wilayah pegunungan lain di Nghe An, di mana hujan deras memicu tanah longsor yang menutup akses jalan menuju Desa Xop Tip. Sekretaris Komite Partai Komune Muong Tip, Vi Thi Quyen, menyebut volume tanah dan bebatuan yang meluncur cukup besar, memutus total jalur lalu lintas.
Insiden ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi Vietnam, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dalam membangun infrastruktur yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Pembangunan jembatan darurat yang cepat dan murah seringkali menjadi solusi sementara, tetapi rentan terhadap bencana susulan. Para ahli menilai bahwa investasi pada infrastruktur permanen yang lebih kokoh, serta sistem peringatan dini yang efektif, menjadi krusial untuk mengurangi dampak bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin. Dengan topografi kepulauan dan banyaknya daerah rawan banjir serta longsor, Indonesia menghadapi risiko serupa. Banyak jembatan darurat di daerah terpencil yang dibangun dengan dana terbatas, dan seringkali menjadi korban pertama saat banjir melanda. Pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa pendekatan reaktif—membangun kembali setelah bencana—tidaklah cukup. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan perubahan iklim, serta alokasi anggaran yang memadai untuk infrastruktur yang adaptif.
Pihak berwenang di Nghe An kini bergerak cepat membersihkan material longsor dan mengerahkan alat berat untuk memulihkan akses jalan. Namun, untuk jembatan di My Ly, belum ada kepastian kapan pengganti baru akan dibangun. Pertanyaannya, apakah pemerintah Vietnam akan kembali membangun jembatan sementara yang sama rapuhnya, atau justru beralih pada solusi yang lebih permanen dan tahan banting? Jawabannya akan menentukan nasib ribuan warga yang setiap harinya bergantung pada akses yang aman dan andal.



