Gempa Kumamoto Sisakan Rekahan 10 Kilometer di Zona Sesar Hinagu: Jejak Kerusakan yang Terlihat dari Udara
Baca dalam 60 detik
- Survei udara menemukan retakan tanah sepanjang lebih dari 10 km di sepanjang Zona Sesar Hinagu, pusat gempa Kumamoto.
- Pergeseran vertikal terlihat di Jalan Tol Minami-Kyushu, sementara bangunan di dekat jalur patahan mengalami kerusakan parah.
- Para ahli memperkirakan longsornya sesar sepanjang 30 km menjadi pemicu gempa, menyoroti pentingnya mitigasi bencana di Indonesia.

Gempa berkekuatan dahsyat yang melanda Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa lalu, meninggalkan jejak kerusakan yang mengejutkan: retakan tanah membentang lebih dari 10 kilometer di sepanjang Zona Sesar Hinagu, pusat gempa. Temuan ini terungkap melalui survei udara yang dilakukan pada Jumat, mengungkap skala dampak yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Survei helikopter yang dilakukan oleh The Yomiuri Shimbun mengonfirmasi kerusakan di permukaan tanah di sekitar zona patahan, termasuk kerusakan pada rumah-rumah warga. Dari ketinggian, terlihat garis retakan yang terputus-putus namun jelas membentang di perbatasan antara dataran dan perbukitan. Fenomena ini menunjukkan bahwa gempa tidak hanya mengguncang permukaan, tetapi juga merobek lapisan tanah secara fisik.
Para ahli geologi memperkirakan gempa ini dipicu oleh pergeseran sesar sepanjang sekitar 30 kilometer. Di dekat area istirahat Michi-no-Eki Ryuhoku di Hikawa, tempat getaran mencapai intensitas maksimum 7 pada skala seismik Jepang, beberapa bangunan yang diduga rusak terlihat sejajar dengan retakan yang melintasi lahan pertanian dan tempat parkir. Di Jalan Tol Minami-Kyushu, Yatsushiro, permukaan jalan bahkan bergeser secara vertikal mengikuti garis patahan, menunjukkan kekuatan dahsyat yang mampu mengubah kontur infrastruktur.
Profesor Hideaki Goto, ahli geografi dari Universitas Hiroshima yang turut serta dalam penerbangan survei, mengungkapkan bahwa beberapa bangunan di dekat garis patahan kehilangan genteng atapnya. "Ada bangunan di dekat garis patahan yang genteng atapnya terlempar, menggambarkan besarnya skala dampak," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi pada infrastruktur besar, tetapi juga pada permukiman penduduk.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bagi negara-negara yang berada di kawasan rawan gempa, termasuk Indonesia. Dengan letak geologis yang serupa, Indonesia menghadapi ancaman gempa bumi yang tidak kalah dahsyat. Zona sesar aktif seperti Sesar Lembang di Jawa Barat atau Sesar Palu-Koro di Sulawesi Tengah memiliki potensi pergeseran yang dapat memicu kerusakan serupa. Oleh karena itu, pemantauan dan mitigasi bencana harus terus diperkuat, termasuk pemetaan jalur patahan dan penegakan standar bangunan tahan gempa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: bagaimana pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat belajar dari kejadian ini untuk memperkuat kesiapsiagaan? Apakah infrastruktur vital seperti jalan tol dan permukiman di dekat sesar aktif sudah dirancang dengan mempertimbangkan potensi pergeseran tanah? Gempa Kumamoto memberikan pelajaran berharga bahwa kerusakan tidak hanya diukur dari getaran, tetapi juga dari pergerakan tanah yang dapat merusak fondasi kehidupan.



