FIFA Batalkan Rencana Jual Saham Piala Dunia, Tekanan Transparansi Menguat
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengurungkan niat menjual 20% saham komersial Piala Dunia senilai hingga US$4,2 miliar setelah mendapat tentangan keras dari konfederasi regional.
- Pembatalan mendadak ini menyoroti gaya kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino yang dinilai kurang konsultatif, memicu tuntutan tata kelola yang lebih transparan.
- Langkah ini berpotensi memengaruhi peluang Infantino untuk kembali terpilih pada periode 2027-2031, terutama menjelang Kongres FIFA di Maroko tahun depan.

FIFA secara mengejutkan menghentikan rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, hanya beberapa hari setelah proposal itu memicu gelombang protes dari berbagai konfederasi sepak bola regional. Keputusan yang diumumkan pada Sabtu (1/8) ini menjadi pukulan telak bagi Presiden FIFA Gianni Infantino, yang tengah bersiap mencalonkan diri kembali untuk periode keempat.
Rencana yang semula diumumkan pada Selasa pekan lalu itu bertujuan mengumpulkan dana hingga US$4,2 miliar dengan melepas sekitar 20 persen saham dalam unit usaha baru yang akan mengelola berbagai ajang FIFA, termasuk Piala Dunia. Namun, langkah tersebut langsung menuai kritik tajam dari konfederasi regional yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berpotensi mengubah struktur komersial sepak bola dunia.
Infantino, yang dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang tegas, akhirnya mundur setelah mendengarkan "semua pandangan" dari para pemangku kepentingan. Namun, pembatalan ini justru membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai transparansi dan tata kelola di tubuh FIFA. Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), menyambut baik keputusan tersebut dan menegaskan bahwa setiap inisiatif yang berdampak pada sepak bola global harus dibahas secara terbuka dengan seluruh pihak terkait.
Senada dengan itu, Ketua Football Australia, Anter Isaac, menekankan pentingnya menjaga prinsip integritas, independensi, dan tata kelola yang baik. "Beberapa prinsip tidak boleh berubah. Integritas, kemandirian, tata kelola yang baik, transparansi, konsultasi yang bermakna, dan due process," ujarnya. Isaac menambahkan bahwa prinsip-prinsip tersebut bukanlah penghalang kemajuan, melainkan fondasi untuk kemajuan yang berkelanjutan.
Kontroversi ini datang di saat yang tidak menguntungkan bagi Infantino. Hanya dua pekan sebelumnya, ia merayakan kesuksesan komersial Piala Dunia terbesar dalam sejarah. Kini, para pengamat menilai langkah politiknya sedang terancam. Bob Dorfman, analis pemasaran olahraga, menilai Infantino telah membuat banyak asosiasi anggota tidak senang dengan keputusan-keputusannya yang dianggap terlalu egois. "Beberapa negara yang mendapat hak tuan rumah Piala Dunia juga dipertanyakan. Politik terlalu banyak campur tangan," katanya.
Ekonom Victor Matheson dari College of the Holy Cross menggambarkan perubahan nasib Infantino yang sangat cepat. "Sulit membayangkan ada orang yang nasib politiknya berubah secepat itu. Dua pekan lalu ia berada di puncak dunia dengan ajang olahraga paling sukses, dan dua pekan kemudian ia berjuang untuk kelangsungan politiknya," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan ambisi untuk tampil di pentas dunia, stabilitas dan transparansi FIFA sangat penting. Keputusan-keputusan FIFA yang kontroversial, seperti pemilihan tuan rumah Piala Dunia, sering kali berdampak langsung pada peluang negara berkembang untuk menjadi tuan rumah atau berpartisipasi dalam ajang global. Oleh karena itu, tuntutan akan tata kelola yang lebih baik di FIFA seharusnya menjadi perhatian bersama, termasuk bagi penggemar dan pemangku kepentingan sepak bola di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah Infantino mampu memulihkan kepercayaan anggota FIFA sebelum Kongres di Maroko. Apakah ia akan mengubah gaya kepemimpinannya yang cenderung sentralistik, atau justru semakin terisolasi? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola dunia dalam satu dekade mendatang.



