Sungai dan Wayang: Bagaimana Batanghari Sembilan Menjadi Napas Budaya Sumatera Selatan
Baca dalam 60 detik
- Sembilan sungai besar di Sumatera Selatan, yang dikenal sebagai Batanghari Sembilan, menjadi fondasi ekosistem lahan basah seluas tiga juta hektar dan melahirkan kekayaan budaya yang diakui UNESCO.
- Sebanyak 18 dari 67 Warisan Budaya Takbenda di provinsi ini terkait erat dengan aktivitas masyarakat di sekitar sungai, mulai dari kuliner hingga seni pertunjukan.
- Inovasi dalam pewayangan, seperti yang ditunjukkan oleh pelajar Palembang dengan tokoh harimau dan SpongeBob, menjadi kunci agar seni tradisional tetap relevan bagi generasi muda.

Palembang, LyndHub — Sembilan sungai besar yang membelah Sumatera Selatan, yang dikenal sebagai Batanghari Sembilan, bukan sekadar aliran air; ia adalah denyut nadi yang menghidupi ekosistem lahan basah seluas tiga juta hektar dan menjadi sumber inspirasi bagi puluhan warisan budaya yang diakui dunia. Dari kuliner hingga seni pertunjukan, sungai-sungai ini telah membentuk peradaban yang terbuka dan egaliter, sebagaimana tercermin dalam berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini.
Provinsi yang dijuluki negeri "Batanghari Sembilan" ini memiliki sembilan sungai utama: Musi, Komering, Ogan, Lematang, Lakitan, Batanghari Leko, Kelingi, Rupit, dan Rawas. Jaringan sungai ini tidak hanya menjadi sumber air bersih dan transportasi, tetapi juga rumah bagi ribuan spesies, dari mikroorganisme hingga buaya. Menurut teori determinisme lingkungan yang digagas Friedrich Ratzel dan Ellsworth Huntington, kekayaan alam seperti ini secara langsung membentuk karakter masyarakat yang menghuninya—terbuka, setara, dan religius—yang kemudian memfasilitasi akulturasi budaya dengan peradaban Hindu-Buddha, Islam, dan Barat.
Dari 67 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan pemerintah hingga 2026, sekitar 18 di antaranya lahir dari interaksi erat masyarakat dengan sungai. Kuliner seperti pempek, pindang, dan bekasam, arsitektur tradisional rumah limas dan rumah rakit, hingga seni pertunjukan dulmuluk dan musik batanghari sembilan, semuanya berakar pada kehidupan riparian. Bahkan, seluruh cagar budaya tingkat nasional di Sumatera Selatan, seperti Goa Harimau di tepi Sungai Ogan dan Masjid Agung Palembang di tepi Sungai Musi, berada di kawasan aliran sungai.
Agung Saputro, Pelaksana Harian Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, mengungkapkan bahwa masih banyak tradisi yang sedang dikaji untuk diusulkan sebagai WBTb baru. "Kekayaan alam di sungai maupun di sekitarnya, baik satwa dan tanaman, telah melahirkan hubungan khusus dengan manusia sehingga melahirkan banyak pengetahuan yang akhirnya menjadi tradisi dan budaya," jelasnya. Salah satu contoh nyata adalah Wayang Palembang, yang merupakan akulturasi budaya agraris Jawa dengan budaya maritim Palembang. Bahan baku kulit kerbau yang mudah didapat dari masyarakat sekitar sungai menjadi alasan utama wayang kulit purwa ini dapat diterima dan berkembang di tanah Melayu.
Di tengah upaya pelestarian, muncul angin segar dari generasi muda. Fatimah Azzahra, siswi kelas VI SDN 185 Palembang, berhasil memenangkan lomba lukis wayang dengan menghadirkan tokoh-tokoh di luar pakem—harimau sumatera, kucing, bahkan SpongeBob. Imajinasinya yang liar, yang dituangkan dalam kanvas 40x30 sentimeter, mengalahkan peserta lain yang masih setia pada tokoh Mahabharata dan Ramayana. "Saya suka harimau dan kucing. Dua hewan ini menarik, lucu. SpongeBob tokoh kartun kesukaan saya," ujarnya polos. Meski belum pernah melihat harimau sumatera secara langsung, ia membayangkan pertemuan seru antara harimau dan SpongeBob dalam sebuah pertunjukan wayang.
Budayawan Palembang, Erwan Suryanegara, menilai inovasi semacam ini justru diperlukan agar wayang tetap hidup. "Wayang merupakan seni yang sangat terbuka. Jika ingin wayang terus bertahan, memang harus lebih inovatif," katanya. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah nilai-nilai luhur yang disampaikan, seperti pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Dengan demikian, wayang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang relevan dengan isu-isu kontemporer.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana pemerintah daerah dan para pegiat budaya dapat terus mendorong kreativitas semacam ini tanpa kehilangan esensi. Akankah tokoh-tokoh baru seperti harimau sumatera mampu menarik minat generasi digital untuk lebih mengenal warisan leluhur mereka? Atau justru akan menggeser pakem yang telah diwariskan selama berabad-abad? Yang jelas, sinergi antara pelestarian dan inovasi menjadi kunci agar kekayaan budaya Batanghari Sembilan tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga hidup dalam denyut masyarakatnya.



