Gunung Fuego Meletus Lagi: Guatemala Evakuasi Dua Desa, Waspada Abu Vulkanik
Baca dalam 60 detik
- Letusan Fuego pada Senin memicu evakuasi preventif terhadap sekitar 250 warga di dua permukiman selatan.
- Kolom lava setinggi 300 meter dan awan panas menjadi ancaman utama, memaksa penutupan jalur nasional dan penghentian sekolah.
- Peristiwa ini mengingatkan pada tragedi 2018 yang menewaskan ratusan orang, menyoroti pentingnya kesiapsiagaan bencana di kawasan rawan erupsi.

Otoritas Guatemala mulai mengevakuasi warga dari dua permukiman di lereng selatan Gunung Fuego pada Senin (3/8) malam, setelah gunung api paling aktif di negara itu menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi yang signifikan. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi aliran lava dan awan panas yang mengancam pemukiman.
Claudinne Ogaldes, sekretaris eksekutif Badan Penanggulangan Bencana Guatemala (CONRED), mengonfirmasi bahwa erupsi yang dimulai Senin pagi terus menguat sepanjang hari. Dua lokasi yang menjadi prioritas evakuasi adalah Desa El Porvenir dan dusun Las Lajitas, yang dihuni sekitar 50 keluarga atau setara 250 jiwa. Mereka dipindahkan secara preventif ke tempat yang lebih aman.
Laporan dari Institut Seismologi, Vulkanologi, Meteorologi, dan Hidrologi Guatemala menyebutkan, kolom lava setinggi 200 hingga 300 meter terpantau di atas kawah. Material piroklastik—campuran gas panas, abu, dan bebatuan—meluncur cepat menuruni lereng, menciptakan pemandangan dramatis yang terekam kamera. Tingkat ledakan gunung ini terus meningkat, memicu status siaga oranye.
Dampak langsung terasa di sekitarnya. Jalur Nasional 14 yang melintas dekat gunung ditutup untuk kendaraan, sementara Kementerian Pendidikan menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sejumlah kota terdampak. CONRED juga memperingatkan penyebaran abu vulkanik ke permukiman tetangga, yang berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan dan aktivitas warga.
Erupsi Fuego kali ini membawa memori kelam. Pada Juni 2018, letusan dahsyat gunung yang sama menewaskan ratusan orang dan menghancurkan seluruh desa, dengan dampak hingga 1,7 juta jiwa. Peristiwa itu menjadi salah satu bencana vulkanik terburuk dalam sejarah Guatemala. Sejak itu, sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi terus diperkuat, namun tantangan tetap besar mengingat karakter Fuego yang erupsi secara tiba-tiba.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat negara kita juga berada di Cincin Api Pasifik dengan banyak gunung api aktif. Pengalaman Guatemala menunjukkan pentingnya manajemen risiko bencana yang terkoordinasi, mulai dari pemantauan intensif, sosialisasi kepada warga, hingga kesiapan infrastruktur evakuasi. Badan Geologi Indonesia dan BPBD di daerah rawan dapat menjadikan respons Guatemala sebagai bahan evaluasi.
Para ahli memperkirakan aktivitas Fuego masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini yang ada cukup cepat untuk mengantisipasi eskalasi erupsi yang lebih besar? Sementara itu, warga yang dievakuasi masih menunggu kepastian kapan mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.



