Pasar Malam Gadong Mulai Beralih ke Pembayaran Digital: Dua Vendor Jadi Perintis
Baca dalam 60 detik
- Dua pedagang di Pasar Malam Gadong, Brunei, kini menerima pembayaran digital dalam uji coba tahap awal.
- Inisiatif ini digagas Kementerian Ekonomi Brunei bersama Baiduri Bank untuk menjawab keluhan turis soal transaksi tunai.
- Jika berhasil, skema ini berpotensi direplikasi di pasar rakyat Indonesia yang selama ini bergantung pada uang tunai.

BANDAR SERI BEGAWAN โ Pasar Malam Gadong, salah satu ikon kuliner Brunei Darussalam yang setiap malam dipadati ratusan pengunjung, mulai meninggalkan kebiasaan transaksi tunai. Sejumlah pedagang di lokasi tersebut kini melayani pembayaran nontunai, sebuah langkah kecil yang dinilai mampu mengubah pengalaman wisatawan asing yang selama ini mengeluhkan keterbatasan uang fisik.
Inisiatif ini digerakkan oleh Departemen Pengembangan Pariwisata di bawah Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) bersama Baiduri Bank, salah satu bank terbesar di Brunei. Mereka menargetkan perluasan adopsi pembayaran digital secara bertahap, dimulai dari dua pedagang yang telah bergabung pada fase pertama. Keduanya menjadi perintis di tengah lebih dari 100 pedagang yang berjualan di pasar malam tersebut.
Gadong Night Market selama ini dikenal sebagai tujuan utama bagi warga lokal maupun pelancong mancanegara yang ingin mencicipi masakan khas Brunei. Namun, masukan dari turisโterutama mereka yang singgah singkat, penumpang kapal pesiar, atau sekadar transitโmenyoroti ketidaknyamanan ketika harus selalu menyiapkan uang tunai. Kondisi ini menjadi celah yang coba dijawab melalui kolaborasi lintas sektor tersebut.
Bagi para pedagang, peralihan ke sistem nontunai bukan sekadar mengikuti tren. Secara operasional, transaksi digital memangkas waktu antrean, mengurangi risiko kesalahan hitung, serta menekan ketergantungan pada pengelolaan uang kas yang rawan kehilangan. Lebih jauh, skema ini membuka peluang bagi usaha mikro untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan asing yang umumnya membawa kartu atau dompet digital.
Keberadaan dua pedagang perintis ini menjadi uji awal bagi perluasan sistem pembayaran elektronik di kawasan tersebut. Pemerintah Brunei tampak serius mendorong adopsi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pariwisata yang lebih ramah bagi pengunjung internasional. Ke depan, jika fase pertama berjalan mulus, bukan tidak mungkin seluruh pedagang di Pasar Malam Gadong akan menerima pembayaran digital secara penuh.
Fenomena serupa sebenarnya sudah lama menjadi perhatian di Indonesia. Pasar rakyat di berbagai kota besar, seperti Pasar Santa di Jakarta atau Pasar Beringharjo di Yogyakarta, mulai merambah pembayaran QRIS. Namun, tingkat penetrasinya masih timpang antara pedagang di pusat kota dan daerah. Pengalaman Brunei ini bisa menjadi pelajaran berharga: kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan asosiasi pedagang menjadi kunci agar transformasi digital tidak meninggalkan pelaku usaha kecil.
Pertanyaannya, apakah langkah dua pedagang di Gadong akan menjadi katalis bagi perubahan yang lebih besar di Brunei? Atau justru menjadi model yang bisa ditiru negara tetangga, termasuk Indonesia, untuk mempercepat inklusi keuangan di sektor informal? Waktu yang akan menjawab, namun arahnya sudah mulai terlihat jelas.



