Jejak Revolusi Fisik: Bupati Bogor Jemput Bendera Pusaka 1948 dari Malasari
Baca dalam 60 detik
- Bupati Bogor Rudy Susmanto memulai rangkaian HUT ke-81 RI dengan mengambil bendera bersejarah dari bekas kantor bupati di Malasari.
- Bendera tersebut adalah simbol pertama pengakuan pusat terhadap pemerintahan Kabupaten Bogor di tengah Agresi Militer Belanda II.
- Langkah ini diharapkan merekatkan kebersamaan warga sekaligus menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, memulai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan sebuah ritual yang sarat makna: menjemput bendera pusaka tahun 1948 dari sebuah pendopo bersejarah di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Jawa Barat, pada Minggu (10/8). Bendera merah putih itu bukan sekadar kain tua; ia adalah saksi bisu ketika Kabupaten Bogor harus berpindah-pindah pusat pemerintahan di tengah hiruk-pikuk revolusi fisik.
Penjemputan ini dilakukan dari rumah sejarah yang dulunya menjadi kantor Bupati Bogor pada masa kepemimpinan Raden Ipik Gandamana (1948–1950). Ketika Agresi Militer Belanda II memaksa pemerintah kabupaten mengungsi, Malasari—yang terletak di kawasan perbukitan—dipilih sebagai pusat pemerintahan sipil selama sekitar lima bulan. Dari tempat inilah Ipik Gandamana menjalankan roda pemerintahan, termasuk mengangkat lurah di 16 desa pada 16 Februari 1949.
Bendera yang dijemput ini merupakan bendera pertama yang dikirim langsung oleh Pemerintah Pusat RI kepada Pemerintah Kabupaten Bogor pada 1948. Bagi Rudy, momen ini bukan sekadar seremoni tahunan. "Dalam momentum yang sangat bersejarah buat Kabupaten Bogor, kita berdiri bersama-sama di tempat yang sangat terhormat dan tempat yang sakral buat berdirinya Kabupaten Bogor, buat perjuangan bangsa Indonesia," ujarnya di hadapan warga dan jajaran pemerintah setempat.
Lebih jauh, Rudy menegaskan bahwa menjemput bendera pusaka berarti menjemput semangat juang para pendahulu. "Satu bendera dijemput, maka kita menjemput sebuah semangat perjuangan para pahlawan. Kita menjemput sebuah keikhlasan pengabdian para pahlawan mengabdi kepada bangsa dan negara ini," katanya. Ia berharap nilai-nilai itu terus hidup di tengah masyarakat, terutama generasi muda yang kini menikmati kemerdekaan tanpa harus berperang.
Konteks historis ini penting bagi warga Bogor dan Indonesia secara luas. Di tengah arus modernisasi, banyak generasi muda yang mungkin tidak lagi mengenal perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Rudy menekankan bahwa mengenalkan sejarah seperti ini adalah bagian dari upaya mengisi kemerdekaan. "Kita sebagai penerusnya wajib turut serta bersama-sama mengisi kemerdekaan," tegasnya.
Tak hanya soal sejarah, momen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat persatuan. Rudy berharap penjemputan bendera pusaka menjadi momentum kebersamaan di tengah perbedaan yang ada di Kabupaten Bogor. "Mudah-mudahan momentum hari ini kita menjemput bendera pusaka yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Bogor menjadi momentum kebersamaan kita merajut perbedaan-perbedaan yang ada di Kabupaten Bogor dengan satu tujuan, membangun bangsa Indonesia, membangun Bogor bersama-sama," ujarnya.
Langkah Bupati ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali narasi sejarah lokal sebagai bagian dari pendidikan kebangsaan. Namun, pertanyaan yang menggantung: apakah ritual seremonial seperti ini akan cukup efektif menanamkan nasionalisme di tengah gempuran budaya digital? Atau justru perlu diikuti dengan program berkelanjutan yang melibatkan generasi muda secara aktif? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi inisiatif ini setidaknya membuka ruang refleksi kolektif tentang arti kemerdekaan.



