Dua Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Dirujuk ke RSCM, Sorotan Kualitas Program Makan Bergizi
Baca dalam 60 detik
- Dua pelajar dari Karo, Sumatera Utara, yang diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipindahkan ke RSCM Jakarta untuk perawatan intensif.
- Rujukan ini mencuat setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi para korban, sementara Dinas Kesehatan Sumut membantah kabar kehilangan memori 70 persen.
- Kasus ini menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok dan pengawasan higiene dalam program MBG yang berskala nasional.

Dua siswa korban dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Keputusan ini diambil setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau kondisi mereka pada Jumat (11/9/2026) lalu.
Kedua pasien, Febiona Purba dan Agnesia Paruliana br Silitonga, sebelumnya dirawat di dua rumah sakit berbeda di Berastagi. Rujukan ke RSCM menjadi langkah lanjutan untuk memastikan perawatan intensif, mengingat gejala yang dialami tidak ringan. Pihak RSCM membenarkan bahwa keduanya telah diterima dan sedang ditangani, meski enggan memerinci kondisi terkini dengan alasan privasi pasien.
Kabar tentang hilangnya 70 persen ingatan salah satu korban sempat mencuat dan menjadi perhatian publik. Namun, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Faisal Hasrimy, membantahnya. Menurutnya, penurunan daya ingat yang dialami Febiona bersifat sementara akibat rasa sakit hebat saat awal sadar. Pemeriksaan electroencephalography (EEG) di RSU Haji Medan dan RSUP H Adam Malik menunjukkan fungsi otak normal.
Meski demikian, keputusan merujuk korban ke RSCM menandakan bahwa pemerintah ingin memberikan jaminan medis terbaik. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa kasus keracunan dalam program MBG tidak bisa dianggap enteng. Program MBG sendiri merupakan inisiatif prioritas yang menyasar jutaan siswa di seluruh Indonesia, dengan anggaran besar dan rantai pasok yang kompleks.
"Saat ini kedua pasien sudah diterima dan ditangani oleh RSCM," ujar Humas RSCM, Yogi Friando, tanpa merinci lebih lanjut.
Dari sisi kebijakan, insiden di Karo memunculkan pertanyaan tentang standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Sejumlah pengamat menilai perlu ada audit menyeluruh terhadap dapur-dapur penyedia, mulai dari kebersihan, penyimpanan, hingga distribusi. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap program yang digadang-gadang mampu meningkatkan gizi anak bangsa bisa tergerus.
Bagi para pelaku usaha, khususnya UMKM yang menjadi mitra penyedia makanan, kejadian ini menjadi peringatan akan pentingnya sertifikasi higiene dan pelatihan penanganan pangan. Investor di sektor kesehatan dan pendidikan juga mencermati dampak jangka panjangnya terhadap efektivitas belanja negara. Pemerintah dituntut transparan dalam mengusut penyebab pasti keracunan, apakah berasal dari kontaminasi bahan baku, proses masak, atau distribusi.
Ke depan, publik akan menanti hasil investigasi resmi dan langkah perbaikan konkret. Apakah pemerintah akan memperketat regulasi dan pengawasan, atau justru mempercepat perluasan program tanpa membenahi akar masalah? Jawabannya akan menentukan keberlanjutan MBG sebagai instrumen peningkatan gizi nasional.



