Everton Incar Alistair Johnston: Solusi Bek Kanan atau Risiko Cedera?
Baca dalam 60 detik
- Everton dikabarkan telah melakukan pendekatan untuk merekrut bek kanan Celtic, Alistair Johnston, sebagai pengganti jangka panjang Seamus Coleman.
- Johnston dianggap peningkatan kualitas dibandingkan opsi saat ini, namun riwayat cedera hamstring yang membuatnya absen 57 pertandingan musim lalu menjadi kekhawatiran utama.
- Keputusan Everton untuk mengubah kontak menjadi tawaran resmi akan menentukan apakah mereka mendapatkan pemain berkualitas atau kembali terjebak masalah cedera.

Everton tengah bergerak cepat untuk mengatasi persoalan di sektor bek kanan menjelang musim 2025/2026. Klub asal Liverpool itu dikabarkan telah melakukan kontak dengan Celtic terkait potensi transfer Alistair Johnston, pemain internasional Kanada yang tampil di Piala Dunia 2022. Langkah ini muncul setelah kapten lama Seamus Coleman memutuskan pensiun, meninggalkan kekosongan yang selama ini diisi oleh bek tengah Jake O'Brien.
Manajer Celtic, Martin O'Neill, secara terbuka mengonfirmasi adanya komunikasi antara kedua klub. Dalam konferensi pers terbarunya, ia mengungkapkan, "Everton telah menghubungi kami. Saya tidak yakin apakah sudah ada tawaran resmi, tetapi mereka sudah melakukan kontak. Sejujurnya, David menelepon saya minggu lalu untuk memberi tahu akan ada pendekatan." Pernyataan ini menegaskan bahwa Everton serius menjadikan Johnston sebagai prioritas utama, mengungguli nama-nama seperti Takehiro Tomiyasu yang sempat dikaitkan.
Dari sisi kualitas, Johnston jelas merupakan peningkatan signifikan. Musim lalu, ketika fit, ia mencatatkan rata-rata 2,51 tekel per pertandingan dan memenangkan 68% duel, angka yang lebih baik dari O'Brien. Namun, masalahnya terletak pada kebugarannya. Johnston melewatkan 57 pertandingan akibat cedera hamstring sepanjang musim lalu, sebuah sinyal bahaya bagi klub yang membutuhkan pemain konsisten di posisi tersebut.
Pada usia 27 tahun, Johnston seharusnya berada di puncak kariernya. Namun, catatan cederanya menimbulkan pertanyaan besar: apakah ia bisa menjadi solusi jangka panjang seperti Coleman, atau justru menjadi beban di ruang perawatan? Everton tentu tidak ingin mengulang kesalahan merekrut pemain yang lebih sering absen daripada bermain.
Bagi Everton, merekrut Johnston adalah taruhan besar. Di satu sisi, ia adalah pemenang di Celtic dan telah membuktikan kemampuan di panggung internasional bersama Kanada. Di sisi lain, riwayat cedera yang panjang bisa menghambat adaptasinya di Premier League yang lebih kompetitif dan fisik. Keputusan untuk mengubah kontak menjadi tawaran resmi akan menjadi ujian bagi manajemen klub dalam menilai risiko dan manfaat.
Dari perspektif Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa berhati-hati dalam merekrut pemain dengan catatan cedera. Hal ini relevan dengan perkembangan sepak bola nasional, di mana manajemen klub Liga 1 juga mulai memperhatikan aspek kebugaran dan medis dalam rekrutmen pemain asing. Jika Everton berani mengambil risiko, bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia untuk lebih selektif dalam menilai pemain.
Pertanyaan selanjutnya: akankah Everton segera mengajukan tawaran resmi, atau mereka akan mundur karena khawatir dengan kondisi fisik Johnston? Atau justru Celtic akan memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga? Yang jelas, masa depan Johnston di Merseyside masih menggantung, dan keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan arah kariernya.



