Geraldine Low Resmi Pimpin NEA Singapura, Tugas Berat Menanti di Tengah Tekanan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura menunjuk Geraldine Low sebagai CEO NEA yang baru, efektif 1 September.
- Low membawa pengalaman luas di perencanaan kota dan transportasi, yang dinilai krusial untuk menghadapi tantangan lingkungan perkotaan.
- Perombakan kepemimpinan ini terjadi di tengah meningkatnya fokus global pada aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah Singapura kembali merombak jajaran pimpinan lembaga lingkungannya. Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan (MSE) mengumumkan penunjukan Geraldine Low sebagai Kepala Eksekutif Badan Lingkungan Nasional (NEA) yang baru, efektif 1 September mendatang. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan untuk mempercepat transisi hijau dan mengatasi dampak perubahan iklim di negara kota tersebut.
Low, yang saat ini menjabat Deputi Sekretaris (Pembangunan) di Kementerian Pembangunan Nasional (MND), akan menggantikan Dr. Benjamin Koh yang telah mengisi posisi tersebut sebagai CEO sementara sejak 1 Juni. Koh sendiri akan kembali ke peran sebelumnya sebagai Deputi Sekretaris (Keberlanjutan) di MSE. Pergantian ini merupakan bagian dari rotasi rutin pejabat senior di lingkungan layanan publik Singapura, yang kerap dilakukan untuk menyegarkan perspektif dan memperluas pengalaman kepemimpinan.
Perjalanan karier Low selama lebih dari dua dekade di berbagai kementerian memberikan landasan kuat untuk memimpin NEA. Sebelum menjabat di MND, ia tercatat sebagai Deputi Sekretaris (Perencanaan) di kementerian yang sama pada periode 2021โ2023. Sebelumnya, ia mengabdi di Kementerian Transportasi (MOT) dari 2017 hingga 2021, dengan portofolio yang mencakup kebijakan transportasi darat. Ia juga pernah bertugas di Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perdagangan dan Industri, serta Kementerian Pertahanan.
Keahlian Low dalam perencanaan kota dan transportasi dipandang relevan dengan tantangan NEA ke depan, terutama dalam mengelola isu-isu seperti pengelolaan limbah, kualitas udara, dan ketahanan pangan. Singapura, yang dikenal dengan pendekatan teknokratis dalam tata kelola lingkungan, kini menghadapi target ambisius untuk mencapai emisi net-zero pada 2050. NEA akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan target tersebut, termasuk melalui kebijakan pengurangan plastik sekali pakai dan perluasan infrastruktur daur ulang.
Bagi Indonesia, pergantian kepemimpinan di NEA Singapura menarik untuk dicermati. Singapura kerap menjadi rujukan dalam pengelolaan lingkungan perkotaan di Asia Tenggara. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan NEA, seperti pengelolaan sampah terpadu dan insentif untuk kendaraan ramah lingkungan, sering menjadi model bagi kota-kota besar di kawasan, termasuk Jakarta. Kolaborasi lintas negara dalam isu lingkungan, seperti polusi asap lintas batas dan pengelolaan sampah laut, juga akan terus membutuhkan sinergi antara kedua negara.
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa penunjukan Low mencerminkan keseriusan pemerintah Singapura dalam mengintegrasikan agenda lingkungan dengan perencanaan pembangunan. "Low memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengoordinasikan kebijakan lintas sektor. Ini penting karena tantangan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara parsial," ujar seorang analis kebijakan yang enggan disebutkan namanya.
Dengan latar belakang yang dimilikinya, Low diharapkan mampu membawa NEA ke arah yang lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan warga. Namun, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah ia menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan dalam situasi yang semakin kompleks? Hanya waktu yang akan membuktikan.



