Album Terakhir Soundgarden: Delapan Lagu dengan Vokal Chris Cornell Hampir Rampung
Baca dalam 60 detik
- Drummer Soundgarden, Matt Cameron, memastikan album baru berisi delapan trek vokal mendiang Chris Cornell memasuki tahap akhir mixing.
- Proses produksi yang panjang ini menjadi penutup emosional atas warisan musik grunge yang ditinggalkan Cornell sejak 2017.
- Rilisan album ini dinanti sebagai kado bagi penggemar lama sekaligus potensi memperkenalkan Soundgarden ke generasi baru pendengar.

Drummer Soundgarden, Matt Cameron, mengonfirmasi bahwa album baru band tersebut yang memuat delapan lagu dengan vokal mendiang Chris Cornell telah memasuki tahap akhir produksi. Pernyataan ini mengakhiri penantian panjang para penggemar yang selama bertahun-tahun menanti karya terakhir dari salah satu ikon grunge itu.
Dalam wawancaranya di podcast Let There Be Talk, Cameron mengungkapkan bahwa proses mixing menjadi langkah terakhir sebelum album dirilis. "Kami hanya mencoba menyelesaikan mixing, melewati garis akhir, dan semoga setelah itu kami punya gambaran lebih jelas tentang langkah berikutnya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa perjalanan menuju titik ini terasa panjang, mengingat materi rekaman telah dibuat sebelum Cornell meninggal dunia pada 18 Mei 2017.
Selain delapan lagu bernyanyi, Cameron menyebut masih ada beberapa trek instrumental yang ingin digarap oleh gitaris Kim Thayil. "Kami punya sisa instrumental yang ingin digarap Kim. Mungkin kami akan membuat materi baru bersama, itu tidak masalah bagiku," katanya. Ini mengindikasikan bahwa album tersebut tidak hanya menjadi penutup era Cornell, tetapi juga membuka peluang bagi Soundgarden untuk terus berkarya.
Kabar ini melengkapi pengakuan bassis Ben Shepherd pada peringatan delapan tahun wafatnya Cornell tahun lalu. Saat itu, Shepherd mengungkapkan bahwa album yang belum diberi judul tersebut sedang dalam pengerjaan dan berpotensi dirilis di masa depan. Dalam unggahan Instagram-nya, ia menulis tentang perasaan haru saat mendengar kembali suara Cornell, terutama pada lagu "The Road Less Traveled" yang ia tulis bersama Cameron. "Mendengar suara Chris membantu, aku tahu dia melakukan itu untuk semua orang yang dia kenal," tulisnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, album ini bukan sekadar rilisan nostalgia. Soundgarden memiliki tempat khusus di hati para penikmat musik rock dan grunge di tanah air, yang kerap mengikuti perkembangan band-band era 90-an. Kehadiran album baru ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal karya-karya Cornell, sekaligus menghidupkan kembali diskografi lama yang mungkin belum mereka eksplorasi.
Secara industri, rilisan anumerta seperti ini sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memenuhi dahaga penggemar akan materi baru; di sisi lain, ada risiko eksploitasi warisan sang musisi. Namun, Cameron dan rekan-rekannya tampak berhati-hati dengan menyebut proses yang panjang dan penuh pertimbangan. Mereka tidak terburu-buru, justru memastikan kualitas dan rasa hormat terhadap karya Cornell tetap terjaga.
Dari perspektif pasar musik global, album ini berpotensi menjadi salah satu rilisan rock paling dinanti tahun ini. Dengan basis penggemar yang tersebar luas, termasuk di Asia Tenggara, Soundgarden bisa kembali masuk ke tangga lagu dan memperkenalkan musik mereka kepada pendengar yang lebih muda. Apakah album ini akan menjadi penutup yang layak bagi karier Cornell, atau justru membuka babak baru bagi Soundgarden? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: suara Cornell akan terus bergema.



