All Blacks Menang Tapi Goyah: Ujian Berat di Cape Town Jadi Alarm bagi Tur Afrika Selatan
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan 38-21 atas Stormers diraih All Blacks lewat empat try di 15 menit akhir, menutupi performa buruk sepanjang laga.
- Stormers tanpa banyak pemain inti justru mampu menahan imbang 14-14 hingga menit ke-65, menunjukkan kerentanan lini belakang Selandia Baru.
- Tur delapan pertandingan di Afrika Selatan ini menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad asuhan Scott Robertson menjelang Rugby Championship.

Tim nasional rugby Selandia Baru, All Blacks, mengawali tur Afrika Selatan dengan kemenangan yang jauh dari meyakinkan. Menghadapi Stormers di Cape Town Stadium, Jumat (7/8) waktu setempat, mereka menang 38-21, tetapi jalannya pertandingan memperlihatkan banyak celah yang bisa dieksploitasi lawan yang lebih kuat. Empat try di 15 menit terakhir menutupi performa buruk yang nyaris membuat mereka dipermalukan tim provinsi yang kehilangan banyak pemain internasionalnya.
Sepanjang 65 menit pertama, All Blacks tampil inkonsisten. Kesalahan operan, umpan silang, dan pelanggaran beruntun membuat mereka kesulitan mencetak poin. Stormers, yang tampil tanpa sejumlah pemain kunci seperti Manie Libbok dan Damian Willemse, justru tampil berani. Mereka mampu menyamakan kedudukan 14-14 di menit ke-65, membuat pendukung tuan rumah di Cape Town sempat bermimpi akan terjadi kejutan besar. Namun, kedalaman skuad All Blacks akhirnya berbicara: empat try cepat dari Samisoni Taukei'aho (dua), Simon Parker, Rieko Ioane, Leroy Carter, dan Josh Moorby memastikan kemenangan.
Kemenangan ini memang penting secara angka, tetapi gaya permainan yang ditampilkan jauh dari standar All Blacks. Pelatih Scott Robertson, yang baru menjabat tahun ini, pasti mencatat banyak pekerjaan rumah. Lini belakang yang biasanya menjadi pembeda justru sering kehilangan bola. Beauden Barrett, yang kembali sebagai playmaker, hanya mampu mengonversi tiga dari enam try. Josh Jacomb menambah satu konversi. Sementara itu, Stormers mencetak poin lewat Deon Fourie, pemain berusia 39 tahun yang akan berulang tahun ke-40 bulan depan, dan winger Seabelo Senatla. Mereka juga mendapat hadiah penalty try di menit ke-78 setelah Warrick Gelant dijatuhkan tinggi oleh Moorby saat berlari menuju garis.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bahwa tim-tim Afrika Selatan, meski tanpa pemain bintang, tetap punya daya saing. Ini juga menjadi pengingat bahwa All Blacks tidak lagi mendominasi seperti era sebelumnya. Dengan Rugby Championship yang akan segera bergulir, performa seperti ini bisa menjadi bumerang. Lawan seperti Springboks, yang merupakan juara dunia bertahan, pasti akan memanfaatkan celah yang terlihat di lini pertahanan All Blacks.
Menurut analis rugby internasional, kemenangan ini lebih banyak ditentukan oleh kebugaran fisik dan kedalaman bangku cadangan daripada taktik. "All Blacks mengandalkan kekuatan individu untuk keluar dari tekanan, bukan pola permainan yang terstruktur," ujar seorang komentator yang mengikuti laga. Ini menjadi catatan penting bagi Robertson yang sedang membangun tim baru. Ia perlu segera menemukan formula yang tepat sebelum menghadapi lawan yang lebih tangguh.
Tur ini sendiri merupakan bagian dari persiapan menuju Piala Dunia 2027. Delapan pertandingan melawan tim-tim Afrika Selatan, termasuk dua uji coba melawan Springboks, akan menjadi ukuran sejauh mana perkembangan tim. Jika All Blacks terus tampil seperti melawan Stormers, bukan tidak mungkin mereka akan menuai hasil buruk. Pertanyaannya, mampukah Robertson memperbaiki performa tim dalam waktu singkat? Atau akankah tur ini menjadi awal dari kegagalan lain di panggung internasional?



