FIFA Lawan Kampanye Penggulingan Infantino: Konflik Eropa vs Dukungan Global
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengecam keras upaya sistematis yang dinilai melemahkan presidennya, Gianni Infantino, di tengah laporan media Inggris tentang dugaan hubungan pribadi.
- UEFA dan federasi Eropa kehilangan kepercayaan, bahkan mengancam boikot, sementara blok Afrika, Amerika Selatan, dan Meksiko justru solid mendukung Infantino.
- Pertarungan ini berpotensi memecah belah tata kelola sepak bola dunia, dengan Indonesia sebagai salah satu dari 211 anggota yang akan menentukan arah kepemimpinan FIFA.

FIFA secara terbuka menyerang balik apa yang disebutnya sebagai "upaya terkoordinasi dan berkelanjutan" untuk melemahkan organisasi serta posisi presidennya, Gianni Infantino. Sikap defensif ini muncul setelah The Daily Telegraph memublikasikan laporan yang mengaitkan Infantino dengan pembayaran pesangon kepada seorang perempuan yang diduga kekasihnya, yang dilakukan UEFA saat ia menjabat sekretaris jenderal. FIFA menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan merupakan bagian dari kampanye disinformasi.
Ketegangan ini bukan sekadar gosip personal; ia mencerminkan perpecahan mendalam dalam tata kelola sepak bola global. Sumber utama konflik adalah rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) yang gagal, sebuah inisiatif untuk membentuk perusahaan baru yang mengelola hak komersial dan tiket, dengan 21% sahamnya ditawarkan kepada investor swasta. UEFA dan sejumlah federasi Eropa menilai langkah ini sebagai pengkhianatan terhadap transparansi dan tata kelola yang baik, sehingga mereka secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan pada Infantino.
Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, bahkan secara eksplisit menyerukan pengunduran diri Infantino. UEFA sendiri masih menyimpan ancaman boikot terhadap ajang FIFA, dengan syarat-syarat tertentu yang belum dipenuhi. Namun, respons FIFA justru menegaskan legitimasi Infantino sebagai presiden yang dipilih secara demokratis oleh 211 asosiasi anggota, dan menuduh pihak-pihak tertentu mencoba mencapai tujuan melalui tuduhan dan fitnah, bukan melalui proses demokratis yang ada.
Menariknya, oposisi terhadap Infantino nyaris seluruhnya berasal dari Eropa. Di luar benua itu, dukungan justru mengalir deras. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dengan 54 negara anggotanya memberikan dukungan bulat, begitu pula Conmebol dari Amerika Selatan. Yang mengejutkan, Federasi Sepak Bola Meksiko memilih memisahkan diri dari sikap Concacaf, konfederasi regionalnya, dan secara terang-terangan mendukung Infantino. Mereka menegaskan bahwa upaya menjatuhkan Infantino tanpa melibatkan suara seluruh anggota FIFA adalah tindakan yang tidak sah.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar tontonan politik sepak bola internasional. Sebagai salah satu dari 211 anggota FIFA, PSSI memiliki hak suara yang sama dalam menentukan arah organisasi. Konflik ini juga berpotensi memengaruhi alokasi dana pembangunan sepak bola, termasuk program-program yang selama ini dinikmati negara berkembang seperti Indonesia. Jika Eropa benar-benar memboikot, dampaknya bisa terasa pada jadwal kompetisi internasional dan peluang pengembangan pemain muda Indonesia di kancah global.
Analis sepak bola menilai bahwa langkah FIFA yang defensif ini justru bisa memperkuat posisi Infantino di mata negara-negara non-Eropa, yang selama ini merasa terpinggirkan oleh dominasi Eropa dalam pengambilan keputusan. Namun, risiko terbesar adalah terpecahnya sepak bola dunia menjadi dua kubu: Eropa yang reformis versus blok global yang konservatif. Pertanyaannya, akankah FIFA mampu menjembatani perbedaan ini tanpa mengorbankan kredibilitasnya? Atau justru krisis ini akan menjadi pemicu perubahan besar dalam tata kelola sepak bola internasional, yang ujungnya bisa dirasakan hingga ke lapangan-lapangan di Indonesia?



