Superbank Andalkan Bunga Deposito 7,5% dan Ekosistem Grab-OVO untuk Bertahan di Era Suku Bunga Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Superbank mempertahankan bunga deposito 7,5% sebagai daya tarik utama di tengah suku bunga tinggi yang menekan likuiditas perbankan.
- Integrasi dengan ekosistem Grab dan OVO menjadi saluran utama penghimpunan dana pihak ketiga dan pertumbuhan nasabah.
- Pemanfaatan AI dan data digitalisasi menjadi kunci Superbank dalam memperluas layanan dan menjaga efisiensi biaya operasional.

Di tengah tekanan suku bunga tinggi yang membuat likuiditas perbankan semakin ketat, Superbank justru memilih strategi agresif dengan menawarkan bunga deposito 7,5% untuk mempertahankan dan menarik nasabah baru. Langkah ini diambil seiring meningkatnya persaingan di sektor bank digital yang mengandalkan fleksibilitas dan kecepatan layanan.
President Director Superbank, Tigor M. Siahaan, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak hanya mengandalkan imbal hasil deposito yang kompetitif, tetapi juga memanfaatkan integrasi dengan dua ekosistem digital terbesar di Indonesia, yaitu Grab dan OVO. Kedua platform tersebut menjadi sumber utama pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. "Kami konsisten memberikan bunga deposito yang menarik, namun yang lebih penting adalah bagaimana kami bisa hadir di mana pun nasabah bertransaksi," ujarnya.
Dalam konteks industri perbankan Indonesia, strategi Superbank ini menarik karena banyak bank digital justru kesulitan menjaga likuiditas saat suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level tinggi. Bank digital lain cenderung menaikkan bunga kredit atau menekan biaya operasional, namun Superbank memilih untuk tetap agresif di sisi penghimpunan dana. Menurut analis perbankan, langkah ini berisiko tinggi karena margin bunga bersih (NIM) bisa tergerus, namun potensi pertumbuhan nasabah yang besar dari ekosistem Grab-OVO bisa menjadi penyeimbang.
Selain itu, Superbank juga mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan analisis data untuk mengidentifikasi kebutuhan nasabah yang semakin selektif dan teredukasi. "Nasabah sekarang tidak hanya mencari bunga tinggi, tetapi juga kemudahan dan kecepatan layanan. AI membantu kami memberikan produk yang tepat pada waktu yang tepat," jelas Tigor. Pendekatan ini sejalan dengan tren perbankan digital global yang mengutamakan personalisasi berbasis data.
Ke depan, keberhasilan Superbank akan sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara daya tarik bunga deposito dan efisiensi biaya dana. Apakah strategi ini bisa bertahan jika suku bunga terus naik? Atau justru akan memicu perang bunga antar bank digital? Jawabannya akan menentukan peta persaingan di industri fintech dan perbankan digital Indonesia dalam beberapa kuartal mendatang.



