ASEAN di Persimpangan: Kohesi Internal Kunci Pertahankan Relevansi di Tengah Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- Perayaan 59 tahun ASEAN menegaskan bahwa tantangan utama blok bukan lagi pembuktian eksistensi, melainkan penguatan integrasi internal.
- Konflik AS-Iran dan sengketa Laut China Selatan mendorong ASEAN untuk menerjemahkan pengaruh diplomatik menjadi kerja sama konkret.
- Dengan Visi Komunitas ASEAN 2045, blok ini harus menyelesaikan krisis Myanmar dan kejahatan siber agar tetap relevan di kawasan.

Genap 59 tahun berdiri, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) kini berdiri di persimpangan yang menentukan. Bukan lagi soal pembuktian relevansi, melainkan bagaimana blok yang menaungi 700 juta penduduk ini mampu memperkuat kohesi internal di tengah lanskap geopolitik yang kian kompetitif. Momentum ini menjadi ujian nyata bagi ASEAN untuk mewujudkan Visi Komunitas 2045 yang telah dicanangkan.
Para analis menilai bahwa persaingan Amerika Serikat dan China yang semakin tajam, ditambah konflik di Laut China Selatan yang terus memanas, telah menempatkan ASEAN pada posisi yang rumit. Di sisi lain, perang AS-Iran dan gejolak di Asia Barat membawa dampak langsung pada ketahanan energi dan rantai pasok global, yang juga dirasakan negara-negara anggota. Situasi ini menuntut ASEAN untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor yang mampu menjaga stabilitas kawasan.
Direktur Institute of International and ASEAN Studies (IINTAS) Universitas Islam Internasional Malaysia, Prof. Dr. Phar Kim Beng, menggarisbawahi bahwa masa depan ASEAN tidak semata bergantung pada pengakuan mitra eksternal. Lebih krusial lagi, negara-negara anggota harus mampu menutup barisan dan memperkuat sentralitas dari dalam. "Idealnya, negara anggota sendiri yang harus menegaskan bahwa ASEAN selalu menjadi aktor sentral dan penting sebagai sebuah kelompok," ujarnya. Ia juga menekankan perlunya peningkatan mobilitas tenaga kerja, konektivitas digital, dan kerja sama antar-pemerintah.
Senada dengan itu, Dr. Rahul Mishra dari Centre for Indo-Pacific Studies, Jawaharlal Nehru University, menilai ASEAN perlu bergerak melampaui sekadar dialog dan niat baik. "ASEAN harus fokus menerjemahkan janji-janjinya menjadi aksi nyata, terutama dalam domain keamanan intra-kawasan, konektivitas fisik dan digital, integrasi ekonomi, serta penyelesaian sengketa," tegasnya. Ia juga menyoroti krisis Myanmar dan ancaman penipuan siber yang harus ditangani secara lebih tegas dan terkoordinasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki arti strategis. Sebagai salah satu pendiri dan negara dengan populasi terbesar, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam memastikan ASEAN tetap solid. Ketegangan di Laut China Selatan yang beririsan dengan wilayah Natuna menuntut Indonesia untuk memainkan peran diplomasi yang cermat. Di sisi lain, komitmen terhadap Visi 2045 harus diwujudkan dalam kebijakan yang konkret, seperti penguatan konektivitas digital dan integrasi ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Perluasan keterlibatan eksternal ASEAN, termasuk peningkatan status Turkiye menjadi mitra dialog penuh, menunjukkan daya tarik blok ini. Namun, langkah tersebut harus diimbangi dengan penyelesaian masalah internal. Krisis Myanmar yang tak kunjung usai dan maraknya penipuan siber menjadi ujian kredibilitas ASEAN. Tanpa penanganan yang tegas, sulit bagi ASEAN untuk mempertahankan peran sentralnya dalam arsitektur keamanan regional.
Pertanyaannya, akankah ASEAN mampu bertransformasi dari sekadar forum dialog menjadi komunitas yang benar-benar terintegrasi? Atau justru akan tergerus oleh kepentingan nasional masing-masing anggota? Jawabannya akan menentukan apakah ASEAN tetap menjadi poros stabilitas di kawasan atau hanya menjadi saksi bisu pergeseran kekuatan global.



