Singapura Lolos Semifinal Piala AFF 2026: Gavin Lee Puji Mentalitas Pemain di Hari Nasional ke-61
Baca dalam 60 detik
- Singapura memastikan tiket semifinal usai menahan imbang Indonesia 1-1, finis sebagai runner-up Grup A.
- Pelatih Gavin Lee menilai ketangguhan mental menjadi kunci di tengah tekanan, terutama setelah dua laga berat melawan Vietnam dan Indonesia.
- Indonesia harus menunggu lebih lama untuk gelar pertama, dengan pelatih John Herdman menyoroti potensi pemain muda seperti Mitch Baker.

Di tengah perayaan hari jadinya yang ke-61, skuad Singapura mempersembahkan kado manis berupa tiket semifinal Piala AFF Hyundai 2026. Hasil imbang 1-1 melawan Indonesia di Stadion Jalan Besar, Minggu (9/8), cukup mengantarkan The Lions melaju sebagai runner-up Grup A di bawah Vietnam, sekaligus menyingkirkan lawannya pada laga pamungkas.
Gol penyeimbang Ilhan Fandi pada menit ke-66 menjadi penentu. Sebelumnya, Indonesia sempat unggul lebih dulu lewat Ragnar Oratmangoen dua menit setelah turun minum. Namun, kesalahan fatal di lini belakang tim asuhan John Herdman membuat keunggulan itu sirna, dan mimpi Indonesia untuk merengkuh trofi Piala AFF pertama mereka kembali tertunda setidaknya dua tahun lagi.
Pelatih Gavin Lee tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Ia menilai perjalanan timnya di fase grup tidak mudah, terutama karena banyak pihak meragukan peluang mereka. "Saya sangat bangga dengan para pemain dan staf. Perjalanan ini tidak mudah. Bahkan sebelum turnamen dimulai, saya rasa tidak banyak yang memberi kami peluang di grup ini," ujarnya. Lee juga menekankan bahwa para pemainnya berhasil mengabaikan keputusan wasit dan kesalahan di lapangan, fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan.
Hasil ini melengkapi catatan impresif Singapura di fase grup: dua kemenangan atas Kamboja dan Timor-Leste, serta dua hasil imbang melawan Vietnam dan Indonesia. Lee menilai dua laga terakhir melawan tim kuat menjadi indikator positif kebugaran tim. "Kami mampu tampil kuat hingga akhir pertandingan. Itu pertanda bagus untuk kebugaran kolektif kami," katanya. Kini, Singapura menunggu juara Grup B di babak semifinal pekan depan.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pahit bagi Indonesia. Pelatih John Herdman, yang baru pertama kali memimpin tim di turnamen ini, mengakui anak asuhnya sudah berjuang maksimal. "Para pemain meninggalkan segalanya di lapangan. Itu sudah menggambarkan pertandingan ini. Kami memberi segalanya tapi tidak bisa mendapatkan hasil yang kami inginkan," tuturnya.
Meski gagal melaju, Herdman melihat sisi positif, terutama dari penampilan pemain muda seperti Mitch Baker yang baru berusia 19 tahun. "Dia punya banyak hal selain fisiknya. Saya sangat antusias dengan potensinya," ujar pelatih asal Inggris itu. Turnamen ini juga menjadi pembelajaran berharga bagi pemain muda lainnya untuk memahami sepak bola ASEAN, gaya permainan lawan, dan manajemen pertandingan.
Namun, Herdman juga merasa iba kepada pemain senior yang telah berkorban banyak. "Mereka sangat ingin memenangkan trofi untuk Indonesia. Sayangnya, itu tidak terjadi kali ini," katanya. Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi skuad Garuda yang berharap banyak pada turnamen ini.
Bagi Indonesia, hasil ini menjadi bahan evaluasi serius. Dengan talenta muda yang mulai bermunculan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah mereka bersaing di level tertinggi ASEAN dalam dua tahun ke depan? Sementara Singapura, dengan pengalaman dan mentalitas juara, siap menghadapi tantangan berikutnya di semifinal.



