Dr. Alex George dan Dr. Nighat Arif Siap Bedah Klaim Kesehatan Viral di Serial BBC 'Clickbait Clinic'
Baca dalam 60 detik
- Dokter sekaligus kreator konten, Dr. Alex George dan Dr. Nighat Arif, bergabung dengan Stacey Dooley dalam serial BBC yang menguji kebenaran tren kesehatan di media sosial.
- Serial enam episode ini akan mengupas tuntas berbagai klaim viral, mulai dari diet karnivora hingga pengobatan cacingan pada anjing yang disebut bisa menyembuhkan kanker.
- BBC menilai program ini krusial di tengah banjir misinformasi kesehatan, dengan harapan mampu menyelamatkan nyawa melalui edukasi publik.

Dokter sekaligus kreator konten, Dr. Alex George dan Dr. Nighat Arif, resmi bergabung dalam serial dokumenter BBC terbaru, Clickbait Clinic, yang dipandu Stacey Dooley. Program ini berupaya menguak fakta di balik tren kesehatan yang marak beredar di media sosial, sebuah fenomena yang kian mengkhawatirkan di tengah derasnya arus informasi tanpa verifikasi.
Stacey Dooley, pembawa acara berusia 38 tahun yang dikenal dengan gaya dokumenternya yang dekat dengan masyarakat, akan menggali berbagai klaim kesehatan yang viral. Bersama dua tenaga medis tersebut, mereka akan menelusuri kebenaran di balik tren seperti diet karnivora, operasi pemanjangan kaki ekstrem, hingga penggunaan metilen biru dan obat cacing anjing yang diyakini sebagian orang dapat menyembuhkan kanker. Serial enam episode ini dijadwalkan tayang di BBC One dan iPlayer pada akhir tahun ini.
Dr. Alex George, mantan kontestan Love Island yang juga mantan dokter Unit Gawat Darurat, mengaku antusias menelusuri klaim-klaim tersebut. Menurutnya, pengalamannya sebagai dokter dan pengguna media sosial memberinya perspektif unik. Ia merasa tertantang untuk mengeksplorasi tren kesehatan yang beredar, baik dari sisi medis maupun dari sudut pandang masyarakat awam yang kerap mencari jawaban secara daring.
Sementara itu, Dr. Nighat Arif, seorang dokter umum dan penulis, menyebut proyek ini sebagai 'proyek impian'. Ia kerap menyaksikan dampak buruk dari nasihat kesehatan yang keliru di ruang praktiknya. Baginya, membantu penonton memilah informasi yang berbasis bukti dan yang berpotensi membahayakan adalah sebuah kebutuhan mendesak. Ia berharap penonton mampu bertanya, apakah sebuah tren kesehatan itu didukung sains atau justru berisiko.
Stacey Dooley sendiri sebelumnya telah mengungkapkan kegembiraannya. Menurutnya, media sosial dipenuhi tips kesehatan, namun sulit membedakan mana yang kredibel. Ia tidak sabar untuk mendengar pendapat para ahli dan bertemu dengan mereka yang berada di balik tren kesehatan terbesar di dunia maya.
- Serial Clickbait Clinic terdiri dari 6 episode dan tayang di BBC One serta iPlayer.
- Topik yang dibahas meliputi diet karnivora, operasi pemanjangan kaki, testosteron, metilen biru, dan obat cacing anjing.
- Dr. Alex George adalah mantan dokter A&E dan mantan kontestan Love Island.
- Dr. Nighat Arif adalah dokter umum (GP) dan penulis buku kesehatan.
BBC meyakini program ini dapat mengubah hidup, bahkan menyelamatkan nyawa. Jack Bootle, Kepala Komisioning Faktual Spesialis BBC, menegaskan bahwa di tengah derasnya misinformasi kesehatan di media sosial, kebutuhan akan program yang memisahkan fakta dan fiksi belum pernah sebesar ini. Ia menambahkan, serial ini akan menunjukkan tren kesehatan mana yang layak dipercaya dan mana yang sebaiknya diabaikan, serta mengungkap asal-usul tren kesehatan paling aneh di dunia.
Arif Nurmohamed, Produser Eksekutif, menambahkan bahwa timnya akan menyelami dunia kesehatan daring yang liar, memisahkan antara sensasi dan harapan. Dengan Stacey sebagai pemimpin, ia yakin kombinasi empati dan rasa ingin tahu akan menjadi kekuatan program ini.
Fenomena tren kesehatan viral sebenarnya juga menjadi perhatian di Indonesia. Banyak masyarakat yang mudah tergoda oleh informasi kesehatan yang beredar di media sosial, mulai dari diet ekstrem hingga pengobatan alternatif yang belum terbukti ilmiah. Kehadiran program seperti Clickbait Clinic setidaknya memberikan gambaran bagaimana media arus utama dapat berperan dalam meluruskan informasi. Namun, apakah program semacam ini akan efektif mengubah perilaku masyarakat yang sudah telanjur percaya pada klaim kesehatan yang menyesatkan? Pertanyaan ini layak direnungkan, terutama bagi para pembuat kebijakan dan praktisi media di tanah air.



