Chelsea Didenda Rp200 Miliar atas Pelanggaran Transfer Era Abramovich, Poin Diskon di Batalkan
Baca dalam 60 detik
- Klub London Barat itu mengakui pembayaran gelap senilai 47 juta pound kepada agen tak terdaftar dalam kurun 2011-2018.
- Sanksi denda awal 26 juta pound dipangkas bertahap menjadi 10 juta pound berkat kerja sama dan pengakuan cepat dari pemilik baru.
- Pengurangan enam poin yang sempat digantung hingga 2027 resmi dihapus, namun larangan registrasi pemain tetap mengancam dua bursa transfer.

Chelsea harus membayar denda 10 juta pound sterling atau setara Rp200 miliar sebagai konsekuensi atas pelanggaran regulasi pembayaran kepada agen yang terjadi pada era kepemilikan Roman Abramovich. Selain denda, klub Premier League itu juga menerima hukuman larangan mendaftarkan pemain baru selama dua bursa transfer yang ditangguhkan, sebuah sanksi yang bisa aktif kembali jika terjadi pelanggaran serupa dalam kurun waktu tertentu.
Pengumuman ini menjadi babak baru dari penyelidikan panjang Federasi Sepak Bola Inggris (FA) terhadap praktik keuangan Chelsea di masa lalu. Ketika Todd Boehly dan konsorsium Clearlake Capital mengambil alih klub pada 2022, mereka secara sukarela melaporkan 74 dugaan pelanggaran aturan FA. Langkah ini dinilai sebagai upaya membersihkan reputasi klub yang selama ini diselimuti berbagai kontroversi finansial.
Dari total pelanggaran yang terungkap, Chelsea mengakui telah melakukan pembayaran rahasia senilai 47 juta pound kepada agen dan pihak ketiga yang tidak terdaftar, terutama dalam rentang waktu 2011 hingga 2018. Praktik semacam ini jelas melanggar regulasi yang mewajibkan semua transaksi terkait transfer pemain harus transparan dan melalui saluran resmi.
Keputusan FA untuk mengurangi denda secara signifikan menunjukkan apresiasi terhadap sikap kooperatif Chelsea. Namun, FA juga menegaskan bahwa penyelidikan terhadap individu-individu yang terlibat dalam kasus ini masih terus berlanjut. Ini berarti kasus ini belum sepenuhnya selesai dan bisa saja muncul nama-nama baru yang ikut terseret.
Menariknya, semua pelanggaran ini terjadi di bawah kepemilikan Roman Abramovich, miliarder Rusia yang kemudian dijatuhi sanksi oleh pemerintah Inggris pada Maret 2022 terkait dugaan hubungan dekat dengan Presiden Vladimir Putin. Abramovich membantah tuduhan tersebut, namun sanksi itu memaksanya melepas Chelsea melalui skema khusus yang memastikan ia tidak mengambil keuntungan dari penjualan klub.
Bagi pengamat sepak bola, kasus ini menjadi preseden penting tentang bagaimana klub-klub besar bisa terkena dampak dari praktik masa lalu yang tidak transparan. Chelsea sendiri sebenarnya sudah menerima hukuman dari UEFA dan Premier League atas pelanggaran serupa, sehingga denda kali ini menjadi bagian dari rangkaian sanksi yang harus ditanggung klub London Barat itu.
Di Indonesia, kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub profesional yang sedang berkembang. Regulasi yang ketat dan pengawasan yang transparan adalah kunci untuk menjaga integritas kompetisi. Klub-klub Indonesia yang mulai banyak berinvestasi di bursa transfer perlu memastikan semua transaksi dilakukan sesuai aturan untuk menghindari sanksi serupa di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Chelsea mampu menjaga kepatuhan di bawah kepemilikan baru, atau justru akan kembali terjerat masalah serupa. Dengan larangan registrasi yang masih menggantung, setiap langkah Chelsea di bursa transfer akan diawasi ketat. Apakah ini akhir dari praktik lama yang kelam, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya?



