Banjir Besar Landa Filipina: 6 Tewas, 110.000 Keluarga Mengungsi Akibat Hujan Monsun
Baca dalam 60 detik
- Hujan monsun barat daya yang diperkuat Topan Dolphin memicu banjir dan tanah longsor di Luzon, menewaskan sedikitnya enam orang.
- Lebih dari 110.000 keluarga terpaksa mengungsi, dengan 182 wilayah terdampak banjir di Luzon Utara, Metro Manila, Calabarzon, dan Mimaropa.
- Pemerintah Filipina mengerahkan polisi dan bantuan senilai 7,4 juta peso, sementara hujan deras diperkirakan berlanjut hingga Selasa (11/8).

Hujan deras yang dipicu monsun barat daya atau yang dikenal sebagai habagat terus mengguyur sebagian besar wilayah Filipina, memaksa lebih dari 110.000 keluarga mengungsi dan menewaskan sedikitnya enam orang di Pulau Luzon. Badan meteorologi setempat, PAGASA, pada Minggu (9/8) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah provinsi, sementara Topan Dolphin turut memperkuat curah hujan.
Menurut laporan National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC), enam korban jiwa tercatat hingga Minggu pagi, masing-masing dua orang di Region 1 (Ilocos), Cordillera Administrative Region (CAR), dan Calabarzon. Sementara itu, Office of Civil Defense (OCD) mencatat 182 area di Luzon Utara, Metro Manila, Calabarzon, dan Mimaropa terendam banjir akibat hujan yang tak kunjung reda sejak Sabtu (8/8).
PAGASA memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga deras akan terus berlangsung hingga Selasa (11/8) di sebagian besar Luzon, Visayas Tengah, dan Negros Island Region. Provinsi Ilocos Sur dan Benguet diperkirakan mengalami hujan sangat deras, sementara Metro Manila, Rizal, Cavite, Batangas, dan Occidental Mindoro berpotensi diterpa hujan lebat hingga ekstrem. Kondisi ini memaksa pemerintah setempat untuk menyiagakan personel dan logistik secara maksimal.
Kepala Kepolisian Filipina (PNP), Jenderal Jose Melencio Nartatez Jr., telah memerintahkan pengerahan tambahan personel dan sumber daya untuk membantu pemerintah daerah dalam operasi evakuasi dan penyelamatan. "Kami memantau dan merespons secara real-time bersama pemerintah daerah dan layanan garis depan. Kami menyediakan sebanyak mungkin personel dan sumber daya untuk evakuasi dan tanggap bencana," ujarnya, sembari mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Pola monsun yang semakin tidak menentu, seperti yang terjadi di Filipina, juga berpotensi mempengaruhi dinamika cuaca di wilayah Indonesia, terutama di bagian barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan ekstrem yang dipicu fenomena serupa, mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di antara dua samudra dan dua benua.
Para ahli meteorologi menilai bahwa penguatan monsun oleh topan di luar area tanggung jawab Filipina menunjukkan kompleksitas sistem cuaca regional. PAGASA melaporkan tiga sistem cuaca di luar PAR yang meskipun tidak masuk, tetap mempengaruhi intensitas hujan. Hal ini menegaskan pentingnya kerja sama regional dalam pemantauan dan pertukaran data cuaca untuk mitigasi bencana yang lebih efektif.
Ke depan, pemerintah Filipina dihadapkan pada tantangan besar dalam rehabilitasi dan pemulihan pascabencana. Dengan perkiraan hujan yang masih akan berlanjut, pertanyaan krusial muncul: apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan banjir di kawasan ini mampu beradaptasi dengan intensitas cuaca yang semakin ekstrem? Jawabannya akan menentukan kesiapan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.



