Nirmal Purja, Pendaki Legendaris yang Hilang di Broad Peak: Antara Rekor dan Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Pendaki asal Nepal-Inggris, Nirmal Purja, dilaporkan hilang bersama sembilan pendaki lain setelah longsoran salju melanda Broad Peak di Pakistan.
- Purja dikenal karena memecahkan rekor pendakian 14 gunung tertinggi dunia dalam enam bulan enam hari pada 2019, sebuah pencapaian yang menginspirasi banyak orang.
- Di balik reputasinya, Purja juga menghadapi tuduhan pelecehan seksual yang ia bantah, menambah kompleksitas sosoknya di mata publik.

Longsoran salju yang menerjang Broad Peak, gunung setinggi 8.047 meter di wilayah Gilgit-Baltistan, Pakistan, pada Kamis lalu, menyeret nama Nirmal Purja ke dalam daftar pendaki yang hilang. Pria 43 tahun yang dikenal dengan julukan Nims Dai itu bukan sekadar pendaki biasa; ia adalah pemegang rekor dunia pendakian 14 puncak tertinggi di dunia dalam waktu tercepat. Operasi pencarian masih berlangsung, tetapi kabar ini mengguncang komunitas pendaki global, termasuk di Indonesia yang memiliki banyak penggemar olahraga ekstrem ini.
Purja lahir di desa kecil di Distrik Myagdi, Nepal, yang terletak sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Ia berasal dari keluarga Gurkha, tentara legendaris Nepal yang telah mengabdi di Angkatan Darat Inggris selama lebih dari dua abad. Mengikuti jejak ayah dan kakak-kakaknya, Purja bergabung dengan militer Inggris pada 2003 di usia 18 tahun, dan menjadi Royal Marine pada 2009. Selama 16 tahun berkarier di militer, ia mengembangkan minat pada pendakian gunung, yang kemudian mengubah hidupnya.
Ketertarikannya pada pendakian dimulai secara spontan pada 2012 ketika ia berjalan ke base camp Everest dan memutuskan untuk belajar mendaki "sungguhan" alih-alih kembali ke Kathmandu. Puncak pertamanya adalah Lobuche East setinggi 6.119 meter. Semangat petualangan inilah yang membawanya pada misi ambisius Project Possible pada 2019, ketika ia menaklukkan 14 puncak delapan ribuan dalam enam bulan enam hari, memecahkan rekor sebelumnya yang hampir delapan tahun. Pencapaian ini diabadikan dalam film dokumenter "14 Peaks: Nothing is Impossible" yang tayang di Netflix dan menginspirasi banyak orang, termasuk para pendaki Indonesia yang kerap mengejar puncak-puncak tinggi di Himalaya.
Namun, di balik kejayaannya, Purja juga dihadapkan pada kritik dan tuduhan serius. Pada 2024, The New York Times memberitakan tuduhan pelecehan seksual yang dilayangkan dua perempuan terhadapnya. Salah satu tuduhan menyebut Purja menyerang korban di kamar hotel pada 2023, sementara tuduhan lain menyebut ia meraba dan mengajak korban saat memandu ekspedisi di K2 pada 2022. Purja membantah semua tuduhan tersebut melalui pengacaranya. Kontroversi ini menambah sisi gelap dari sosok yang selama ini dipuja sebagai pahlawan pendakian.
Bagi Indonesia, berita ini relevan karena komunitas pendaki tanah air cukup aktif di kancah internasional. Banyak pendaki Indonesia yang bermimpi menaklukkan puncak-puncak delapan ribuan, dan Purja adalah salah satu inspirasi utama. Selain itu, isu keselamatan pendakian di pegunungan tinggi semakin mengemuka, terutama setelah insiden longsor ini. Hal ini menjadi pengingat bahwa di balik keindahan dan prestise mendaki gunung tertinggi, risiko maut selalu mengintai.
Dalam unggahan terakhirnya di X (sebelumnya Twitter) pada Senin lalu, Purja mengaku awalnya tidak berencana mendaki Broad Peak. Rencana awalnya hanya Gasherbrum II, tetapi ia menyadari bahwa jika berhasil menaklukkan Broad Peak, ia akan menjadi orang pertama dalam sejarah yang mendaki semua 14 delapan ribuan dua kali tanpa oksigen tambahan. "Ini tidak direncanakan," tulisnya. "Tetapi peluang tidak berteriak; mereka berbisik kepada mereka yang bekerja dalam diam." Ia juga menulis, "Broad Peak, aku hanya meminta jalan yang aman untuk naik dan turun. Aku tidak menganggap remeh gunung mana pun."
Perjalanan karier Purja tidak lepas dari pengorbanan. Untuk mendanai ekspedisi Project Possible, ia harus menggadaikan rumahnya. Ia juga dikenal sebagai sosok yang humoris dan suka berpesta, bahkan sempat mendaki dalam keadaan mabuk. Namun, di balik itu, ia juga vokal memperjuangkan pengakuan bagi pemandu gunung Nepal yang sering kali tidak mendapat kredit yang layak. Dalam unggahan terakhirnya, ia berterima kasih kepada semua pendukung dan kritikusnya, "Tanpa keduanya, tidak ada api. Jadi terima kasih dengan tulus."
Kini, dunia menanti kabar dari tim pencari di Broad Peak. Akankah keajaiban menyelamatkan Nirmal Purja? Atau akankah ini menjadi akhir dari perjalanan seorang legenda? Yang jelas, insiden ini kembali mengingatkan kita bahwa gunung tidak pernah bisa ditaklukkan sepenuhnya; manusia hanyalah tamu yang harus selalu waspada.



