Rusia Gencar Rekrut Mahasiswa Asia dan Afrika: Strategi Soft Power di Tengah Sanksi Barat
Baca dalam 60 detik
- Kremlin menargetkan 500.000 mahasiswa asing pada 2030, naik dari sekitar 400.000 saat ini, untuk memperkuat pengaruh global.
- Universitas RUDN di Moskow mencatat Asia sebagai pasar terbesar, dengan lebih dari separuh mahasiswa Asia berasal dari Tiongkok.
- Langkah ini menjadi instrumen diplomasi publik Rusia untuk membangun jaringan elite masa depan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Moskow, LyndHub — Di tengah sanksi Barat yang terus menekan, Rusia menggenjot sektor pendidikan tinggi sebagai senjata diplomasi baru. Pemerintah menargetkan 500.000 mahasiswa internasional pada 2030, naik signifikan dari sekitar 400.000 saat ini. Langkah ini bukan sekadar mengejar jumlah, melainkan upaya sistematis membangun pengaruh jangka panjang di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan.
Angelicha Malau, mahasiswi asal Indonesia, adalah salah satu wajah baru dari strategi tersebut. Ia memilih Moskow daripada Beijing atau kampus dalam negeri untuk menempuh psikologi di Universitas RUDN. "Ini memberi pengalaman internasional, mengenal budaya baru, dan bertemu banyak orang dari berbagai negara," ujarnya. Kisah Malau mencerminkan daya tarik Rusia yang masih kuat di mata pelajar dari negara berkembang, meski hubungan politiknya dengan Barat memburuk.
Pergeseran ini paling terlihat di RUDN, di mana Asia kini menjadi pasar rekrutmen terbesar. Sekitar 4.500 mahasiswa berasal dari Asia, dan lebih dari separuhnya dari Tiongkok. Bagi banyak pelajar, ketegangan geopolitik bukan penghalang utama. Yang lebih menentukan adalah biaya kuliah yang relatif terjangkau serta kualitas program di bidang kedokteran, teknik, dan teknologi informasi—sektor yang justru sulit diakses di negara asal mereka.
Nop Laopanich, mahasiswa asal Thailand, mengaku belajar di Rusia memberinya peluang yang tak ia dapatkan di negerinya sendiri. "Saya ingin mencoba hal baru. Di sini saya belajar sesuatu yang mungkin tidak diajarkan di Thailand. Menguasai bahasa Rusia sangat penting untuk bekerja sama dengan perusahaan Rusia," katanya. Namun ia juga mengakui masih banyak pelajar Thailand yang minim informasi tentang pendidikan di Rusia—sebuah tantangan yang tengah dijawab universitas dengan kampanye penjangkauan.
Bagi Kremlin, pendidikan internasional bukan hanya soal mengisi bangku kuliah. Marina Rekets, wakil rektor RUDN untuk urusan internasional, menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan adalah cara meningkatkan citra negara sekaligus investasi untuk hubungan jangka panjang. Pandangan ini diperkuat analis yang menyebut lulusan asing kerap menjadi pemimpin bisnis, profesional, hingga pejabat pemerintah di negara asalnya—jaringan yang sangat berharga bagi kepentingan Rusia.
Maria Prokofieva, direktur Pusat Interaksi dan Kerja Sama Internasional, organisasi diplomasi publik Rusia, menyebut strategi ini punya dua sisi: ekonomi dan politik. "Ada minat untuk mendatangkan tenaga ahli ke pasar tenaga kerja kami, tetapi tentu saja tujuan membangun jembatan kerja sama juga ada di sana," ujarnya. "Pendidikan dan kerja sama dengan generasi muda yang akan menentukan masa depan negara-negara itu sangat vital bagi kami."
Untuk menarik minat, pemerintah Rusia menawarkan sekitar 30.000 beasiswa negara setiap tahun dan menyederhanakan prosedur pendaftaran. Namun persaingan merebut mahasiswa internasional ketat. Sanksi Barat dan melemahnya kemitraan akademik dengan universitas Eropa dan Amerika Utara sejak konflik Ukraina menimbulkan keraguan atas nilai gelar Rusia. Meski begitu, upaya ini menegaskan bahwa pendidikan telah menjadi alat diplomasi yang semakin penting—pertanyaannya, apakah Rusia mampu memenuhi target ambisiusnya di tengah isolasi yang berkepanjangan?



