Duka Sepak Bola Italia: Franco Baresi Tutup Usia, Upacara Pemakaman Digelar 4 Agustus
Baca dalam 60 detik
- Legenda AC Milan, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun, memicu gelombang belasungkawa dari rekan setim dan penggemar di seluruh dunia.
- Pemakaman akan digelar di Basilika Sant'Ambrogio, Milan, pada 4 Agustus, dengan Roberto De Zerbi menyebut Baresi lebih hebat dari Maldini.
- Kepergian Baresi meninggalkan warisan tak tergantikan sebagai libero terbaik, menginspirasi generasi pemain dan mengukuhkan era keemasan Milan.

Dunia sepak bola Italia berduka. Franco Baresi, kapten legendaris AC Milan yang membawa klub meraih kejayaan pada era 1980-an dan 1990-an, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Kabar duka ini memicu banjir penghormatan dari mantan rekan setim, pelatih, dan penggemar di berbagai belahan dunia. Upacara pemakaman dijadwalkan berlangsung di Basilika Sant'Ambrogio, Milan, pada Selasa, 4 Agustus, mulai pukul 11.00 waktu setempat.
Baresi, yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya di AC Milan, dikenal sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa. Ia adalah simbol dari era keemasan Rossoneri di bawah arahan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, ketika Milan mendominasi Italia dan Eropa. Sepanjang kariernya, Baresi memenangkan enam gelar Serie A, tiga Piala Champions, dan dua Intercontinental Cup, menjadikannya ikon global. Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar, tidak hanya bagi Milan, tetapi juga bagi sepak bola Italia yang kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Mantan rekan setimnya, Filippo Galli, yang bermain bersama Baresi di lini belakang Milan, mengenang sosoknya sebagai pemimpin sejati. Dalam wawancara dengan RTL 102.5, Galli mengungkapkan bahwa Baresi adalah kapten yang disegani, yang mampu mengendalikan ruang ganti hanya dengan satu tatapan. "Dia akan selalu menjadi Kapten bagi saya. Kami adalah sekelompok pemain yang ramai, tetapi saat kami mulai melampaui batas, dia hanya perlu menoleh dan menatap kami, dan kami semua langsung menunduk," kenang Galli. Pernyataan ini menggambarkan otoritas alami Baresi yang tidak perlu diucapkan, tetapi dirasakan oleh semua rekan setimnya.
Sementara itu, Daniele Massaro, mantan penyerang Milan yang juga pernah menjadi bagian dari skuad sukses tersebut, menyampaikan penghormatan emosional melalui unggahan Instagram. Massaro menulis, "Sulit menemukan kata-kata ketika Anda kehilangan seseorang yang menjadi bagian dari hidup Anda. Bagi dunia, Anda adalah Kapten, legenda sepak bola. Bagi saya, Anda adalah Franco, sahabat yang berbagi tahun-tahun tak terlupakan dengan saya, emosi yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada di ruang ganti itu, momen yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh waktu." Ia menambahkan, "Hari ini rasa sakitnya terasa kuat, tetapi yang lebih besar adalah rasa syukur karena telah memiliki Anda di sisi saya selama ini. Saya akan mengingat tawa, pelukan, keheningan, saling menghormati, dan semua yang tidak bisa dijelaskan dalam foto. Ciao Franco, sahabatku. Beristirahatlah dengan tenang. Anda adalah Libero abadi."
Roberto De Zerbi, pelatih Tottenham Hotspur yang kini sedang menjalani tur pramusim, juga memberikan penghormatan khusus. De Zerbi, yang tumbuh di akademi Milan dan sempat berlatih bersama Baresi di Milanello, menyebut Baresi sebagai bek terbaik di dunia. "Saya tumbuh di Akademi Milan ketika saya masih muda, jadi ketika saya berusia 15 atau 16 tahun, saya sering bekerja dengan tim utama," jelas De Zerbi dalam konferensi pers. "Saya pikir dia adalah bek terbaik di dunia. Kapten hebat, pemain hebat, dan saya sangat sedih untuknya. Kapten Milan, tetapi juga kapten tim nasional." De Zerbi bahkan berani membandingkan Baresi dengan Paolo Maldini, legenda Milan lainnya, dengan mengatakan, "Mungkin lebih baik dari Maldini, dan Maldini adalah pemain top, top, top, tetapi Baresi luar biasa." Pernyataan ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan De Zerbi terhadap kemampuan Baresi di lapangan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kepergian Baresi terasa sangat dekat. Era kejayaan Milan pada 1990-an adalah masa ketika banyak penggemar Indonesia mulai mengikuti Serie A, dan Baresi adalah salah satu ikon yang paling dikagumi. Gaya bermainnya yang elegan sebagai libero, dengan kemampuan membaca permainan yang luar biasa, menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda di Indonesia. Meskipun tidak ada hubungan langsung dengan sepak bola Indonesia, warisan Baresi mengajarkan tentang dedikasi, loyalitas, dan kepemimpinan yang bisa menjadi teladan bagi para pemain dan penggemar di tanah air.
Kepergian Baresi juga menandai berakhirnya sebuah era dalam sepak bola Italia. Ia adalah salah satu dari generasi terakhir pemain yang menghabiskan seluruh kariernya di satu klub, sebuah fenomena yang semakin langka di era modern. Dengan meninggalnya Baresi, pertanyaan yang muncul adalah: akankah ada lagi pemain dengan loyalitas dan kualitas seperti dirinya? Atau apakah sepak bola modern telah mengubah nilai-nilai tersebut? Yang jelas, nama Franco Baresi akan selalu dikenang sebagai salah satu legenda terbesar yang pernah ada, dan pengaruhnya akan terus terasa dalam dunia sepak bola untuk waktu yang lama.



