Musim Kedua Alexander-Arnold di Real Madrid: Ujian Konsistensi di Bawah Mourinho
Baca dalam 60 detik
- Alexander-Arnold hanya tampil 35 dari 62 laga Real Madrid musim lalu, dengan dua cedera yang mengganggu ritme permainannya.
- Kedatangan Denzel Dumfries menambah persaingan ketat di pos bek kanan, sekaligus menjadi motivasi bagi Alexander-Arnold untuk membuktikan kualitasnya.
- Di bawah asuhan Jose Mourinho, Alexander-Arnold diharapkan tampil lebih konsisten dan merebut tempat di skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026.

Lebih dari setahun setelah hengkang dari Liverpool, Trent Alexander-Arnold memasuki musim keduanya di Real Madrid dengan tantangan baru: membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pilar utama di bawah pelatih ketiga, Jose Mourinho. Bek kanan berusia 27 tahun itu gagal memenuhi ekspektasi besar pada debutnya, tetapi musim ini ia bertekad menuntaskan misi yang sempat tertunda.
Real Madrid merekrut Alexander-Arnold dari Liverpool dengan biaya sekitar 10 juta euro (Rp 175 miliar) pada Juni 2025, membebaskannya setahun lebih awal dari kontraknya. Ia datang dengan reputasi sebagai salah satu bek paling serbaguna di dunia, dengan kemampuan passing, crossing, dan pengalaman dalam tekanan tinggi. Namun, musim pertamanya di Spanyol jauh dari mulus.
Dua cedera—hamstring pada September dan paha pada Desember—memaksanya absen total sekitar tiga bulan. Akibatnya, ia hanya tampil dalam 35 dari 62 pertandingan Real Madrid di semua kompetisi, dengan 27 kali menjadi starter, berbagi posisi dengan legenda klub, Dani Carvajal. Kritik terhadap kemampuan bertahannya yang kerap disorot sejak di Liverpool masih menghantuinya, meski kualitas penguasaan bolanya tak diragukan.
Musim lalu, Real Madrid gagal meraih trofi besar dan sempat ditangani Xabi Alonso serta Alvaro Arbeloa. Namun, di akhir musim, Alexander-Arnold mulai menunjukkan performa terbaiknya. Dalam pesan perpisahan musim lalu, ia berjanji kepada para pendukung, "Saya akan beristirahat dan bekerja keras selama musim panas. Saya berjanji kami akan membawa trofi kembali ke klub luar biasa ini musim depan."
Kini, di bawah arahan Jose Mourinho yang kembali menukangi Real Madrid untuk periode kedua, Alexander-Arnold mendapat pujian atas etos kerja dan fleksibilitasnya. Mourinho melihatnya sebagai bek yang berbeda dari kebanyakan full-back tradisional karena kemampuannya bergerak ke tengah dan berkontribusi dalam serangan dari lini tengah. Umpan-umpan terobosan, crossing, dan eksekusi bola matinya tetap menjadi senjata utama.
Alexander-Arnold menyambut baik kesempatan bekerja dengan pelatih yang pernah menukangi Chelsea, Manchester United, dan Tottenham itu. "Saya selalu mengagumi pelatih. Saya sudah pernah melawannya beberapa kali, dan menyenangkan bisa bekerja dengannya," ujarnya. "Latihannya intens. Prinsip dan tingkat tuntutannya sangat tinggi. Saya yakin dia akan mengajarkan banyak hal dan membantu kami memenangkan trofi tahun ini."
Persaingan di lini belakang Real Madrid memang tak pernah mudah. Kepergian Carvajal membuka ruang, tetapi kedatangan Denzel Dumfries dari Inter Milan menambah ketat persaingan. Dumfries, 30 tahun, menawarkan fisik dan soliditas bertahan. Namun, dalam laga uji coba melawan Fiorentina (2-2), Mourinho justru memainkan keduanya bersamaan—Alexander-Arnold di bek kanan dan Dumfries di posisi lebih maju. Ini menandakan fleksibilitas taktik yang mungkin diinginkan pelatih asal Portugal itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Alexander-Arnold ini menarik untuk diikuti, terutama karena ia menjadi contoh bagaimana adaptasi pemain top Eropa tidak selalu mulus. Banyak pemain Asia Tenggara yang juga berjuang menembus tim utama di liga top Eropa. Kisahnya bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan kerja keras dalam menghadapi persaingan ketat.
Musim ini menjadi ujian sejati bagi Alexander-Arnold. Konsistensi adalah kunci, dan ia punya peluang besar untuk mengamankan tempat di skuad Inggris asuhan Thomas Tuchel untuk Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, akankah ia mampu memanfaatkan momentum ini dan membuktikan bahwa dirinya layak disebut sebagai salah satu bek terbaik dunia? Atau justru persaingan dengan Dumfries akan membuat kariernya di Bernabeu semakin meredup?



