Marcos: ASEAN Harus Perkuat Persatuan dan Dialog di Tengah Ketidakpastian Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Filipina menegaskan pentingnya solidaritas ASEAN dalam menghadapi gejolak politik dan ekonomi dunia.
- Keketuaan ASEAN 2026 di bawah Filipina fokus pada ketahanan energi, pangan, dan perlindungan warga negara.
- Indonesia menekankan peran ASEAN sebagai jembatan peredam rivalitas kekuatan besar, dengan komitmen tidak memihak.

Ketua ASEAN sekaligus Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyerukan penguatan persatuan dan komitmen dialog di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global. Dalam pesan video yang diputar pada perayaan Hari ASEAN ke-59 di Jakarta, Sabtu (8/8), ia menegaskan bahwa hanya dengan menghadapi masa depan bersama, kawasan ini dapat menjaga stabilitas dan kemakmurannya.
Marcos mengingatkan bahwa ASEAN dibangun di atas keyakinan bahwa negara-negara anggotanya akan lebih aman dan sejahtera ketika bersatu. "Hari ini, kita dapat mengatakan dengan bangga bahwa ASEAN telah menepati janji itu. Bersama, kita membantu menjaga perdamaian di kawasan, memperdalam kerja sama ekonomi, dan memperluas peluang," ujarnya. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela peringatan yang juga menandai tahun pertama implementasi ASEAN Community Vision 2045.
Di bawah keketuaan Filipina tahun ini, ASEAN mengusung tema "Navigating Our Shared Future Together". Marcos menyebut fokus utama meliputi ketahanan energi, ketahanan pangan, dan keselamatan warga negara di tengah situasi di Asia Barat. Ia juga menyoroti bahwa konflik di luar Asia Tenggara dapat berdampak langsung pada stabilitas dan ekonomi kawasan, terutama ketika ASEAN menghadapi tantangan perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, dan perkembangan pesat kecerdasan buatan.
Menjelang KTT ASEAN ke-49 pada November mendatang serta transisi keketuaan ke Singapura, Marcos menyatakan optimisme terhadap kemauan kolektif ASEAN. "Kita memiliki kemitraan dan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan dan kontinuitas," katanya, menegaskan keyakinannya pada kemampuan ASEAN beradaptasi tanpa kehilangan arah.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, yang hadir dalam acara tersebut, menambahkan bahwa ASEANโdengan populasi hampir 700 juta jiwa dan ekonomi terbesar kelima di duniaโtelah memposisikan diri sebagai penggerak pertumbuhan dan stabilitas kawasan. Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh konflik dan persaingan strategis, Sugiono menilai ASEAN berperan sebagai pembangun jembatan yang mempertemukan negara-negara dengan ukuran, kepentingan, dan perspektif berbeda untuk mengelola perbedaan melalui dialog dan saling menghormati.
Pernyataan Sugiono menegaskan sikap ASEAN yang menolak menjadi arena persaingan kekuatan besar. "ASEAN tidak akan memihak. Karena pihak kami adalah, dan akan selalu menjadi, pihak rakyat kami, kesejahteraan mereka, keamanan mereka, dan masa depan mereka," tegasnya. Sikap ini, menurut Sugiono, membuktikan bahwa persatuan tetap mungkin dijaga meski ada perbedaan pandangan di antara anggota.
Bagi Indonesia, pesan ini relevan mengingat posisinya sebagai salah satu pendiri ASEAN dan pemain kunci di kawasan. Ketahanan energi dan pangan yang menjadi prioritas keketuaan Filipina sejalan dengan agenda domestik Indonesia, terutama dalam menghadapi gejolak harga pangan dan transisi energi. Selain itu, penolakan ASEAN terhadap politik blok memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjalin hubungan dagang dan investasi dengan berbagai kekuatan global tanpa terjebak dalam persaingan yang merugikan.
Namun, tantangan nyata masih membayangi. Ketegangan di Laut China Selatan, krisis Myanmar, dan dampak ekonomi dari perang dagang antarnegara besar menjadi ujian bagi kohesi ASEAN. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah ASEAN mempertahankan relevansinya sebagai institusi yang netral dan efektif, atau justru akan tergerus oleh kepentingan nasional masing-masing anggota? Jawabannya akan menentukan apakah kawasan ini tetap menjadi oasis stabilitas di tengah dunia yang semakin tidak menentu.



