Dari Mimpi ke Tradisi: Bagaimana Euro 2016 Mengubah Sepak Bola Wales Selamanya
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan dramatis atas Belgia di perempat final Euro 2016 menjadi titik balik yang membuka era kejayaan baru bagi sepak bola Wales.
- Keberhasilan di Prancis tidak hanya membawa prestasi, tetapi juga mengerek pendapatan FAW yang kemudian digunakan untuk membangun sepak bola wanita dan akar rumput.
- Kualifikasi beruntun ke Euro 2020 dan Piala Dunia 2022 adalah bukti nyata bahwa mentalitas 'cukup ikut serta' telah berganti menjadi 'harus tampil'.

Sebelas Juni 2016 menjadi tanggal yang tak akan terlupakan bagi penggemar sepak bola Wales. Setelah 58 tahun absen dari turnamen besar, tim nasional putra akhirnya menginjakkan kaki di Bordeaux untuk laga pembuka Piala Eropa melawan Slovakia. Namun, yang lebih membekas dari sekadar hasil pertandingan adalah perubahan fundamental dalam cara Wales memandang diri mereka sendiri di pentas internasional.
Bagi banyak pihak, kehadiran Wales di Euro 2016 saja sudah merupakan pencapaian luar biasa. Generasi penggemar telah lama disakiti oleh kegagalan demi kegagalan, mulai dari tangan Joe Jordan pada 1977 hingga kekalahan memalukan dari Rumania pada 1993. Komedian dan presenter asal Wales, Elis James, mengenang betapa rendahnya ekspektasi saat itu. "Kami semua berkata, 'Oh, lagu kebangsaan pasti bagus, itu sudah pasti'. Kami bisa kalah 10-0 tapi mereka pasti memainkan anthem," ujarnya dalam serial dokumenter BBC, Iconic: The Summer that Changed Welsh Football.
Namun, perjalanan Wales di turnamen itu jauh melampaui mimpi terliar sekalipun. Setelah menaklukkan Slovakia lewat gol penentu Hal Robson-Kanu, mereka hanya kalah tipis dari Inggris di fase grup. Puncaknya terjadi di Toulouse, ketika Wales menghancurkan Rusia 3-0 dengan permainan menyerang yang memukau. Pelatih Chris Coleman menyebut itu sebagai penampilan terbaik timnya. "Kami luar biasa," katanya. Bahkan bek sayap Neil Taylor yang jarang mencetak gol ikut menyumbang angka, sebuah simbol betapa segala sesuatu berjalan sempurna bagi Wales saat itu.
Kemenangan telak atas Rusia membawa Wales ke babak gugur, sesuatu yang terakhir kali mereka rasakan pada Piala Dunia 1958. Di babak 16 besar, mereka menyingkirkan Irlandia Utara lewat gol bunuh diri Gareth McAuley. Lalu tibalah malam bersejarah di Lille: perempat final melawan Belgia, tim peringkat satu dunia yang diperkuat Kevin De Bruyne, Eden Hazard, dan Romelu Lukaku. Tertinggal lebih dulu lewat tembakan jarak jauh Radja Nainggolan, Wales membalikkan keadaan lewat sundulan Ashley Williams dan gol spektakuler Robson-Kanu yang melakukan Cruyff-turn melewati tiga bek Belgia. Sam Vokes memastikan kemenangan 3-1, mengantarkan Wales ke semifinal untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Kekalahan 0-2 dari Portugal di semifinal tidak mengurangi makna perjalanan itu. Justru, efeknya terasa jauh setelah turnamen usai. Jonathan Ford, CEO Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) periode 2009-2021, mengungkapkan bahwa pendapatan dari kualifikasi Euro 2016 memungkinkan FAW mengucurkan dana lebih besar untuk sepak bola wanita dan pembinaan akar rumput. "Kami menjadi lebih kaya, dan itu kami gunakan untuk mentransformasi permainan wanita," katanya. Laura McAllister, wakil presiden UEFA dan mantan kapten tim nasional wanita Wales, menegaskan bahwa tanpa keberhasilan tim putra, investasi untuk tim putri mustahil dilakukan. "Sampai tim putra menghasilkan uang, kami tidak bisa mewujudkan strategi kami," ujarnya.
Dampak Euro 2016 juga mengubah mentalitas. Sebelumnya, kegagalan lolos kualifikasi diterima dengan pasrah. Kini, ada ekspektasi bahwa Wales harus selalu tampil di turnamen besar. Tim putra berhasil lolos ke Euro 2020 dan Piala Dunia 2022, sementara tim putri menembus Euro 2025. Chris Coleman menegaskan, "Hal terbaik yang bisa kami berikan kepada generasi berikutnya adalah membuktikan bahwa itu mungkin." Meski tim putra harus menyaksikan Piala Dunia 2026 tanpa mereka, rasa frustrasi itu justru menunjukkan perubahan pola pikir yang sehat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Wales ini relevan dengan perjuangan Timnas Garuda yang tengah berusaha keluar dari keterpurukan. Keberhasilan Wales membuktikan bahwa satu turnamen besar bisa menjadi katalis perubahan jangka panjang, baik dari sisi prestasi maupun finansial. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru jejak Wales dengan menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai titik balik serupa? Atau akankah mimpi itu kembali tertunda?



