Duka Italia untuk Baresi, Leão Batal Pergi, dan Inter Kian Dekat dengan Romero
Baca dalam 60 detik
- Pemakaman legenda AC Milan, Franco Baresi, akan digelar di Basilika Sant'Ambrogio dengan kehadiran tokoh sepak bola dunia, sementara Milan di Australia hanya diwakili pemain cedera.
- Rafael Leão dikabarkan berbalik arah dan berusaha bertahan di Milan setelah tidak ada tawaran konkret, sementara Juventus dan Inter gencar bergerak di bursa transfer.
- Inter dilaporkan hampir mengamankan bek Tottenham, Cristian Romero, dengan nilai transfer sekitar 40 juta euro, meski masih ada ganjalan soal gaji dan penjualan pemain.

Italia berhenti sejenak pada Selasa (14/1) untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Franco Baresi, legenda AC Milan yang wafat. Tiga koran olahraga utama Italia—La Gazzetta dello Sport, Corriere dello Sport, dan Tuttosport—serentak menjadikan kabar duka ini sebagai tajuk utama, di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang tak kunjung mereda.
Pemakaman Baresi dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 waktu setempat di Basilika Sant'Ambrogio, Milan. Ribuan pendukung diperkirakan akan hadir untuk mengantar kepergian sosok yang dijuluki "Per sempre libero" (Selamanya bebas). Mantan rekan setim seperti Paolo Maldini, Marco van Basten, Dejan Savićević, dan Roberto Donadoni dijadwalkan hadir, bersama pemilik Milan Gerry Cardinale, presiden Paolo Scaroni, dan presiden Inter Beppe Marotta. Delegasi dari Real Madrid dan Barcelona juga akan memberikan penghormatan terakhir.
Sementara itu, skuad utama Milan yang sedang menjalani tur di Australia hanya akan diwakili oleh Christian Pulisic dan Santiago Giménez yang cedera. Mereka akan mengenakan ban hitam pada laga persahabatan melawan Inter di Perth, Rabu (15/1). Kehadiran mereka menjadi simbol duka yang mendalam, meski tim berada jauh dari tanah air.
Di tengah suasana duka, bursa transfer tetap menjadi sorotan. La Gazzetta dello Sport mengangkat headline "Giravolta Leao" yang mengabarkan bahwa Rafael Leão, penyerang Portugal, dikabarkan berbalik arah dan berusaha bertahan di Milan. Sebelumnya, kepergiannya dianggap tinggal menunggu waktu, namun tidak adanya tawaran konkret membuatnya memilih untuk berjuang merebut kembali tempatnya di bawah asuhan Rúben Amorim. Sementara itu, Juventus disebut telah menggelontorkan dana hingga 138 juta euro untuk mendatangkan pemain seperti Kerim Alajbegović dan Randal Kolo Muani. Como juga tidak mau ketinggalan dengan merekrut Trevoh Chalobah dari Chelsea, yang disebut sebagai "rekrutan level Liga Champions".
Corriere dello Sport mengangkat isu kiper dengan tajuk "Intrigo Suzuki". Zion Suzuki dari Parma dikabarkan menjadi incaran PSG, sementara Juventus tengah menjajaki pinjaman kiper. Luciano Spalletti juga dikabarkan memantau Guglielmo Vicario. Namun, berita utama mereka adalah Cristian Romero. Tottenham dilaporkan bersedia melepas bek Argentina itu dengan harga 40 juta euro, tetapi gaji tinggi dan kebutuhan Inter untuk menjual pemain terlebih dahulu menjadi kendala. Piero Ausilio, direktur olahraga Inter, terus mendorong kesepakatan ini.
Tuttosport, koran Turin, menyoroti rencana Juventus untuk memperkuat lini serang dengan tajuk "last call". Mereka melaporkan adanya pembicaraan dengan Atlético Madrid mengenai pertukaran Alexander Sørloth dan Nico González. Sørloth dikabarkan siap pindah ke Italia, sementara González ingin bertahan di Spanyol. Sementara itu, Inter disebut semakin dekat dengan Romero dan Moussa Diaby. Tuttosport bahkan menyebut kesepakatan untuk Romero hampir selesai.
Di luar lapangan, Corriere dello Sport mengangkat isu FIFA. UEFA mengancam akan mengambil langkah hukum setelah rencana penjualan Piala Dunia yang gagal. Gianni Infantino dilaporkan meminta dukungan dari sekutunya, Donald Trump, sementara Victor Montagliani dari Concacaf disebut-sebut sebagai kandidat pengganti. Ketegangan ini menunjukkan dinamika politik yang memanas di tubuh FIFA, yang bisa berdampak pada tata kelola sepak bola global, termasuk di Indonesia.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa bursa transfer Eropa selalu diwarnai intrik dan kejutan. Keputusan Leão untuk bertahan, misalnya, bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap kehilangan pemain bintangnya. Selain itu, ketegangan di FIFA juga relevan karena Indonesia memiliki ambisi besar dalam pengembangan sepak bola nasional dan akan mengikuti arahan FIFA. Pertanyaannya, akankah perubahan di pucuk pimpinan FIFA membawa angin segar bagi sepak bola Asia Tenggara, atau justru menambah ketidakpastian?



