Piala Dunia Jadi Medan Perang: Montagliani Siap Tantang Infantino di Pemilihan Presiden FIFA
Baca dalam 60 detik
- Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, dikabarkan sedang mempersiapkan langkah untuk menantang Gianni Infantino pada pemilihan presiden FIFA Maret 2025.
- Rencana FIFA membentuk anak usaha senilai US$20 miliar untuk Piala Dunia memicu penolakan dari konfederasi regional, termasuk CONCACAF yang menilai prosesnya tidak transparan.
- Jika Montagliani maju, ini akan menjadi tantangan serius pertama bagi Infantino dalam satu dekade terakhir, dengan implikasi besar bagi tata kelola sepak bola global dan posisi negara-negara berkembang.

Langkah politik di balik layar sepak bola global mulai memanas. Victor Montagliani, presiden Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), dikabarkan sedang menyusun strategi untuk menantang Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Maroko pada 18 Maret 2025. Kabar ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap kepemimpinan Infantino, terutama setelah proposal kontroversial FIFA untuk menjual saham Piala Dunia menuai penolakan luas dari berbagai konfederasi.
Menurut laporan The i Paper yang dirilis Jumat lalu, Montagliani telah melakukan "langkah-langkah nyata" untuk mempersiapkan pencalonannya. Meski belum ada pernyataan resmi dari kubu Montagliani, sumber internal menyebut bahwa ia tengah menggalang dukungan dari federasi-federasi nasional, terutama di kawasan yang selama ini merasa kurang terwakili dalam pengambilan keputusan FIFA. Jika benar, ini akan menjadi tantangan serius pertama bagi Infantino sejak ia menjabat pada 2016.
Infantino sendiri telah mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri untuk periode keempat pada April lalu. Namun, dukungan yang selama ini solid mulai goyah setelah FIFA mengusulkan pembentukan anak usaha senilai US$20 miliar yang terkait dengan Piala Dunia. Proposal ini dinilai banyak pihak sebagai upaya untuk mengkomersialisasi turnamen secara berlebihan tanpa melibatkan konfederasi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pertemuan Kamis lalu, 41 asosiasi anggota CONCACAF secara bulat menolak proposal tersebut, meskipun mereka tidak sampai mendukung seruan boikot dari UEFA.
Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) juga menyatakan akan meninjau rencana tersebut sebelum menentukan sikap final. Sementara itu, CONCACAF dalam pernyataannya mengungkapkan "kekhawatiran mendalam" atas kurangnya proses yang transparan, tenggat waktu yang terlalu singkat, dan tidak adanya mekanisme persetujuan dari badan-badan tata kelola FIFA yang relevan. Ini menjadi sinyal bahwa solidaritas di antara konfederasi mulai retak, dan Infantino tidak lagi bisa mengandalkan dukungan otomatis seperti sebelumnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam arah kebijakan FIFA, terutama terkait komersialisasi Piala Dunia dan distribusi pendapatan ke negara-negara berkembang. Jika Montagliani benar-benar maju dan menang, ada kemungkinan besar prioritas FIFA akan bergeser ke arah pemerataan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kompetitivitas tim-tim non-unggulan. Namun, jika Infantino tetap bertahan, status quo kemungkinan akan berlanjut, dengan fokus pada ekspansi pasar dan kemitraan komersial yang agresif.
Para analis menilai bahwa langkah Montagliani, jika terwujud, akan mengubah peta kekuatan di FIFA. Montagliani, yang juga menjabat sebagai wakil presiden FIFA, dianggap memiliki kredibilitas untuk menjembatani kepentingan berbagai konfederasi. Ia juga dikenal dekat dengan isu-isu pengembangan sepak bola di kawasan yang kurang diperhatikan, seperti Amerika Tengah dan Karibia. Namun, tantangan terbesarnya adalah melawan mesin politik Infantino yang telah terbukti mampu mempertahankan kekuasaan melalui aliansi strategis dengan federasi-federasi di Afrika dan Asia.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Montagliani akan berani mengambil risiko politik yang besar ini? Atau akankah ia mundur sebelum pertarungan benar-benar dimulai? Yang jelas, keputusan ini tidak hanya akan menentukan masa depan FIFA, tetapi juga arah sepak bola global dalam dekade berikutnya. Bagi Indonesia, ini adalah momen untuk mencermati siapa yang akan memimpin organisasi yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sepak bola nasional, mulai dari program pengembangan usia muda hingga peluang menjadi tuan rumah turnamen internasional.



