Mantan Bintang Real Madrid dan Barcelona Kenang Gol Bersejarah di Piala Dunia U-17 1991: Fondasi Kejayaan Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Dani García Lara, pencetak gol pertama Spanyol di Piala Dunia U-17, menilai turnamen junior kini jauh lebih diperhatikan ketimbang era 1990-an.
- Kesuksesan tim senior Spanyol saat ini, menurutnya, lebih karena perubahan mentalitas pasca-EURO 2008 daripada peningkatan kualitas teknis pemain.
- Spanyol, yang empat kali runner-up Piala Dunia U-17, berambisi memutus puasa gelar di Qatar tahun ini.

Dani García Lara, mantan penyerang Real Madrid dan Barcelona, mengenang momen bersejarah ketika mencetak gol pertama Spanyol di Piala Dunia U-17 pada 1991. Baginya, turnamen tersebut menjadi fondasi dari era keemasan sepak bola Spanyol yang kini mendominasi panggung dunia. Di tengah ambisi La Rojita—julukan tim U-17 Spanyol—untuk meraih gelar perdana di Qatar, refleksi Lara menegaskan bahwa kesuksesan tim senior saat ini tidak lepas dari perjalanan panjang yang dimulai dari level junior.
Spanyol, yang telah dua kali menjadi juara dunia senior, belum pernah sekalipun mengangkat trofi Piala Dunia U-17. Catatan mereka di turnamen ini memang impresif: empat kali runner-up (1991, 2003, 2007, 2017) dan dua kali peringkat ketiga (1997, 2009). Namun, gelar juara selalu menjadi mimpi yang belum terwujud. Pada 2017, nama-nama seperti Ferran Torres dan Eric Garcia sudah tampil, tetapi langkah mereka terhenti di final. Kini, dengan skuad bertabur bakat muda, Spanyol bertekad mengubah sejarah di Qatar.
Kisah Lara bermula dari pinggiran Barcelona, tempat ia tumbuh dan kemudian menembus tim nasional U-17. Ia masih ingat betapa cemasnya menunggu pengumuman skuad, dan betapa bahagianya saat namanya dipanggil. "Kami masih anak-anak, tapi kami tahu ini Piala Dunia, sesuatu yang istimewa," ujarnya. Di turnamen 1991, ia menjadi pahlawan kemenangan 1-0 atas Uruguay di laga pembuka, hanya semenit setelah masuk sebagai pemain pengganti. Tanpa ponsel, ia harus menunggu kembali ke hotel untuk memberi tahu orang tuanya lewat telepon.
Perjalanan Spanyol di turnamen itu luar biasa: setelah menjadi juara Eropa U-16, mereka melaju hingga final dengan mengalahkan Jerman dan Argentina—yang saat itu diperkuat Marcelo Gallardo dan Juan Sebastián Verón—sebelum takluk 0-1 dari Ghana di Florence. Lara mengakui bahwa Ghana jauh lebih kuat, dan pelatihnya saat itu sudah mewanti-wanti bahwa sepak bola Afrika akan menjadi kekuatan besar. "Meski skornya tipis, saya rasa kami tidak pernah benar-benar punya peluang," kenangnya.
Lara juga menyoroti perubahan besar dalam perhatian terhadap turnamen junior. "Dulu, banyak orang bahkan tidak tahu kami sedang bermain. Sekarang, jika menang atau jadi runner-up di turnamen junior, semua orang tahu dan sambutannya luar biasa," katanya. Ia menilai turnamen seperti Piala Dunia U-17 sangat vital bagi perkembangan pemain, dan popularitasnya kini jauh lebih besar dibanding era 1990-an.
Lebih jauh, Lara menggarisbawahi bahwa transformasi sepak bola Spanyol dalam dua dekade terakhir bukan hanya soal taktik atau teknik, melainkan perubahan mentalitas. Ia mengingat masa-masa ketika tim senior selalu gagal di babak gugur, meski memiliki generasi emas. "EURO 2008 adalah titik balik. Itu menghancurkan hambatan mental yang selama ini membebani kami," jelasnya. Kini, Spanyol menjadi negara pertama yang memegang gelar Piala Dunia putra dan putri secara bersamaan, sebuah pencapaian yang menurut Lara berakar dari keberhasilan di level junior.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan dengan perkembangan sepak bola usia muda. Meski prestasi timnas senior masih jauh dari level Spanyol, konsistensi pembinaan usia dini menjadi pelajaran berharga. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia dan dunia, investasi pada turnamen junior dan perubahan mentalitas pemain adalah kunci. Pertanyaan yang muncul: apakah PSSI dan klub-klub Indonesia mampu membangun fondasi serupa, atau justru terus mengabaikan pembinaan jangka panjang?



