Pelaku Penembakan Sekolah di Thailand Tonton Konten Kekerasan di Medsos Sejak Dua Tahun Lalu
Baca dalam 60 detik
- Remaja 14 tahun di Thailand diduga mempelajari penggunaan senjata api melalui media sosial sebelum menembak mati delapan orang, termasuk kakek-neneknya sendiri.
- Polisi menemukan komputer pribadi pelaku berisi tontonan kekerasan, namun belum ada bukti latihan menembak; setahun sebelumnya, guru pernah menyita senapan angin miliknya.
- Pemerintah Thailand berjanji merevisi protokol keamanan sekolah dalam tiga bulan, termasuk skrining kesehatan mental dan sistem rujukan bagi siswa berisiko.

Bangkok โ Polisi Thailand mengungkap bahwa remaja berusia 14 tahun yang menjadi pelaku penembakan di sebuah sekolah dekat ibu kota telah menonton konten kekerasan di media sosial dan mempelajari cara menggunakan senjata api dari platform tersebut. Peristiwa tragis yang terjadi pada Jumat lalu itu menewaskan delapan orang, termasuk kakek-nenek pelaku, sebelum akhirnya pelaku mengakhiri hidupnya sendiri.
Wakil Komisaris Kepolisian Regional Satu, Atthapol Anusit, mengatakan kepada wartawan bahwa berdasarkan wawancara dengan 17 saksi, pelaku telah menunjukkan minat pada penggunaan senjata api selama satu hingga dua tahun terakhir. "Dia mulai tertarik mempelajari senjata api sejak lama," ujarnya. Polisi juga menemukan pisau di dalam tas pelaku, serta barang bukti lain seperti senjata api, selongsong peluru, dan sebuah komputer pribadi di lokasi kejadian.
Setelah memeriksa komputer tersebut, polisi menyimpulkan bahwa pelaku kerap menonton konten bermuatan kekerasan di media sosial. Namun, Atthapol menegaskan belum ada bukti yang menunjukkan pelaku pernah berlatih menembak. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tahun lalu seorang guru pernah menyita senapan angin (BB gun) yang dibawa pelaku ke sekolah. Pelaku diketahui tinggal bersama kakek-neneknya selama 12 tahun setelah orang tuanya bercerai.
Insiden ini menjadi penembakan massal terburuk di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu perdebatan tentang pengendalian senjata api di negara dengan kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara. Selain korban tewas, lebih dari 20 orang dilaporkan terluka. Pemerintah Thailand melalui Kementerian Pendidikan berjanji menyusun protokol keamanan baru dalam tiga bulan ke depan, termasuk skrining kesehatan mental bagi siswa, sistem rujukan bagi mereka yang berisiko, simulasi tanggap darurat, serta upaya pencegahan perundungan dan penyelundupan barang berbahaya ke lingkungan sekolah.
Peristiwa ini menyoroti tantangan besar dalam melindungi anak-anak dari paparan konten berbahaya di era digital. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, meski tidak separah di Thailand. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan adanya peningkatan laporan kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk perundungan yang berujung pada tindakan ekstrem. Para ahli menilai bahwa pengawasan orang tua dan guru terhadap aktivitas daring anak menjadi kunci pencegahan.
Menurut psikolog anak, dr. Ratna Juwita, paparan konten kekerasan secara berulang dapat memicu perilaku agresif, terutama pada remaja yang sedang mencari jati diri. "Mereka bisa menganggap kekerasan sebagai solusi atas masalah, apalagi jika tidak ada pengawasan dari orang dewasa," ujarnya. Ia menekankan pentingnya literasi digital dan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
Pemerintah Thailand berencana menerapkan skrining kesehatan mental di sekolah-sekolah sebagai langkah awal. Namun, apakah langkah ini cukup untuk mencegah tragedi serupa? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana menyeimbangkan kebebasan berinternet dengan perlindungan anak. Di Indonesia, regulasi tentang perlindungan anak di ruang digital masih terus disempurnakan, dan kasus di Thailand ini bisa menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua menjadi sangat penting. Selain itu, platform media sosial juga perlu bertanggung jawab dalam memfilter konten kekerasan yang dapat diakses oleh anak di bawah umur. Jika tidak, tragedi seperti ini bisa terulang di negara mana pun, termasuk Indonesia.



