Kapten Siya Kolisi Kembali, Singgung Kedalaman Skuad Springboks Jelang Uji Coba Lawan Argentina
Baca dalam 60 detik
- Siya Kolisi akan kembali memperkuat Afrika Selatan setelah cedera hamstring, menandai penampilan pertamanya pada 2026.
- Kedalaman skuad Springboks menjadi sorotan utama, dengan rotasi besar-besaran yang tetap menghasilkan kemenangan di Nations Championship.
- Laga melawan Argentina di Buenos Aires menjadi ujian bagi kedua tim yang sama-sama kehilangan banyak pemain inti.

Kapten ganda juara dunia Siya Kolisi akhirnya siap kembali membela Afrika Selatan setelah absen lama akibat cedera hamstring. Ia akan tampil dalam uji coba tunggal melawan Argentina di Buenos Aires, Sabtu (8/8/2026). Kehadirannya tak hanya memperkuat lini belakang, tetapi juga menjadi simbol ketahanan tim yang telah membuktikan diri mampu tampil kompetitif meski tanpa sejumlah nama besar.
Kolisi, yang memimpin Springboks meraih gelar juara dunia 2019 dan 2023, harus menepi saat timnya menaklukkan Inggris, Skotlandia, dan Wales dalam tiga laga Nations Championship pada Juli lalu. Hebatnya, kemenangan itu diraih dengan rotasi pemain yang masif. Situasi ini, menurut Kolisi, justru menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasaโsebuah aset yang menjadi pembeda bagi Afrika Selatan di panggung internasional.
Pelatih Rassie Erasmus memang dikenal berani melakukan rotasi. Hasilnya, para pemain muda dan pelapis mendapat menit bermain berharga. Kini, dengan kembalinya Kolisi, Eben Etzebeth, Lood de Jager, dan Sacha Feinberg-Mngomezulu, skuad Springboks bertambah solid. Mereka akan menghadapi Argentina yang justru kehilangan banyak pemain intiโ13 perubahan terpaksa dilakukan karena cedera dan ketidakhadiran pemain.
Bagi Kolisi, persaingan internal adalah berkah sekaligus motivasi. Dalam jumpa pers, ia menegaskan tidak ada posisi yang aman. Setiap pemain harus membuktikan diri, dan justru di situlah kekuatan tim berada. "Tidak ada yang merasa nyaman dengan posisinya. Semua harus bermain dan membuktikan kemampuan," ujarnya. Filosofi ini membuat setiap pemain termotivasi untuk tampil maksimal, baik saat bermain maupun saat menunggu giliran.
Kolisi juga menyoroti pentingnya kontribusi pemain yang sedang cedera. Meski tidak bisa bermain, mereka tetap membantu rekan setim, memberi dukungan, dan menjaga kekompakan. "Saat cedera, kamu masih bisa memberi nilai tambah. Kamu ingin rekanmu tampil baik, sehingga saat giliranmu tiba, itu menjadi pendorong untuk merebut kembali tempatmu," jelasnya. Sikap ini mencerminkan budaya tim yang dibangun Erasmus: kebersamaan dan saling percaya.
Di sisi lain, Argentina datang dengan skuad yang jauh dari kekuatan penuh. Namun, mereka tetap memiliki pemimpin berpengalaman di lini belakang: Pablo Matera. Kolisi memuji Matera sebagai pemain luar biasa yang selalu tampil ngotot. "Dia membawa bola dengan baik, pemain yang penuh semangat. Selalu sulit melawannya," kata Kolisi. Keduanya memulai karier internasional di waktu yang hampir bersamaan, dan persaingan mereka di lapangan selalu menarik untuk disaksikan.
Menariknya, di luar lapangan, Kolisi dan Matera memiliki hubungan baik. Kolisi bahkan mengenal keluarga Matera. "Kami saling menghormati. Saya pernah bertemu anak-anaknya. Kami senang datang ke Argentina karena hubungan kami semua sangat baik," ungkapnya. Ini menunjukkan bahwa rivalitas di lapangan tidak mengurangi rasa saling menghargai antarpemain.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik untuk melihat bagaimana Afrika Selatan mengelola kedalaman skuadnya. Dengan persiapan menuju Piala Dunia 2027, konsistensi performa menjadi kunci. Pertanyaan besarnya: mampukah Argentina memanfaatkan situasi ini untuk mengejutkan juara dunia dua kali? Atau justru Springboks akan semakin menunjukkan superioritasnya?



