PayNow Generasi Kedua: Singapura Siapkan Revolusi Pembayaran Digital pada 2026
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Moneter Singapura dan Asosiasi Bank setempat akan menguji coba integrasi QR PayNow dengan NETS pada akhir 2026, memungkinkan pembayaran lintas aplikasi tanpa hambatan.
- Peningkatan lain mencakup deep-link untuk checkout daring, transaksi bernilai besar untuk instansi pemerintah, serta perluasan konektivitas lintas batas dan pembayaran offline.
- Langkah ini merupakan respons terhadap tuntutan konsumen dan bisnis yang menginginkan pembayaran lebih cepat, interoperabel, dan kaya data, sekaligus menyiapkan fondasi untuk perdagangan berbasis agen AI.

Singapura berencana meluncurkan generasi kedua sistem pembayaran instan PayNow pada akhir 2026, sebuah langkah yang akan mengakhiri kebingungan konsumen saat memindai kode QR yang tidak kompatibel dengan aplikasi mereka. Pilot proyek ini akan memungkinkan pengguna aplikasi PayNowโseperti Citibank, Grab, atau HSBCโuntuk membayar di merchant yang menampilkan kode QR NETS, yang saat ini tidak dapat dilakukan.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Deputi Perdana Menteri merangkap Ketua Otoritas Moneter Singapura (MAS), Gan Kim Yong, pada acara makan malam tahunan Asosiasi Bank di Singapura (ABS), Kamis (25/6). Menurut Gan, ketika pembayaran menjadi lebih cepat, lebih interoperabel, dan lebih kaya data, konsumen, pedagang, bisnis, dan layanan pemerintah akan merasakan manfaatnya. PayNow, yang telah menjadi tulang punggung sistem pembayaran Singapura, memproses sekitar S$154 miliar (US$119 miliar) dalam nilai pembayaran konsumen dan S$147 miliar dalam nilai pembayaran bisnis pada tahun lalu.
Laporan bertajuk PayNow Generation 2 yang dirilis MAS dan ABS mengidentifikasi empat area prioritas peningkatan. Pertama, interoperabilitas penuh antara kode QR PayNow dan NETS, yang tidak hanya memudahkan konsumen lokal tetapi juga wisatawan asing yang selama ini tidak bisa menggunakan PayNow. Kedua, pengenalan deep-linking untuk pembelian daring, sehingga saat pelanggan memilih PayNow di halaman checkout, aplikasi perbankan akan terbuka otomatis dengan detail pembayaran yang sudah terisi. Saat ini, pelanggan harus menyimpan atau memotret layar kode QR, lalu mengimpornya ke aplikasi bank.
Ketiga, MAS dan ABS mengusulkan uji coba transaksi bernilai lebih besar untuk pembayaran ke instansi pemerintah, yang akan dimulai pada 2027 dalam lingkungan sandbox dengan batas dan pengamanan yang sesuai. Keempat, perluasan kemampuan pembayaran untuk kebutuhan bisnis baru, seperti request-to-pay, konektivitas lintas batas yang lebih luas, dan pembayaran offline. Gan juga menyebutkan bahwa Singapura akan mulai meletakkan dasar untuk agentic commerce, yaitu bentuk e-dagang di mana agen kecerdasan buatan otonom membuat keputusan pembelian secara independen.
Laporan fase pertama ini membandingkan PayNow dengan 11 sistem pembayaran lain, termasuk DuitNow Malaysia. Hasilnya, PayNow unggul dalam adopsi, jangkauan, harga, dan pengalaman pengguna inti. Namun, terdapat celah dalam permintaan pembayaran yang diprakarsai pedagang dan fungsi bisnis-ke-bisnis, serta kerangka penyelesaian sengketa dan interoperabilitas yang kurang matang dibandingkan negara lain. Fase kedua studi akan menilai kelayakan, persyaratan implementasi, dan kesiapan industri, serta menyusun demonstrasi proof-of-concept.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi sinyal penting. Sistem pembayaran digital di Indonesia, seperti QRIS, juga terus dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia. Interoperabilitas dan kecepatan inovasi yang ditunjukkan Singapura dapat menjadi tolok ukur bagi Indonesia untuk mempercepat integrasi lintas platform, memperkuat keamanan siber, dan mendorong adopsi pembayaran digital di sektor pemerintahan. Jika Singapura berhasil mengintegrasikan PayNow dengan NETS dan memperluas ke agen AI, Indonesia perlu mengantisipasi dampak persaingan di kawasan, terutama dalam hal kemudahan transaksi lintas batas dan daya tarik wisatawan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana inovasi agentic commerce akan diadopsi di Asia Tenggara, dan apakah regulator di negara lain, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak Singapura dalam menyiapkan kerangka pengawasan yang seimbang antara inovasi dan perlindungan konsumen. Dengan fondasi yang diletakkan tahun ini, Singapura tampaknya ingin memastikan bahwa sistem pembayarannya tetap menjadi yang terdepan di kawasan.



