Gempa Kumamoto: Wanita Lanjut Usia Tewas akibat Sengatan Panas di Dalam Mobil, Korban Jiwa Capai 36 Orang
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan berusia 70-an ditemukan tak bernyawa di dalam mobilnya di Kumamoto, Jepang, diduga akibat heat stroke saat mengungsi dari gempa magnitudo 7,1.
- Bencana panas ekstrem memperparah kondisi pengungsian, dengan hampir 47.000 rumah kekurangan air bersih dan antrean panjang di pom bensin akibat kelangkaan bahan bakar.
- Pemerintah Jepang berjanji meningkatkan kondisi tempat penampungan, sementara operasi pencarian di pusat perbelanjaan Aeon Mall yang runtuh akibat ledakan gas telah dihentikan dengan total 12 korban ditemukan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada pekan lalu menelan korban jiwa baru: seorang perempuan lanjut usia ditemukan tewas di dalam mobilnya dengan dugaan kuat terkena sengatan panas. Peristiwa ini menjadi ironi di tengah upaya penyelamatan, sekaligus menggarisbawahi ancaman ganda yang dihadapi para pengungsi: gempa dan cuaca ekstrem.
Perempuan berusia 70-an itu ditemukan pada Kamis lalu di dalam kendaraannya yang kehabisan bahan bakar, menurut laporan NHK. Gubernur Kumamoto, Takashi Kimura, menyebut kematian ini sebagai peristiwa yang memilukan. Ia mendesak para pengungsi yang memilih bertahan di dalam mobil untuk memastikan kendaraan mereka selalu terisi bahan bakar agar pendingin udara dapat beroperasi, atau mempertimbangkan pindah ke pusat evakuasi yang memiliki AC.
Kekhawatiran akan penyakit terkait panas memang sudah disuarakan para ahli sejak awal. Data Badan Meteorologi Jepang mencatat suhu di Kota Kumamoto mencapai 36,6 derajat Celsius pada Sabtu, dan diperkirakan bisa lebih tinggi lagi pada Minggu. Kondisi ini memaksa otoritas setempat membagikan selebaran kepada para pengungsi yang tinggal di mobil, mengingatkan mereka untuk berlindung di tempat sejuk, minum cukup cairan, dan rutin bergerak untuk mencegah risiko penggumpalan darah.
Lebih dari 9.000 orang masih bertahan di tempat penampungan yang padat, seperti pusat komunitas, gedung sekolah, dan ruang kelas, banyak di antaranya tanpa pendingin udara. Sebagian lainnya memilih tidur di mobil yang diparkir di halaman balai kota atau taman demi privasi. Namun, kelangkaan bahan bakar membuat antrean panjang terjadi di pom bensin yang mulai beroperasi kembali. Selain itu, hampir 47.000 rumah masih belum mendapatkan pasokan air bersih, menjadi tantangan utama yang dihadapi prefektur.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, dalam rapat satuan tugas pemerintah pada Sabtu, menyatakan bahwa air, makanan, toilet portabel, AC, dan partisi sedang didistribusikan untuk memperbaiki kondisi di pusat evakuasi. “Pemerintah bertekad melakukan semua yang kami bisa,” ujarnya. Namun, para kritikus telah lama menyoroti kondisi darurat yang padat di Jepang, yang dinilai menambah stres dan risiko kesehatan bagi para penyintas bencana.
Operasi pencarian dan penyelamatan di Aeon Mall Kashima, salah satu lokasi terparah, resmi diakhiri pada Sabtu setelah tim gabungan berhasil mengevakuasi lima orang dan menemukan tujuh jenazah. Ledakan yang diduga berasal dari kebocoran gas terjadi setelah sekitar 3.000 pengunjung dievakuasi ke area parkir, namun sejumlah karyawan masih berada di dalam gedung. Lantai dua mal tersebut runtuh akibat ledakan.
Di lokasi lain, cerobong asap pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro runtuh dan menjebak 11 karyawan. Sembilan di antaranya dipastikan tewas, sementara dua lainnya berhasil diselamatkan. Jumlah orang hilang secara keseluruhan di prefektur tersebut masih belum diketahui, dan ribuan personel Pasukan Bela Diri, polisi, serta petugas penyelamat dengan anjing pelacak terus dikerahkan. Takaichi menginstruksikan agar tidak ada satu pun yang tertinggal.
Bencana ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan rawan gempa. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa penanganan pascagempa tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga mitigasi risiko sekunder seperti sengatan panas dan krisis logistik. Dengan musim kemarau yang kerap memicu suhu ekstrem di sebagian wilayah Indonesia, kesiapsiagaan terhadap bencana ganda—gempa dan cuaca panas—menjadi relevan untuk dikaji dalam sistem penanggulangan bencana nasional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Jepang akan memperbaiki standar tempat penampungan darurat agar lebih manusiawi dan adaptif terhadap perubahan iklim. Apakah tragedi di Kumamoto akan mendorong reformasi kebijakan evakuasi yang selama ini dikritik, atau justru menjadi catatan kelam yang berulang?



