Ekonomi Korea Utara Tumbuh 3,5% di 2025, Terbesar Ketiga Beruntun: Dukungan Rusia Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Bank of Korea memperkirakan PDB Korea Utara tumbuh 3,5% pada 2025, melanjutkan tren pertumbuhan di atas 3% selama tiga tahun berturut-turut.
- Kerja sama ekonomi dan militer dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan dan amunisi, menjadi pendorong utama pertumbuhan, terutama di sektor manufaktur dan konstruksi.
- Peningkatan pendapatan devisa dari pengiriman tentara ke Rusia turut mendongkrak pendapatan nasional bruto Korea Utara hingga 9,4% pada tahun lalu.

Bank sentral Korea Selatan, Bank of Korea (BoK), memperkirakan ekonomi Korea Utara tumbuh 3,5 persen pada 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan di atas 3 persen. Angka ini menjadi sorotan karena Pyongyang tidak pernah merilis data resmi, sehingga estimasi BoK menjadi salah satu indikator utama kondisi ekonomi negara yang terisolasi itu.
Dalam laporan yang dirilis Jumat (31/7), BoK menyebut produk domestik bruto (PDB) riil Korea Utara mencapai 38,26 triliun won (sekitar US$26,7 miliar) pada 2025. Pertumbuhan ini tidak lepas dari semakin eratnya kerja sama ekonomi dan militer dengan Rusia. Pyongyang dilaporkan memasok pasukan dan amunisi untuk perang Moskow di Ukraina, dan sebagai imbalannya menerima bantuan finansial, pangan, energi, serta teknologi militer.
Seorang pejabat BoK yang enggan disebut namanya mengungkapkan kepada AFP bahwa perluasan kerja sama ekonomi dengan Rusia menjadi pendorong utama pertumbuhan Korea Utara tahun lalu. Ekspor senjata ke Rusia meningkatkan produksi manufaktur terkait, sementara meningkatnya kunjungan turis Rusia dan perluasan koneksi transportasi turut mengangkat sektor konstruksi dan jasa.
Data BoK juga menunjukkan ekspor Korea Utara melonjak 30 persen menjadi US$470 juta pada 2025, didorong oleh komoditas seperti bulu olahan, wig, serta mainan dan peralatan olahraga yang tidak dirinci. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat biaya kemanusiaan yang besar. Kyiv Independent, mengutip badan intelijen militer Ukraina, melaporkan lebih dari 7.000 tentara Korea Utara tewas atau terluka saat bertempur bersama pasukan Rusia di wilayah Kursk selama kampanye 2024-2025.
Selain itu, kelompok hak asasi Ukraina, Truth Hounds, mengklaim Rusia dan Korea Utara hampir menyelesaikan jembatan jalan pertama yang menghubungkan kedua negara. Jembatan tersebut, menurut laporan mereka, dapat menjadi "arteri langsung" untuk memindahkan pasukan, brigade konstruksi, dan pejabat militer Korea Utara ke Rusia, sementara teknologi dan sumber daya Rusia mengalir ke arah sebaliknya. Klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Pejabat BoK juga mencatat bahwa pendapatan nasional bruto (GNI) Korea Utara menerima dorongan dari lonjakan pendapatan devisa yang terkait dengan pengiriman pasukan ke Rusia. GNI, yang mengukur total pendapatan yang diperoleh seluruh penduduk, naik 9,4 persen menjadi 48,5 triliun won (US$33,8 miliar) tahun lalu. Meski demikian, angka tersebut masih kurang dari 2 persen dari GNI Korea Selatan, menunjukkan kesenjangan ekonomi yang sangat lebar di Semenanjung Korea.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang selama ini aktif dalam forum regional dan memiliki hubungan diplomatik dengan kedua Korea, stabilitas di Semenanjung Korea berdampak pada arus perdagangan dan investasi di Asia Timur. Selain itu, keterlibatan Korea Utara dalam konflik Ukraina menunjukkan bagaimana negara kecil dapat memanfaatkan situasi geopolitik untuk kepentingan ekonominya, sebuah pelajaran yang bisa dipetik dalam konteks politik luar negeri yang dinamis.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi Korea Utara yang bergantung pada hubungan dengan Rusia menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutannya. Apakah Pyongyang akan terus mengandalkan Moskow, atau akankah tekanan internasional dan biaya kemanusiaan yang tinggi memaksa mereka mencari alternatif? Yang jelas, dinamika ini akan terus memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan, dan Indonesia perlu mencermati perkembangannya.



