Menteri Keuangan AS Diduga Siap Intervensi Yen: Catatan 'To Do' Bocor ke Publik
Baca dalam 60 detik
- Foto Reuters memperlihatkan catatan pribadi Scott Bessent berisi rencana pembelian yen senilai US$5-10 miliar, memicu spekulasi intervensi pasar.
- Tindakan ini berpotensi mengubah dinamika pasar valas Asia, termasuk tekanan pada mata uang emerging market seperti rupiah.
- Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi intervensi pertama AS dalam mendukung yen sejak 2011, dengan implikasi besar bagi kebijakan moneter global.

Sebuah foto yang diambil saat rapat kabinet Presiden Donald Trump di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7) memperlihatkan catatan pribadi Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang memicu spekulasi besar di pasar keuangan. Dalam catatan bertajuk "To Do" itu, tersurat rencana pembelian yen Jepang senilai US$5-10 miliar. Momen ini langsung menjadi sorotan karena mengindikasikan langkah intervensi yang belum pernah dilakukan AS dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Foto yang diambil dari balik bahu Bessent pada pukul 11:33 waktu setempat itu memperlihatkan secarik kertas dengan tulisan tegas "Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil.". Meski tidak ada keterangan resmi dari Departemen Keuangan AS, kehadiran catatan tersebut di meja konferensi—tepat di bawah papan nama Bessent—memberi sinyal kuat bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan langkah agresif untuk menopang mata uang Jepang yang tengah terpuruk.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sebelum foto itu beredar, Reuters melaporkan bahwa Departemen Keuangan AS telah memberi tahu sejumlah bank tentang kemungkinan intervensi di pasar yen pada hari yang sama. Dua jam sebelum foto diambil, otoritas Jepang di Tokyo juga telah lebih dulu turun tangan untuk memperkuat yen, yang langsung mendorong penguatan signifikan mata uang tersebut pada perdagangan pagi. Data LSEG menunjukkan dolar AS sempat melemah dari 158,9 yen menjadi 157,6 yen pada sore hari—penurunan sekitar 0,8 persen dalam hitungan menit.
Yang menarik, ini bukan kali pertama AS bermain di pasar yen. Terakhir kali Washington melakukan intervensi serupa adalah pada 2011, saat bergabung dengan negara-negara G7 dalam aksi terkoordinasi pascagempa dan tsunami dahsyat yang melanda Jepang. Namun, konteks kali ini berbeda: tekanan terhadap yen kali ini lebih disebabkan oleh kebijakan moneter AS yang ketat dan perbedaan suku bunga yang ekstrem, bukan bencana alam.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Jika AS benar-benar membeli yen dalam jumlah besar, aliran dolar yang keluar dari pasar AS akan meningkat, yang berpotensi melemahkan dolar secara global. Dalam jangka pendek, ini bisa meredakan tekanan pada rupiah karena indeks dolar cenderung turun. Namun, dalam jangka menengah, intervensi semacam ini bisa memicu volatilitas di pasar keuangan emerging market, termasuk Indonesia, karena investor akan mencari arah kebijakan yang lebih jelas dari bank sentral utama dunia.
Para analis menilai bahwa jika intervensi ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi sinyal bahwa AS tidak lagi segan untuk ikut campur dalam pasar valas demi stabilitas ekonomi global. Namun, langkah ini juga berisiko memicu kritik dari negara lain yang menganggap AS melakukan manipulasi mata uang, terutama di tengah ketegangan dagang yang masih berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan resmi. Pertanyaannya kini: apakah ini sekadar wacana atau langkah nyata yang akan segera dieksekusi? Jika ya, bagaimana reaksi pasar dan mitra dagang AS, termasuk Indonesia? Yang jelas, gejolak di pasar yen akan menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi kawasan Asia dalam beberapa pekan ke depan.



