Kecelakaan Tanker Kimia di Kulai Tewaskan Sopir, Layanan KTMB Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Sebuah tanker pengangkut aseton terguling di Kulai, Malaysia, menewaskan sopir berusia 42 tahun dan menumpahkan bahan kimia berbahaya ke rel kereta.
- Insiden ini memicu gangguan pasokan listrik yang mengakibatkan penundaan layanan kereta Shuttle Selatan dan ETS pada rute Kulai-Kempas.
- Otoritas setempat berhasil mengevakuasi jenazah dan menangani tumpahan, namun dampak keselamatan dan lingkungan masih menjadi perhatian.

Seorang sopir truk tangki pengangkut bahan kimia tewas seketika setelah kendaraannya terperosok dan terguling di Simpang Kampung Seri Maju, Kulai, Malaysia, Rabu (5/8) malam. Insiden yang terjadi sekitar pukul 20.14 waktu setempat itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memicu tumpahan aseton ke jalur rel kereta api milik Keretapi Tanah Melayu Bhd (KTMB), yang berujung pada gangguan layanan kereta di rute Kulai-Kempas.
Kepala Balai Bomba dan Penyelamat Bandar Baru Kulai, Muhammad Fauzi Awang, mengatakan bahwa pihaknya menerima laporan darurat pada pukul 20.14 dan tiba di lokasi yang berjarak sekitar 9 kilometer dari stasiun pada pukul 20.28. โKami menggunakan peralatan khusus untuk mengevakuasi jenazah sopir berusia 42 tahun yang dinyatakan meninggal di tempat oleh tim medis Kementerian Kesehatan,โ ujarnya dalam keterangan resmi.
Kecelakaan ini melibatkan truk tangki yang mengangkut aseton (UN1090), zat pelarut organik yang mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Tumpahan aseton tersebut mengenai rel kereta api di dekat lokasi kejadian, memaksa petugas untuk melakukan tindakan pengamanan ekstensif. Operasi penanganan yang dipimpin oleh perwira senior pemadam kebakaran II Mohd Asri Yousri bersama 11 personel dari Balai Bomba Bandar Baru Kulai dan Skudai baru berakhir pada pukul 23.00.
Gangguan pasokan listrik akibat insiden ini berdampak langsung pada layanan kereta api Shuttle Selatan dan ETS (Electric Train Service) di rute Kulai-Kempas. Para penumpang mengalami penundaan signifikan, dan KTMB harus melakukan penyesuaian jadwal untuk memulihkan operasional. Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi terhadap kecelakaan yang melibatkan bahan berbahaya, terutama di kawasan industri yang padat seperti Johor.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya protokol keselamatan pengangkutan bahan kimia berbahaya. Dengan meningkatnya aktivitas industri dan logistik di kawasan ASEAN, risiko kecelakaan serupa juga mengintai jalur kereta api di dalam negeri. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Perhubungan perlu mengevaluasi prosedur tanggap darurat untuk tumpahan bahan kimia, serta memastikan koordinasi yang cepat antara pemadam kebakaran, operator kereta, dan otoritas lingkungan.
Menurut analis keselamatan transportasi, kecelakaan seperti ini sering kali dipicu oleh faktor human error atau kegagalan teknis kendaraan. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana respons cepat dan efektif dapat meminimalkan korban jiwa dan kerusakan lingkungan. Dalam kasus ini, petugas pemadam kebakaran berhasil mengevakuasi jenazah dalam waktu kurang dari tiga jam, menunjukkan kesiapsiagaan yang patut dicontoh.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah KTMB dan otoritas terkait akan memperketat pengawasan terhadap pengangkutan barang berbahaya yang melintasi jalur kereta api. Langkah preventif seperti inspeksi rutin, pelatihan sopir, dan sistem peringatan dini untuk tumpahan bahan kimia menjadi krusial untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Bagi publik, kejadian ini menegaskan bahwa keselamatan transportasi tidak hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal nyawa dan kelancaran logistik regional.



