Franco Baresi Meninggal di Usia 66: Legenda AC Milan yang Mengubah Wajah Pertahanan Modern
Baca dalam 60 detik
- Franco Baresi, bek legendaris AC Milan, tutup usia pada 66 tahun setelah menjalani operasi paru-paru pada Agustus 2025.
- Sepanjang 20 tahun membela Rossoneri, ia mempersembahkan enam gelar Serie A dan tiga trofi Eropa, sekaligus menjadi kapten selama 15 musim.
- Kepergian Baresi meninggalkan warisan besar bagi sepak bola Italia dan dunia, dengan nomor punggung 6 yang dipensiunkan Milan sebagai penghormatan abadi.

Franco Baresi, salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola dunia, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Kabar duka ini diumumkan langsung oleh AC Milan, klub yang membesarkan namanya, melalui pernyataan resmi yang menyebut bahwa "teladan dan integritas" sang legenda akan selamanya terukir dalam DNA klub. Kepergian Baresi menjadi kehilangan besar tidak hanya bagi Milanisti, tetapi juga bagi pecinta sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang memiliki basis penggemar Serie A yang besar.
Baresi menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan, bergabung pada 1977 dan bertahan hingga pensiun pada 1997. Selama dua dekade tersebut, ia berhasil mempersembahkan enam gelar Serie A dan tiga trofi Liga Champions/Eropa. Namun, pencapaiannya tidak berhenti di situ. Sebagai kapten tim selama 15 musim, Baresi mencatatkan 719 penampilan dan 33 gol, sebuah rekor yang menunjukkan konsistensi dan dedikasinya yang luar biasa di lapangan hijau.
Di level internasional, Baresi juga menjadi pilar penting tim nasional Italia. Dengan 81 caps, ia turut membawa Gli Azzurri menjuarai Piala Dunia 1982 dan menjadi finalis pada 1994, meski harus mengakui keunggulan Brasil. Kemampuannya membaca permainan dan ketenangannya dalam mengatur lini belakang menjadikannya panutan bagi banyak bek generasi berikutnya, termasuk di Indonesia yang kerap menjadikan pemain-pemain Italia sebagai referensi taktik.
Setelah pensiun, Baresi tetap dekat dengan AC Milan. Pada 2020, ia diangkat sebagai wakil presiden kehormatan, dan empat tahun kemudian, klub memutuskan untuk memensiunkan nomor punggung 6 yang identik dengan dirinya. Penghormatan ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh Baresi, tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai simbol loyalitas dan profesionalisme.
Kabar meninggalnya Baresi tentu membawa duka mendalam, terutama karena ia baru saja menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru pada Agustus 2025. Penampilan publik terakhirnya terjadi pada Februari lalu, saat menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di San Siro. Kondisi kesehatannya yang menurun menjadi perhatian banyak pihak, dan kini dunia sepak bola kehilangan salah satu ikon terbaiknya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kepergian Baresi mengingatkan pada era kejayaan Serie A yang banyak ditonton di tanah air. Gaya bermainnya yang bersih, cerdas, dan penuh komitmen menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda. Meski sosoknya telah tiada, warisan Baresi akan terus hidup melalui setiap generasi yang mempelajari sejarah sepak bola. Pertanyaannya, akankah ada lagi bek dengan dedikasi dan kualitas seperti Baresi di masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu yang terbaik.



