Gempa Kumamoto: 38 Tewas, Krisis Air dan Panas Ekstrem Perparah Kondisi Pengungsi
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa Kumamoto mencapai 38 orang, dengan satu kematian akibat heat stroke di tengah suhu mendekati 40 derajat Celcius.
- Lebih dari 46.000 rumah tangga kehilangan akses air bersih, sementara 8.500 warga masih bertahan di tempat pengungsian yang padat dan kekurangan fasilitas.
- Kunjungan Perdana Menteri Sanae Takaichi ke lokasi bencana menuai kritik karena dianggap tidak menggambarkan kondisi riil para pengungsi.

Kumamoto, Jepang โ Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Kyushu, pada Selasa lalu (4/8) meninggalkan duka mendalam. Hingga Senin (10/8), otoritas setempat mengonfirmasi 38 orang meninggal dunia, termasuk satu korban yang tewas akibat sengatan panas saat berlindung di dalam mobil. Di tengah suhu yang diprediksi menembus 40 derajat Celsius, proses pemulihan berjalan berat karena krisis air bersih dan kelangkaan bahan bakar.
Warga di kota-kota terdampak seperti Uki dan Hikawa mulai mengangkut puing-puing, perabot rusak, dan barang-barang bekas untuk dibuang. Sejumlah hotel dan penginapan membuka pintu bagi para pengungsi, sementara pembangunan hunian sementara baru dimulai. Namun, lebih dari 46.000 rumah tangga masih belum mendapatkan pasokan air, memicu kekhawatiran akan meluasnya penyakit terkait panas. Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkirakan suhu akan terus naik dalam beberapa hari ke depan, memperparah kondisi warga yang tinggal di tempat penampungan darurat.
Lebih dari 8.500 orang masih bertahan di pusat evakuasi yang padat, seperti pusat komunitas, gedung olahraga sekolah, dan ruang kelas yang sebagian besar tidak ber-AC. Banyak lainnya memilih tidur di mobil di area parkir kantor kota atau di luar rumah karena takut akan gempa susulan. Para ahli sejak lama memperingatkan bahwa penampungan yang tidak memadai dapat memicu masalah kebersihan, privasi, dan kesehatan mental bagi para penyintas.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang baru pertama kali mengunjungi lokasi bencana, terbang menggunakan helikopter militer untuk meninjau area terdampak. Ia sempat mengunjungi salah satu tempat penampungan terbaik yang dilengkapi tempat tidur kardus, partisi, dan AC. Kunjungan ini menuai kritik tajam di media sosial karena dinilai tidak menggambarkan kondisi riil mayoritas pengungsi yang berdesakan di tempat tanpa fasilitas memadai. Gubernur Kumamoto, Takashi Kimura, dalam pertemuannya dengan Takaichi menyoroti "panas abnormal" yang memperberat kehidupan warga dan meminta dukungan pemerintah pusat untuk meningkatkan layanan air bersih dan medis di pusat evakuasi.
Di tengah upaya pemulihan, muncul pula sorotan atas insiden di pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kota Kashima. Perusahaan operator toko serba ada Habita mengakui telah memerintahkan dua karyawannya untuk kembali ke gedung yang roboh untuk menyimpan uang hasil penjualan ke brankas. Kedua karyawan tersebut tewas dalam ledakan yang diduga akibat kebocoran gas setelah gempa. Manajer penjualan Habita, Goji Yuse, membenarkan instruksi tersebut. Orang tua salah satu korban, Kurumi Otake (22), meluapkan kesedihan saat bertemu dengan pihak perusahaan. "Saya berharap seseorang menghentikannya," kata ibu Otake dengan mata berkaca-kaca. "Anak saya tidak akan kembali lagi." Operator mal menyatakan ledakan terjadi setelah sekitar 3.000 pengunjung dievakuasi ke tempat parkir, tetapi beberapa karyawan masih berada di dalam gedung. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi lima orang dan menemukan tujuh jenazah dari reruntuhan mal.
Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa dan perubahan iklim. Bagi Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki risiko gempa tinggi, pelajaran dari Kumamoto sangat relevan. Sistem peringatan dini, ketahanan infrastruktur, serta manajemen pengungsian yang memperhatikan kebutuhan dasar seperti air bersih dan ventilasi menjadi krusial. Pertanyaan yang menggantung: apakah pemerintah daerah di Indonesia sudah siap menghadapi skenario serupa, terutama dengan potensi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi? Ke depan, kolaborasi internasional dalam penanganan bencana dan adaptasi iklim menjadi keniscayaan, bukan pilihan.



