Serangan Militan ke Pos Polisi di Pakistan Tewaskan 11 Personel, 15 Penyerang Dilumpuhkan
Baca dalam 60 detik
- Serangan brutal di distrik Hangu menewaskan 11 aparat, termasuk perwira senior yang memimpin bantuan.
- Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) diduga kuat di balik aksi ini, sejalan dengan peningkatan serangan di wilayah perbatasan.
- Insiden ini menyoroti kerentanan keamanan di Khyber Pakhtunkhwa dan memicu pertanyaan tentang efektivitas strategi kontra-teror Pakistan.

Sebelas personel kepolisian Pakistan tewas dalam serangan gerilyawan bersenjata berat yang menyasar pos jaga di Distrik Hangu, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Jumat dini hari. Insiden berdarah itu berlangsung sekitar satu jam dan berakhir dengan tewasnya 15 penyerang, menurut keterangan resmi kepolisian setempat.
Serangan yang terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan Afghanistan ini menambah panjang daftar kekerasan militan yang melanda Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Pos polisi Khazina menjadi sasaran utama, dan ketika pasukan bantuan dikirim, mereka justru disergap di tengah perjalanan. Sebuah kendaraan lapis baja rusak sebelum aparat berhasil melawan balik.
Korban tewas termasuk Diyar Khan, seorang perwira senior yang memimpin pasukan bantuan. Lebih dari dua lusin polisi lainnya dilaporkan luka-luka. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab, namun kecurigaan kuat mengarah pada Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok yang selama ini gencar melancarkan serangan terhadap aparat keamanan di kawasan tersebut.
Pakistan memang tengah menghadapi gelombang kekerasan militan yang meningkat, dan TTPโmeski terpisahโmemiliki hubungan erat dengan Taliban Afghanistan yang berkuasa sejak 2021. Islamabad berulang kali menuduh pemerintah Kabul memberikan perlindungan bagi militan TTP, tuduhan yang selalu dibantah Afghanistan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kompleksitas ancaman keamanan kawasan. Meski berbeda konteks, pola serangan terhadap aparat keamanan dan potensi jaringan lintas batas menjadi perhatian tersendiri, terutama dalam upaya deradikalisasi dan penguatan intelijen. Pengalaman Pakistan dalam menangani kelompok bersenjata bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara yang menghadapi tantangan serupa.
Meningkatnya frekuensi serangan TTP dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa kelompok tersebut masih memiliki kapasitas untuk melancarkan operasi mematikan, meskipun aparat keamanan Pakistan terus melakukan operasi pembersihan. Pertanyaannya, apakah strategi militer semata cukup untuk menekan akar kekerasan, atau diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk diplomasi dengan Afghanistan dan program deradikalisasi yang lebih masif?



