Houthi Lumpuhkan Pipa Minyak Saudi, Harga Minyak Dunia Kembali di Atas US$100
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Houthi melumpuhkan pipa minyak Saudi sepanjang 1.200 km, memicu kekhawatiran pasokan global.
- Harga minyak mentah menembus US$100 per barel, sementara stok penyangga di Yanbu hanya cukup untuk 5-7 hari.
- Bagi Indonesia, lonjakan ini berpotensi memperlebar defisit APBN dan menekan daya beli masyarakat.

Serangan pesawat nirawak yang melumpuhkan jalur pipa minyak utama Arab Saudi sepanjang 1.200 kilometer telah mendorong harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Insiden pada Jumat (11/9/2026) itu menjadi pukulan terbaru bagi pasar energi global yang sebelumnya sempat menunjukkan tanda pemulihan pada Agustus.
Pipa yang membentang dari timur ke barat Semenanjung Arab tersebut selama ini berfungsi sebagai jalur alternatif untuk mengirim minyak Timur Tengah ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, bersamaan dengan perebutan Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandebโtitik strategis yang mengontrol pintu masuk Laut Merah.
Sejumlah pedagang dan pembeli minyak Saudi memperkirakan Riyadh masih bisa mempertahankan ekspor hingga sepekan ke depan dengan mengandalkan persediaan di Yanbu. Namun, setelah periode itu terlampaui, sekitar 4% dari total pasokan minyak dunia berpotensi tergangguโdi luar jutaan barel per hari yang sudah hilang akibat terhambatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ketidakpastian makin dalam karena Arab Saudi belum mengungkap tingkat kerusakan pipa maupun estimasi waktu perbaikan. Sumber-sumber yang dikutip Reuters memberikan rentang perkiraan yang lebar, dari hitungan hari hingga beberapa pekan. Citra satelit menunjukkan kepulan asap tebal masih membubung di beberapa titik sepanjang jalur pipa.
Situasi di lapangan kian rumit dengan insiden maritim di Selat Hormuz. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal terkena proyektil pada Minggu (13/9/2026), memicu kebakaran dan memaksa evakuasi seluruh awak. Iran juga mengonfirmasi satu orang tewas dan empat awak luka setelah kapal komersialnya diserang di lepas pantainya.
Di Provinsi Jazan, Arab Saudi selatan, media pemerintah menayangkan rekaman kerusakan rumah dan masjid akibat serangan lintas batas. Houthi secara terpisah mengklaim telah menyerang pangkalan militer Saudi di provinsi tetangga. Peringatan serangan di kota-kota selatan Saudi dilaporkan berlangsung rutin sejak pekan lalu.
"Kami tetap berkomitmen untuk mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami," tulis Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi dalam unggahan di X, mengomentari penundaan pertemuan regional.
Upaya diplomasi pun menemui jalan buntu. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk di Oman yang sedianya digelar Senin (14/9/2026) ditunda "demi kepentingan konsensus". Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi tuntutan mereka, meskipun telah ada kesepakatan dengan Oman.
Di Washington, pemerintahan Donald Trump menghadapi dilema: mendukung sekutu lama Arab Saudi sambil melindungi jalur pelayaran, tanpa terseret ke konflik Yaman yang lebih luas. Tiga sumber Reuters menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah menelepon Trump pada Kamis lalu untuk meminta bantuan militer, namun AS untuk sementara hanya menawarkan dukungan intelijen.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita internasional. Sebagai importir minyak bersih, kenaikan harga mentah global akan langsung menekan defisit neraca perdagangan dan memperlebar subsidi energi dalam APBN. Pemerintah mungkin perlu menyesuaikan asumsi harga minyak dalam anggaran, sementara konsumen menghadapi risiko kenaikan harga BBM nonsubsidi dan biaya logistik yang merembet ke harga pangan.
Jika gangguan pasokan berlanjut lebih dari sepekan, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi domestik bisa meningkat, memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menahan aliran modal keluar. Sektor-sektor padat energi seperti transportasi, petrokimia, dan manufaktur akan menjadi yang paling rentan.
Pertanyaannya kini: berapa lama stok penyangga Arab Saudi mampu menahan gejolak pasar, dan apakah diplomasi regional dapat menemukan titik temu sebelum krisis pasokan benar-benar meluas?



