Katarzyna Niewiadoma-Phinney Rebut Kaus Kuning Usai Taklukkan Mont Ventoux
Baca dalam 60 detik
- Niewiadoma-Phinney memenangi etape 7 Tour de France Femmes di puncak Mont Ventoux dan merebut kaus kuning.
- Serangan solo jarak jauh mengubah peta klasemen, unggul 15 detik dari Vollering.
- Duel dua mantan juara diprediksi memanas di etape pamungkas Nice.

Katarzyna Niewiadoma-Phinney akhirnya memecah kebuntuan. Pebalap Polandia itu tampil gemilang dengan solo ride di tanjakan legendaris Mont Ventoux pada etape ketujuh Tour de France Femmes, Jumat (7/8), sekaligus mengunci kaus kuning pemimpin klasemen. Kemenangan ini terasa istimewa karena menjadi stage win pertamanya di ajang tersebut setelah penantian panjang sejak 2024.
Etape sejauh 146,8 kilometer dari La Voulte-sur-Rhone ini menjadi ujian berat. Mont Ventoux, yang baru pertama kali masuk rute Tour de France Femmes, langsung menentukan peta persaingan. Niewiadoma-Phinney melancarkan serangan saat jarak menuju finis masih sembilan kilometer lebih. Ia berhasil meninggalkan para rivalnya satu per satu di tanjakan yang dikenal ganas itu.
"Kemenangan ini untuk banyak orang yang selalu bersama saya di jalan panjang tanpa kemenangan besar," ujar Niewiadoma-Phinney seusai balapan, dikutip Reuters. "Saya sangat lelah dan tak percaya dengan apa yang terjadi."
Persaingan di puncak klasemen berubah drastis. Niewiadoma-Phinney yang memulai hari di posisi ketiga kini memimpin dengan keunggulan 15 detik atas Demi Vollering dari Belanda yang finis kedua. Elisa Longo Borghini dari Italia melengkapi podium ketiga. Sementara Marlen Reusser dari Swiss yang sebelumnya memegang kaus kuning harus rela turun ke posisi keempat dengan selisih 39 detik.
Momen emosional tak terhindarkan. Begitu melewati garis finis, Niewiadoma-Phinney menangis haru. Di podium, ia mengenakan kaus kuning untuk pertama kalinya sejak menjadi juara umum dua tahun lalu. Yang membuatnya semakin terharu, orang tuanya diam-diam hadir menyaksikan. "Saat mulai menanjak, saya melihat ke kanan dan melihat orang tua saya. Mereka datang tanpa memberi tahu. Ayah saya menangis, dan saya berpikir, 'Saya harus membuat mereka bangga'," tuturnya.
Dengan hasil ini, persaingan menuju juara umum kian memanas. Niewiadoma-Phinney dan Vollering sama-sama pernah naik podium final sejak Tour de France Femmes digelar pertama kali pada 2022. Kini keduanya berpeluang menjadi pebalap pertama yang memenangi balapan ini dua kali. Etape kedelapan yang digelar Sabtu (8/8) akan menjadi rute terpanjang tahun ini, 171,9 kilometer dari Sisteron ke Nice. Rute yang relatif datar itu diprediksi menguntungkan pebalap sprinter, sehingga pertarungan klasemen umum kemungkinan baru tersaji pada etape terakhir di Nice, Minggu (9/8).
Bagi penggemar balap sepeda Indonesia, performa Niewiadoma-Phinney menjadi tontonan menarik. Meski belum ada pebalap Indonesia yang tampil di ajang sebesar ini, perkembangan Tour de France Femmes bisa menjadi inspirasi bagi pebalap putri Tanah Air. Ke depannya, mampukah Indonesia melahirkan pebalap yang mampu bersaing di panggung dunia? Jawabannya masih menunggu, tetapi semangat yang ditunjukkan Niewiadoma-Phinney membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengalahkan segala rintangan.



