Tonali Buka Suara: Tottenham Pilihan Terbaik, Pulang ke Italia Gagal karena Biaya Transfer
Baca dalam 60 detik
- Gelandang timnas Italia, Sandro Tonali, mengungkap alasan memilih Tottenham Hotspur sebagai pelabuhan baru setelah hengkang dari Newcastle United.
- Kepindahan ke London utara terjadi setelah rencana kembali ke Serie A kandas lantaran klub-klub Italia tidak mampu memenuhi banderol transfer yang diminta Newcastle.
- Tonali mengaku langsung yakin bergabung dengan Spurs dalam 15 menit pertama berdiskusi dengan pelatih Roberto De Zerbi, meski sadar harga mahalnya membawa tekanan besar.

Sandro Tonali akhirnya angkat bicara soal kepindahannya ke Tottenham Hotspur. Gelandang asal Italia itu menegaskan bahwa langkahnya ke London utara merupakan keputusan terbaik bagi karier dan keluarganya, setelah resmi meninggalkan Newcastle United pada bursa transfer musim panas ini.
Dalam wawancara yang dikutip BBC Sport, Tonali mengaku sempat berkomunikasi dengan dua klub sebelum akhirnya memilih skuad asuhan Roberto De Zerbi. Namun, kesan pertama yang ia dapatkan dari Spurs begitu kuat sehingga keraguan langsung sirna. “Saat berbicara dengan sebuah tim, kesan pertama adalah hal besar dan kesan saya sangat positif,” ujarnya. “Ketika Anda bahagia setelah obrolan sepuluh menit, itu segalanya, semuanya sempurna.”
Keputusan ini sekaligus memupus harapan para penggemar Serie A yang berharap melihat Tonali kembali ke Italia. Ia mengakui bahwa dirinya dan keluarga sebenarnya sudah bulat untuk pulang kampung, tetapi kenyataan finansial menjadi tembok yang tak bisa ditembus. “Kami sudah memutuskan untuk kembali ke Italia, tetapi itu mustahil karena masalah uang,” ungkapnya. Klub-klub di Semenanjung itu sanggup membayar gajinya, tetapi tidak mampu memenuhi nilai transfer yang diminta Newcastle.
Meski demikian, Tonali menegaskan bahwa kepindahannya bukanlah kritik terhadap Newcastle. Ia justru menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada mantan pelatih Eddie Howe, yang digambarkannya sebagai sosok “fantastis” dalam perkembangannya. “Dia luar biasa bagi saya,” kata Tonali, seraya menambahkan bahwa ia berusaha memberikan yang terbaik untuk Newcastle karena klub itu “pantas mendapatkan segalanya”.
Ia juga sadar bahwa harga mahal yang melekat padanya akan membawa ekspektasi tinggi. “Ada banyak tekanan,” akunya. Namun, ia meyakini bahwa tekanan itu justru menjadi motivasi untuk membuktikan diri di panggung Premier League. Dukungan fanatik pendukung St James' Park yang ia tinggalkan juga menjadi kenangan manis yang akan terus ia bawa.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kepindahan Tonali menjadi cermin bagaimana kompetisi domestik harus berbenah. Jika Italia saja kesulitan bersaing secara finansial dengan Inggris, bagaimana dengan klub-klub Asia Tenggara yang kerap kehilangan bintang mudanya ke Eropa? Pertanyaan ini relevan mengingat Liga 1 Indonesia juga tengah berupaya meningkatkan daya saing di kancah regional.
Ke depan, semua mata akan tertuju pada bagaimana Tonali beradaptasi dengan gaya bermain De Zerbi yang dikenal intens dan menuntut kecerdasan taktis. Apakah ia akan menjadi jenderal lini tengah yang selama ini dicari Spurs, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan Premier League? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: keputusan berani ini akan menjadi ujian besar bagi karier pemain berusia 24 tahun tersebut.



