Google Tarik Fitur AI Nano Banana dari Google Earth Setelah Kekhawatiran Disinformasi Meluas
Baca dalam 60 detik
- Fitur AI yang memungkinkan pembuatan citra satelit palsu langsung di Google Earth ditarik kurang dari 48 jam setelah diluncurkan.
- Para ahli memperingatkan bahwa alat ini dapat merusak kredibilitas citra satelit yang selama ini diandalkan untuk verifikasi dan investigasi.
- Langkah Google ini menyoroti dilema antara inovasi dan keamanan informasi, terutama di tengah maraknya manipulasi visual berbasis AI.

Google menarik fitur kecerdasan buatan (AI) yang baru saja diperkenalkan di Google Earth setelah menuai kritik tajam dari para pegiat investigasi dan pakar keamanan informasi. Fitur yang memanfaatkan model AI generatif Nano Banana itu memungkinkan pengguna membuat citra satelit palsu yang tampak meyakinkan hanya dengan mengetik satu kalimat perintah. Langkah ini diambil kurang dari dua hari setelah fitur tersebut diluncurkan, menyusul kekhawatiran bahwa teknologi ini dapat menjadi senjata baru penyebaran disinformasi.
Dalam pengumuman awalnya, Google memposisikan fitur ini sebagai alat bantu visualisasi untuk perencanaan kota, pengembangan properti, atau sekadar imajinasi. Namun, para peneliti dan jurnalis dengan cepat melihat potensi bahayanya. Henk van Ess, peneliti open-source intelligence (OSINT) yang berbasis di Belanda, termasuk yang pertama kali menyuarakan keberatannya. Ia menilai fitur ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, terutama karena citra satelit selama ini dianggap sebagai sumber kebenaran yang sulit dipalsukan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Uji coba yang dilakukan oleh Channel NewsAsia (CNA) menunjukkan bahwa fitur ini dapat menghasilkan gambar-gambar fiktif seperti kebakaran di Gardens by the Bay atau jembatan runtuh di dekat Marina Bay Sands tanpa hambatan berarti. Yang lebih mengkhawatirkan, tangkapan layar dari gambar-gambar palsu tersebut dapat diunggah ke platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tanpa adanya kewajiban untuk menandai sebagai konten buatan AI. Bahkan, ketika diuji dengan empat alat deteksi AI komersial, dua dari gambar tersebut dianggap asli oleh sebagian alat, sementara satu alat lainnya menandai satu gambar sebagai kemungkinan besar nyata.
Google sendiri mengakui adanya penyalahgunaan. Dalam pernyataannya, perusahaan menyatakan akan menerapkan "pengaman yang lebih kuat" dan menarik fitur tersebut untuk sementara. "Kami tahu bahwa orang-orang secara unik mempercayai Google Earth sebagai pandangan dunia yang andal," demikian bunyi pernyataan resmi Google. Mereka juga mengklaim telah melihat profesional geospasial menggunakan fitur ini untuk tujuan yang bermanfaat, tetapi juga menemukan unggahan yang melanggar kebijakan.
Para ahli menilai langkah Google ini terlambat. Tom Jarvis, peneliti dari Centre for Information Resilience, menyebut fitur tersebut "mengubah keadaan menjadi lebih buruk" karena mereka yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan melalui citra satelit kini dapat dengan mudah mengganggu ruang informasi dengan alat yang sama. Benjamin Ang, kepala pusat keunggulan keamanan nasional di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, menambahkan bahwa penelitian menunjukkan manusia selama puluhan tahun menganggap citra satelit lebih dapat dipercaya daripada foto di permukaan tanah karena tampak objektif dan sulit dimanipulasi. "Dulu, membuat citra satelit palsu yang meyakinkan membutuhkan sumber daya, teknologi, dan keterampilan yang relatif tinggi, tetapi sekarang hampir semua orang dapat membuat palsu yang memicu kepanikan atau kemarahan," ujarnya.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana penyebaran hoaks dan disinformasi berbasis gambar telah menjadi masalah serius. Riset dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa konten manipulatif sering kali beredar luas di platform percakapan seperti WhatsApp dan Telegram. Benjamin Ang menggarisbawahi bahwa begitu sebuah gambar masuk ke grup keluarga atau pertemanan, hampir tidak ada yang akan repot-repot memverifikasinya sebelum meneruskan. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa alat deteksi AI masih belum sempurna, seperti yang ditunjukkan oleh uji coba CNA.
Ke depan, keputusan Google untuk menarik fitur ini menjadi preseden penting bagi industri teknologi. Pertanyaannya, apakah perusahaan lain akan belajar dari insiden ini atau justru mengabaikan risiko disinformasi demi mengejar inovasi? Sementara itu, masyarakat perlu semakin kritis terhadap setiap gambar yang beredar, terutama yang berkaitan dengan peristiwa penting. Akankah kita melihat regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan AI generatif dalam platform yang selama ini dianggap kredibel?



