AS Turun Tangan Dukung Yen: Intervensi Bersama Pertama dalam Lebih Satu Dekade
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS dilaporkan ikut campur di pasar valuta asing untuk memperkuat yen, langkah yang belum pernah terjadi sejak 2011.
- Catatan pribadi Menteri Keuangan Scott Bessent mengungkap rencana pembelian yen senilai 5-10 miliar dolar AS, menandakan keseriusan Washington.
- Intervensi ini berpotensi meredakan tekanan pada yen dan mempengaruhi pasar keuangan global, termasuk arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia.

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah turun tangan langsung di pasar valuta asing untuk menopang yen Jepang yang terpuruk, sebuah langkah yang belum pernah terjadi dalam lebih dari satu dekade. Financial Times mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, menyebut bahwa Treasury AS bersama Bank of Japan melakukan intervensi pada Jumat (31/7) lalu, menandai aksi bersama pertama sejak krisis 2011.
Menurut laporan tersebut, Federal Reserve Bank of New York atas nama Treasury menjual euro untuk membeli yen, dengan eksekusi melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley. Meski jumlah pasti transaksi tidak diungkap, langkah ini mengirim sinyal kuat bahwa Washington tidak lagi tinggal diam melihat mata uang Jepang terpuruk ke level terendah dalam 40 tahun.
Intervensi ini bukan tanpa persiapan. Sebelum aksi pasar dilakukan, Treasury AS telah memberi tahu sejumlah bank untuk "bersiap menghadapi aksi lanjutan", seperti diungkapkan sumber kepada Reuters. Yang lebih menarik, foto notulen Menteri Keuangan Scott Bessent yang diambil saat rapat kabinet di Camp David memperlihatkan catatan pribadinya: "To Do" diikuti tulisan "Beli Yen Jepang (JPY) $5-10 miliar". Ini mengindikasikan bahwa keputusan untuk mendukung yen telah direncanakan secara matang di tingkat tertinggi pemerintahan.
Reaksi pasar pun langsung terasa. Dolar AS melemah sekitar 0,8 persen terhadap yen pada Jumat sore, dari sekitar 158,9 yen menjadi 157,6 yen dalam hitungan menit. Sebelumnya, Jepang sendiri dilaporkan telah menjual aset senilai hingga 58,97 miliar dolar AS pada Kamis untuk membeli yen, menunjukkan upaya berulang untuk menghentikan pelemahan mata uangnya.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Melemahnya dolar terhadap yen dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah secara tidak langsung. Ketika dolar menguat terhadap mata uang Asia lainnya, rupiah berpotensi tertekan. Namun, intervensi AS yang bertujuan menstabilkan yen justru bisa mengurangi volatilitas pasar keuangan global, yang pada akhirnya memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Analis pasar memandang bahwa aksi bersama ini adalah sinyal bahwa negara maju siap bertindak untuk mencegah gejolak mata uang yang berlebihan, yang seringkali berdampak pada arus modal keluar dari negara berkembang.
Keputusan AS untuk campur tangan juga menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan moneter ke depan. Apakah ini awal dari intervensi yang lebih luas, atau sekadar langkah taktis untuk meredakan ketegangan? Yang jelas, dengan dolar yang masih perkasa, tekanan terhadap yen dan mata uang Asia lainnya belum sepenuhnya hilang. Pasar kini menanti apakah Bank of Japan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut, atau apakah AS akan terus mendukung yen dalam jangka panjang. Satu hal yang pasti: koordinasi antara dua ekonomi terbesar dunia ini akan menjadi sorotan utama dalam beberapa pekan ke depan.



