Sony Akui Marathon Season 2 Sukses, tapi Angka Pemain Masih Jauh dari Ekspektasi
Baca dalam 60 detik
- Sony menyatakan kepuasan atas performa Marathon Season 2, dengan retensi pemain yang disebut tinggi dan perolehan pengguna baru.
- Meski demikian, data Steam menunjukkan puncak pemain bersamaan baru mencapai 6.271, mengindikasikan basis pemain yang masih kecil.
- Ke depannya, Bungie perlu membuktikan diri dengan konten berkala dan perbaikan reputasi pasca PHK untuk mempertahankan momentum.

Dalam laporan keuangan kuartal yang berakhir 30 Juni 2026, Sony akhirnya angkat bicara mengenai nasib Marathon, game tembak-menembak kompetitif besutan Bungie. Meski hanya melontarkan pernyataan singkat, raksasa elektronik Jepang itu mengaku puas dengan peluncuran Season 2 yang disebut mampu menjaga tingkat retensi pemain tetap tinggi sekaligus menarik pengguna anyar.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar di tengah hubungan yang memanas antara Sony dan Bungie. Sebelumnya, pengembang asal Seattle itu menjadi sorotan tajam akibat kegagalan pengembangan Destiny 2 dan gelombang PHK yang terjadi pada bulan lalu. Alhasil, dalam agenda pengumuman hasil finansial, tak banyak detail yang dibeberkan mengenai proyek ambisius yang sempat dianggap sebagai penantang genre hero shooter ini.
"Dengan dirilisnya Season 2 pada bulan Juni, Marathon berhasil mempertahankan tingkat retensi pengguna yang tinggi sekaligus memperoleh pengguna baru," demikian bunyi pernyataan resmi Sony, seperti dikutip dari laporan pendapatan mereka. Namun, tanpa disertai angka pasti, klaim tersebut masih menyisakan tanda tanya besar.
Jika dibandingkan dengan standar industri, angka 6.271 pemain bersamaan di Steam jelas masih jauh dari kata sukses. Sebagai gambaran, game sejenis seperti Valorant atau Apex Legends bisa menembus ratusan ribu pemain harian. Meski Marathon juga tersedia di konsol PlayStation, data Steam kerap menjadi indikator awal kesehatan basis pemain sebuah game PC. Dengan demikian, pernyataan Sony yang optimis itu tampak kontradiktif dengan realitas di lapangan.
Bagi pengamat industri, keberhasilan Marathon Season 2 sebenarnya tidak bisa diukur hanya dari retensi. "Retensi tinggi memang penting, tetapi tanpa pertumbuhan basis pemain yang signifikan, game live-service akan kesulitan menghasilkan pendapatan berkelanjutan," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa Bungie perlu membuktikan diri dengan merilis konten berkala dan memperbaiki reputasi setelah kontroversi PHK.
Di Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Pasar game Tanah Air dikenal sangat responsif terhadap game kompetitif, terutama yang memiliki turnamen resmi dan dukungan komunitas lokal. Namun, Marathon belum menunjukkan jejak yang kuat di kancah esports Indonesia. Minimnya sosialisasi dan belum adanya server regional bisa menjadi penghambat adopsi. Jika Sony serius ingin memperluas pasar, mereka perlu mempertimbangkan strategi lokalisasi dan dukungan turnamen di Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bungie mampu mempertahankan momentum Season 2 dan mengubahnya menjadi basis pemain yang stabil. Jadwal rilis konten, respons terhadap masukan komunitas, serta pemulihan citra perusahaan akan menjadi faktor penentu. Akankah Marathon menjadi pesaing serius di genre hero shooter, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah Bungie? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan untuk membuktikan diri kini berada di pundak para pengembang.



