UEFA Sambut Mundurnya FIFA dari Rencana Investasi Piala Dunia, Infantino Dituding Ingkar Janji
Baca dalam 60 detik
- FIFA membatalkan rencana menjual saham Piala Dunia setelah mendapat tentangan keras dari UEFA dan federasi lain.
- UEFA menilai kepemimpinan Gianni Infantino gagal memenuhi janji transparansi dan pengelolaan dana FIFA.
- Langkah UEFA berikutnya adalah mengusulkan distribusi dana melalui program Forward untuk mendukung sepak bola akar rumput.

FIFA akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta, menyusul gelombang penolakan yang meluas dari berbagai federasi sepak bola dunia. Keputusan yang diumumkan Jumat malam itu disambut positif oleh UEFA, namun sekaligus menjadi pemicu kritik tajam terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino, yang dinilai telah mengkhianati janji-janji awalnya saat terpilih pada 2016.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa skema yang sempat digagas untuk membuka kompetisi FIFA kepada investor swasta telah ditolak bulat oleh 55 asosiasi nasional anggotanya, termasuk FIGC dari Italia. Penolakan juga datang dari federasi-federasi di berbagai belahan dunia, dari Amerika Utara hingga Asia, bahkan seorang penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mundur sebagai bentuk protes.
Rencana yang batal tersebut sebenarnya menjanjikan suntikan dana sekitar 4,2 miliar dolar AS dari investor yang dipimpin oleh Joshua Kushner, dengan imbalan sekitar 20 persen saham dalam entitas komersial baru yang nilainya ditaksir mencapai 20 miliar dolar AS. Namun, bagi UEFA, masalahnya bukan hanya pada substansi, melainkan juga pada cara yang dianggap tidak transparan dan terburu-buru.
UEFA secara eksplisit menyebut bahwa kepemimpinan FIFA saat ini telah kehilangan kepercayaan, tidak hanya dari UEFA, tetapi juga dari banyak anggota keluarga sepak bola lainnya. Mereka menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas skema tersebut diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban. Kritik ini diperkuat dengan mengingat kembali janji Infantino saat kampanye pemilihan presiden FIFA 2016, di mana ia berkomitmen untuk transparansi dan menyatakan bahwa "uang FIFA adalah uang Anda" yang seharusnya digunakan untuk pengembangan sepak bola.
Menurut UEFA, kedua janji tersebut tidak pernah terpenuhi. Dengan cadangan dana FIFA yang mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS, UEFA menilai dana tersebut justru dibiarkan menganggur dan tidak diinvestasikan untuk kemajuan olahraga ini. Sebagai langkah lanjutan, UEFA berencana untuk segera mengusulkan cara baru dalam mendistribusikan sumber daya melalui program Forward yang sudah ada, dengan menegaskan bahwa tidak perlu "menjual perak keluarga" untuk mendanai sepak bola akar rumput di 211 negara anggota FIFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai salah satu dari 211 anggota FIFA, PSSI tentu akan terpengaruh oleh kebijakan distribusi dana yang baru. Sebelumnya, program Forward telah menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi pengembangan sepak bola nasional, termasuk pembangunan infrastruktur dan pembinaan usia muda. Dengan adanya usulan baru dari UEFA, ada peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan alokasi dana yang lebih besar dan lebih tepat sasaran, asalkan PSSI mampu menyusun proposal yang kuat dan transparan.
Lebih jauh, konflik antara UEFA dan FIFA ini juga menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang baik dalam organisasi olahraga. Bagi publik Indonesia yang tengah gencar membenahi sepak bola nasional, kasus ini menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah kunci untuk membangun kepercayaan, baik dari internal maupun eksternal. Pertanyaannya, apakah PSSI dapat mengambil pelajaran dari krisis ini untuk memperkuat fondasi sepak bola Indonesia?
Ke depan, langkah UEFA untuk mengusulkan mekanisme distribusi dana yang baru akan menjadi ujian bagi solidaritas global dalam sepak bola. Apakah FIFA akan merespons dengan membuka ruang dialog yang lebih inklusif, atau justru semakin terkunci dalam kepemimpinan yang otoriter? Sementara itu, bagi Indonesia, ini adalah momen untuk memastikan bahwa suara federasi kecil tetap didengar dan kepentingan pembangunan sepak bola nasional tidak terabaikan di tengah pertarungan kekuatan besar.



