Larangan Balap Anjing di Selandia Baru: 150 Greyhound Terbang ke Australia, Industri Mati atau Pindah?
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru resmi memberlakukan larangan balap greyhound, memaksa sekitar 1.400 anjing pensiun dan memicu relokasi ke Australia.
- Dua penerbangan sewaan akan membawa hingga 150 greyhound ke Australia timur, dengan enam hingga sepuluh pelatih berencana pindah.
- Langkah ini menuai kritik karena dianggap celah untuk melanjutkan praktik yang dilarang, sementara Australia sendiri menghadapi krisis adopsi anjing balap.

Larangan balap greyhound di Selandia Baru mulai berlaku akhir pekan ini, memicu gelombang relokasi anjing dan pelatih ke Australia. Setidaknya dua penerbangan sewaan disiapkan untuk mengangkut hingga 150 ekor greyhound ke negara bagian timur Australia, sementara industri balap di negara tersebut berusaha bertahan di tengah tekanan regulasi dan publik.
Greyhound Racing New Zealand (GRNZ), badan pengelola olahraga tersebut, mengonfirmasi bahwa sejumlah pelatih memilih memindahkan anjing mereka ke Australia untuk melanjutkan karier. Langkah ini diambil setelah pemerintah Selandia Baru mengesahkan larangan pada April lalu, menyusul pengumuman Desember 2024. Sekitar 1.400 greyhound akan pensiun dan membutuhkan rumah baru di Selandia Baru.
Keputusan ini memicu perdebatan sengit. Menteri Balap Selandia Baru, Winston Peters, melalui juru bicaranya, menyebut rencana relokasi sebagai "aksi terakhir dari industri yang sekarat". Peters menegaskan bahwa industri balap anjing telah "kehilangan lisensi sosialnya" setelah tiga tinjauan independen pada 2013, 2017, dan 2021 menemukan tingkat cedera dan kematian anjing yang "tetap tinggi secara tidak dapat diterima". Namun, GRNZ membantah kesimpulan tersebut.
Di sisi lain, Edward Rennell, CEO GRNZ, menyatakan bahwa enam hingga sepuluh pelatih telah menyatakan minat untuk pindah ke Australia. Sebagian besar warga Selandia Baru tidak memerlukan visa khusus untuk tinggal di Australia, sehingga proses relokasi relatif mudah. Rennell menambahkan bahwa detail rencana akan difinalisasi dalam dua minggu ke depan, dengan GRNZ menanggung biaya penuh penerbangan, sementara biaya lain ditanggung pemilik dan pelatih.
Rennell mengakui bahwa anjing yang direlokasi mungkin kurang kompetitif di Australia karena pembiakan telah dihentikan sejak larangan diumumkan. Meski demikian, ia menegaskan dukungan penuh GRNZ terhadap para pelatih yang ingin pindah. "Kami akan mendukung orang-orang yang ingin transfer," ujarnya.
Keputusan ini menuai kritik dari berbagai pihak. Senator federal Australia, Mehreen Faruqi dari Partai Hijau, menyatakan keprihatinannya atas celah yang memungkinkan ekspor anjing balap terus berlanjut. Sementara itu, Kylie Field, Direktur Koalisi Perlindungan Greyhound, menyoroti ironi di balik relokasi ini. Australia sendiri kesulitan mencari rumah untuk ribuan anjing balap pensiun, termasuk 4.100 di New South Wales. Industri balap Australia bahkan telah mengirim lebih dari 2.000 anjing ke AS dan Kanada untuk mengatasi krisis adopsi.
Menariknya, larangan balap greyhound semakin meluas secara global. Skotlandia dan Wales telah mengesahkan undang-undang yang melarang balap anjing komersial tahun ini. Sebagian besar negara bagian AS juga telah memberlakukan larangan, menyisakan dua trek balap di Virginia Barat sebagai operasi terakhir. Di Australia, Australian Capital Territory telah melarang, dan Tasmania berencana menghentikannya secara bertahap.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran tentang bagaimana regulasi dapat mengubah industri yang kontroversial. Meski balap greyhound tidak populer di Indonesia, tren global menuju kesejahteraan hewan yang lebih ketat dapat memengaruhi kebijakan di masa depan, terutama terkait olahraga yang melibatkan hewan. Pertanyaannya, akankah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengikuti jejak ini?



